Satu Pelaku Tawuran di Kawasan Pasar Turi Tertangkap

Barang bukti berupa celurit dan parang, yang diduga sebagai alat tawuran antar kelompok. Sp/septyan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Polrestabes Surabaya akhirnya berhasil salah satu pelaku tawuran di Jalan Tembaan yang mengakibatkan seorang remaja 16 tahun tewas bersimbah darah pada Jum’at (27/11/2020) kemarin.

Namun, Polrestabes Surabaya masih enggan membeberkan identitas pelaku yang diduga sebagai orang yang membunuh remaja 16 tahun.

“Saat ini masih kita dalami. Jadi, untuk detail dan identitas pelaku, belum bisa kita jelaskan sekarang. Tunggu saja, karena penyelidikan masih berlangsung,” jelas Wakapolrestabes Surabaya AKBP Hartoyo, Minggu (29/11/2020).

Ia menyebut, pelaku diduga berjumlah lebih dari satu orang dan pihaknya saat ini masih memburu para pelaku lainnya.

“Pelaku kemungkinan lebih dari satu. Pelaku lain sedang kami buru. Maka itu kita sedang dalami pada satu pelaku yang sudah kami amankan,” tambah Hartoyo.

Masih kata Hartoyo, pelaku diamankan pada Sabtu (28/11) malam, bukan dari geng motor. Namun hanya kelompok para pemuda antar wilayah.  “Tidak ada geng motor itu, jadi kelompok-kelompok pemuda yang tawuran,” ungkap Hartoyo.

Sebelum seorang pelaku tertangkap, pasca peristiwa berdarah itu terjadi, anggota melakukan penyelidikan dengan operasi cyber. Hasilnya, anggota berhasil memantau beberapa akun yang mengupload kejadian tawuran di Surabaya.

“Sudah termonitor (patroli cyber). Termasuk yang ikut-ikut upload kami mintai keterangan,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang remaja bernama Maulana Ramadhan (16) ditemukan tewas bersimbah darah di Jalan Tembaan, tepatnya di depan Kantor Bank Nasional Indonesia (BNI) pada Jum’at (27/11) pagi sekitar pukul 04.53 WIB.

Remaja tersebut diduga menjadi korban tawuran dua kelompok remaja.

Fadilah (25) warga Kelurahan Krembangan, Kecamatan Krembangan, melihat langsung bentrokan tersebut. Bahkan, dirinya mengaku ketakutan karena puluhan anak yang terlibat perkelahian ini membawa senjata tajam celurit dan parang.

“Karena banyak orang teriak dan bawa sajam akhirnya saya balik. Saya takut dan lari secepat mungkin. Soalnya kelompok itu meneriaki orang yang mau ke pasar agar tidak melihat,” katanya.

Sembari ketakutan dan nafas ngos-ngosan, Fadilah melihat sejumlah anak membawa banyak senjata tajam. Tak tanggung-tanggung sajam yang dibawa panjangnya mencapai satu meter. Setiap anak membawa satu sajam dan nampak lari kencang.

“Nggak tahu. Awalnya saya mengira sedang dikejar anak-anak itu. Makanya aku langsung masuk rumah dan tutup pintu. Jarak rumah dan Pasar Turi juga gak jauh paling 100 meter. Karena takut saya intip dari gorden. Dari situ terlihat anak-anak lari di depan rumah saya,” ujarnya. tyn/ham