Vaksin Nusantara, Produk Anak Bangsa Indonesia (1)

Saya Anak Indonesia, Bangga dengan Terobosan dr. Terawan

Dr. H. Tatang Istiawan

 

Vaksin Nusantara, Produk Anak Bangsa Indonesia (1)

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya ini anak asli Indonesia, bukan anak blasteran Indonesia-China, Indonesia-Arab, Indonesia-Belanda, Indonesia-Yaman atau Indonesia-Amerika.

Karenanya saya bangga dengan produk dalam negeri. Termasuk produk kesehatan. Bagi saya produk kesehatan terkait kemanusiaan.

Apalagi kini saya didata pengurus RT-RW tempat tinggal saya untuk menjalani vaksin gratis. Juga organisasi profesi saya bernaung (PWI), juga menerima pendaftaran vaksin covid-19. Semuanya untuk lansia. Maklum usia saya sudah memasuki umur 65 Tahun. Dan komorbid.

Saya bersama empat wartawan senior seusia, berdiskusi, mau mendaftar vaksin sekarang, dengan Sinovac atau nunggu vaksin Nusantara, yang diperkirakan bulan Juni-Juli 2021. Saya bersama rekan yang seorang profesor ilmu komunikasi, bertukar pikiran. Si Profesor yang termasuk komorbid, memilih tidak vaksin, alasannya tak memiliki keberanian seperti lansia mengidap komorbid dari Selandia baru.

Saya Minggu siang kemarin diskusi dengan istri, tentang tawaran vaksin gratis Sinovac dari RT-RW. Saya bilang isi saja form vaksin dan dikirim. Tulis komorbid kita. Ini taktik saya menolak halus di vaksin dari RT-RW. Saya bilang, belum tentu bulan Juni 2021 dapat giliran vaksin. Alasan saya, biasa pekerjaan birokrat pasti lamban. Apalagi layani lansia komorbid dari RT-RW.

 

***

 

Saya Minggu siang kemarin menghubungi dokter pribadi saya yang berpraktik di RS Mitra Keluarga, Surabaya. Saya tanya, apakah menurut ilmu kedokteran, vaksin corona itu wajib atau sukarela.

Ia memberi jawaban saya melalui pesan singkat menggunakan WA. Pesannya “Amnesty International Indonesia mengecam pernyataan Wakil Menteri Hukum dan HAM Eddy Hiariej, yang menyatakan bahwa warga yang menolak ikut program vaksinasi Covid-19 pemerintah, dapat dijerat hukum pidana. Amnesty menilai hal tersebut adalah bentuk pelanggaran HAM.”

Saya berpikir seorang dokter saja menggunakan akal sehat hukum. Ini bisa jadi tak ada rujukan medik soal penetrasi vaksin ke pasien (publik). Jadi dokter ini setuju tak boleh memaksa orang di vaksin.

Ini mengingatkan saya saat rawat inap di rumah sakit. Dokter menjamin hak setiap pasien untuk memberikan persetujuan dan tanpa paksaan sedikitpun sebelum dilakukan suntik, apalagi vaksinasi pandemi. Aturan yang saya baca, dokter dan rumah sakit wajib mengupayakan proses vaksinasi dilakukan secara sukarela, bukan paksaan.

Makanya saya akan menunggu vaksin nusantara buatan putra-putri Bangsa Indonesia.

 

***

 

Saya berharap tim peneliti vaksin Nusantara bisa segera merampungkan tahap uji klinis fase dua. Ini untuk meyakinkan publik Indonesia yang berharap vaksin anti-Covid-19 “Nusantara” bahwa vaksin ini memang kebanggaan orang Indonesia. Maklum, sampai kini pemerintah Indonesia masih impor vaksin.

Uji klinik tahap pertama di RSUP dr. Kariadi, Semarang, diidentifikasi untuk mengetahui keamanan vaksin. Tahap ini telah selesai dilaksanakan pada akhir Januari 2021 dengan hasil baik. Dalam paparan di depan BPOM di Semarang, minggu lalu tak ada keluhan berat yang dirasakan 27 sukarelawan vaksin.

Dan menurut tim peneliti, uji klinis fase dua ini fokus untuk menentukan efektivitas vaksin. Uji ini menggunakan 180 sukarelawan. Baru kemudian memasuki uji klinis fase tiga. Fase tiga ini untuk menentukan pengaturan dosis. Fase tiga menggunakan 1.600 sukarelawan vaksin.

Saya tidak tahu berapa miliar perusahaan farmasi ini menyediakan dana pembuatan vaksin nusantara dari pra-uji klinis sampai produksi vaksin.

Tapi Uni Eropa (UE) mengatakan sudah menyediakan 2,7 miliar euro untuk mempercepat penelitian vaksin dan kapasitas produksi vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Sebagai awam, saya kagum ada pengusaha farmasi dan dokter serta peneliti Indonesia mau mengembangkan vaksin berbasis sel dendritik autolog yang merupakan komponen dari sel darah putih.

Padahal, selama ini, teknologi sel dendritik masih dilakukan untuk pengobatan kanker melalui teknik rekombinan dengan mengambil sel. Ini dikembangkan di luar tubuh, sehingga dengan teknik tersebut, dapat dihasilkan vaksin. Beberapa teman saya yang pernah kuliah di fakultas kedokteran, mengenali sel dendritik adalah sel imun.

Sel ini menjadi bagian dari sistem imun, di mana proses pengembangbiakan vaksin COVID-19 dengan sel dendritik dapat membentuk antigen khusus. Kemudian membentuk antibodi.

Metode ini oleh teman dokter disebut pembibitan sel. Tujuannya memproduksi antibodi dalam tubuh. Proses ini dapat ditunggu sekitar tiga hari. Dan setelah itu sel dendritik disuntikkan kembali ke tubuh. Luar biasa. Ini terobosan bidang kedokteran dan farmasi di Indonesia.

Kelak keberhasilan tim peneliti vaksin corona Indonesia dari Universitas Diponegoro dan UGM Jogja yang menggunakan sel dendritik bisa menoreh sejarah baru, bukan hanya di Indonesia tapi di dunia. Mengingat sejarah juga telah membuktikan bahwa berbagai inovasi terdepan di dunia lahir dari Universitas. Beberapa penemuan bidang kedokteran yang mengubah sejarah hidup di dunia, tercatat lahir dari Universitas. Sebagai contoh: Penicillin oleh Howard Florey dari University of Oxford tahun 1939, penemuan tes Pap oleh Nicolas Papanicolaou dari Cornell University tahun 1939, penemuan alat Ultrasonografi oleh Ian Donald dari University of Glasgow tahun 1958, penemuan LCD oleh James Fergason dari Kent State University tahun 1967, penemuan MRI oleh Paul Laterbur dari University of New York tahun 1970 dan penemuan teknologi DNA rekombinan oleh Stanley Cohen dari UCLA tahun 1974.

Dokter Terawan, saat ini memang baru dalam tahap awal meneliti vaksin nusantara. Vaksin ini masih dikembangkan uji klinis tahap dua dan tiga.

Terobosan ini mengingatkan kasus cuci otak untuk menyembuhkan pasien stroke. Metode yang dikembangkan Terawan, ini oleh kalangan dokter dikenal dengan nama Digital Substraction Angiography (DSA). Berdasarkan pengalaman Terawan, pasien stroke bisa sembuh dari stroke selang 4-5 jam pasca-operasi. Metode pengobatan ini disebutnya telah diterapkan di Jerman dengan nama paten 'Terawan Theory'.

Ironisnya, Letjen (Purn) dr Terawan Agus Putranto, sebagai anggota IDI dianggap melakukan pelanggaran etik berat. dr Terawan dianggap tidak mengikuti pedoman yang diberikan IDI dalam praktik pengobatannya. Ia dipecat dari IDI.

Tapi menurut Guru Besar Universitas Hassanudin, Prof. Irawan Yusuf, promotor gelar doktor Terawan, menyebut Terawan dicatat sudah pernah bikin terobosan di bidang kedokteran. Maklum di dalam dunia teknologi kedokteran , hampir semua yang membuat terobosan selalu melahirkan yang namanya kontroversi. Dan kontroversi yang hadir itu harus diselesaikan dengan riset yang tentunya memerlukan waktu yang panjang.

Halo Pak Terawan, ingat pesan Prof Irawan Yunus. Apakah vaksin Nusantara kontoversi? Ya memang pembuatan vaksin nusantara saat ini adalah sebuah terobosan untuk sembuhkan manusia dari penularan covid-19. Sampai kini belum ada dokter Indonesia yang peduli bikin vaksin Indonesia. Saya anak Indonesia bangga dengan terobosan dr. Terawan.

Mari kita suport terobosan Terawan untuk kemanusiaan, untuk jutaan warga Indonesia sekaligus penghematan pembelian vaksin impor yang efektivitasnya juga masih diragukan seperti vaksin Moderna, yang di stop di California, karena punya efek alergi sangat serius . ([email protected], bersambung)