Memotret Perselisihan Investor dan Pedagang Pasar

Secara Cingli (Jujur dan Adil), Investor Sebenarnya Sudah Tiada

 
 
Tahun 2010, yang dianggap investor Pembangunan Pasar Turi Baru (PTB) adalah PT Gala Bumi Perkasa (PT GBP).
Kini tahun 2022, eksistensi perseroan itu layak dipertanyakan. Terutama dari aspek integritas bisnisnya. Dan dari sudutpandang bisnis kalangan orang -orang tionghoa yaitu prinsip cingli, cuan dan cincai, Cenliang bisa dianggap pebisnis tak layak ditiru .
Saya mengungkap ini, karena defakto dan dejure, mayoritas pemilik stan menurut catatan pengurus pedagang Pasar turi korban kebakaran, berasal dari etnis China. Menyusul etnis Madura, Jawa, Arab dan Banjar.
Dalam bahasa keuangan, Investor adalah setiap orang atau entitas lain (seperti perusahaan atau reksa dana) yang memberikan modal dengan harapan menerima pengembalian keuangan. Esensinya memberikan modal? Melihat histori dan fakta hukumnya, pedagang mendapat info bos PT GBP ini utang ke Aswi Rp 68 miliar. Dana ini untuk operasional awal. Lalu saat pembangunan gedung, Cenliang mengutip uang dari para pedagang. Ditengah membangun gedung, bos PT GBP, malah gegeran dengan kongsi dan relasinya hingga gugat menggugat di Pengadilan. Sejumlah pemilik stan dari etnis tionghoa menganggap bos PT GBP, tidak termasuk pebisnis cingli. Maka itu, Cenliang layak dinamakan investor PTB.
Saya tertarik dengan anggapan itu. Karena hal yang saya ketahui, salah satu prinsip bisnis orang Tionghoa sukses adalah mengutamakan sifat-sifat cengli. Filosofi Cingli adalah jujur, adil dan transparan.
Dalam bahasa Mandarin, orang Tionghoa sering mencanangkan berbisnis itu dengan 3C yaitu cengli, cuan, dan cincai.
Makna bisnis yang cengli adalah fairness, dan berkemudahan. Filosofi cuan adalah keuntungan lalu cincai artinya mudah atau urusan dipermudah, tidak dipersulit.
Beberapa pedagang tionghoa Pasar Turi menyebut Cenliang, suka cuannya daripada terapkan cingli dan cincai. Makanya, banyak pedagang yang merasa diperas oleh Cenliang almarhum. Diperas dalam penjualan stan PTB. Makanya, selama dalam genggamannya, pengelolaan PTB dilanda kekisruhan.
Termasuk kisruh kongsi dengan peserta Joint Operation Gala Megah Investment.
Adalah Abah Taufik, pedagang Pasar Turi etnis Arab. Ia yang disegani kalangan pedagang etnis Madura dan Jawa menceritakan, pada kurun waktu September 2012, konflik antar kongsi investor mencuat di publik. Cenliang, diduga tergiur melihat animo penjualan stand pasar turi yang luar biasa. Lalu ia memecat wakil kongsi JO Teguh Kinarto, sebagai Dirut PT. GBP. Jabatan ini digantikan dirinya sendiri. Cara seperti ini dianggap sebagai bentuk kudeta kepada kongsi kongsi JO nya di Gala Megah Investment.
Cenliang lalu mengganti Legalitas JO menjadi PT.GBP. Termasuk mendepak keterlibatan investor peserta JO, Totok Lusida dan H. Turino Junaedi. Bahkan ia menontaktifkan rekening JO yang sebelumnya disepakati dan diganti dengan rekening PT.GBP . Akhirnya semua pembayaran dari pembeli stan yang semula ditujukan ke rekening JO, diminta setor ke Rekening PT.GBP. Totok Lusida dan H. Turino Junaedi, yang etnis Tionghoa, merasa di kudeta.
Sejak itu, Henry J Gunawan nama Indonesianya Cenliang, mulai merubah layout PTB. Kesepakatan membangun 6 lantai, ditambah 3 lantai bangunan, sehingga menjadi 9 lantai. Termasuk menghilangkan parkir di setiap lantai. Praktik ini disebut ia memaksakan penambahan stand. Para pedagang protes, karena Cenliang dituding melanggar ketetapan zoning. Pedagang Tionghoa anggap Cenliang abaikan prinsip cengli dan hanya kejar cuan.
Bahkan ia Tega mengurangi spek listrik dari 900 watt ke 125 watt. Termasuk menghilangkan plafond di stand. Praktik tidak cingli ini dianggap merugikan pedagang yang sudah membayar lunas stand nya.
Ironisnya, Cenliang, berani janjikan stand dengan status hak milik strata title.
Nah, sejak kasus ini, kemelut dengan pedagang mulai masuk ke ranah hukum pidana.
Ia Janjikan memberikan strata title atas stand pasar turi agar pedagang bisa ambil kredit di bank. Iming-iming Cenliang, kelak harga jual kembali akan lebih tinggi.
“ Saya ingat sekali, Henry J Gunawan bilang kepada kami, Kalau You..You..ikut saya, saya akan bikin You..You..kaya. Karena saya akan jual pasar turi dengan strata title, dengan strata title mudah ambil kredit di bank, harga jual stand kalian lebih tinggi dan itu bisa kalian jaminkan ke bank”, ungkap Taufik lagi dengan nada yang sedikit emosional.
Ia juga lakukan pungutan biaya sertifikat dan BPHTB ke pedagang.
Cenliang juga buat aturan tata cara pembayaran pelunasan dan peryataan kewajiban melunasi stand sebelum dilakukannya PPJB. Syaratnya bayar max 10 x cicil dengan bunga flat 1% . Ini diluar ketentuan denda keterlambatan yang akan dikenakan kepada pedagang jika telat melunasi sebesar 1,5 % /bulan.
Juga aturan Biaya PPJB dan Sertifikat yakni 1,5 juta untuk biaya PPJB dan Notaris, 10 juta biaya sertifikat dan BPHTB sebesar 5% dari harga stand.
Ia juga buat aturan uang muka akan hangus jika pedagang tidak segera melunasi sebelum PPJB di bulan November 2013. Sejumlah pedagang melakukan pelunasan pembayaran stand termasuk pembayaran biaya sertifikat, BPHTB dan PPN 10%. Praktik semacam ini dianggap Cenliang cari cuan semata, abaikan prinsip cengli dan cincai.
Abah Taufik, tuding Cenliang mirip Rentenir.
Dari praktik cari cuan saja seperti ini, tahun 2013, makin banyak suara minor ditujukan ke Cenliang.
Sejak itu pedagang mulai cium modus Cenliang kumpulkan dana pedagang untuk membiayai pembangunan pasar turi. Taufik menyebut cara bisnis Cenliang, berlagak investor tapi modal dengkul. “Kami seperti ditipu mentah mentah saat itu”, kata Taufik bernada jengkel.
Hal yang menandakan cenglinya Cenliang tak tampak saat dilakukan penandatanganan PPJB oleh pedagang.
Proses pembuatannya dikeluhkan oleh pedagang, karena isi perjanjian PPJB tidak dibacakan.
“Saya ingat sekali rasanya, waktu itu rasanya saya seperti dikerjai. Saya disuruh tanda tangan saja pada bagian akhir tanpa dibacakan oleh pegawai Notaris pada saat penandatanganan. Setelah menerima PPJB tersebut, baru saya cermati justru banyak klausal yang rugikan pedagang, klausalnya tidak berimbang antara hak kewajiban pedagang dan PT.GBP”, tambah Taufik geram.
Akibat banyak kisruh, jadwal penyelesaian pembangunan pasar turi yang seharusnya selesai pada 14 february 2014, molor beberapa tahun.
Molornya perampungan, para pedagang mengadu kepada walikota Surabaya Tri Rismaharini. Lagi-lagi praktik cengli tidak ditunjukan Cenliang.
 
***
Kasus demi kasus dan dilakukan Cenliang sendirian, persis anggapan mirip bisnis one man show. Maka, saya menyebut konflik Pasar Turi baru dilatarbelakangi ego. Sebutan ini, karena saya bisa menyusup di “kubu” Investor PT Gala Bumi Perkasa dan “kelompok” Pedagang Pasar Turi baru yang berada di TPS (Tempat Penampungan Sementara.
Saat saya tanya ada apa para pedagang tidak mau masuk berdagang di bangunan baru tersebut?, pedagang beralasan bangunan masih tidak berijin karena tidak punya ijin operasional dan tidak ada IMB perubahan yang disetujui Pemkot. Selain spek bangunan dan stand tidak laik fungsi. Termasuk tidak sesuai dengan apa yang mereka bayarkan.
Pedagang mengevaluasi, bisnis Cenliang di Pasar Turi Baru, diduga ada tipu tipuannya .
Ini setelah mereka mendengar penegasan walikota Risma bahwa pasar turi tidak bisa di strata title. Alasannya, tanah yang digunakan untuk gedung Pasar Turi baru adalah tanah negara.
Para pedagang mengkalkulasi dana pedagang untuk strata Title dan BPHTB capai Rp 150 miliar. Pedagang juga mencium bau tak sedap soal pajak. Ini karena
pedagang tidak menerima bukti faktur pajak PPN dan bukti penyerahan BPHTB. Konon jumlahnya sampai Rp 250 miliar . Saya menduga cara kerja Cenliang semacam ini selain soal cengli juga ada ego.
Untuk mengetes apakah investor PT GBP gunakan egonya, saya pernah ambil alat tes psikologi. Artinya apakah ego seseorang sedang bermain, saya ajukan salah satu dari dua pertanyaan ini:
  • Apakah investor dan pedagang di TPS merasa lebih unggul dari orang lain?
  • Apakah Investor dan pedagang di TPS merasa minder terhadap satu sama yang lain?
Ternyata saya mendapat jawaban ya untuk salah satu dari pertanyaan ini. Akhirnya saya menemukan Cenliang punya ego yang sedang mengambil alih pikirannya.
Tak salah, konflik Pasar Turi Baru berlarut-larut sampai 10 tahun. Konflik ini baru meredah setelah bos PT Gala Bumi Perkasa, Henry J Gunawan alias Cenliang, meninggal dunia.
 
***
Saya sampai mengusik soal ego , karena Cenliang, dalam satu tahun konflik dengan sejumlah pihak. Pertama konflik dengan partnernya (JO PT Central Asia Invesment dan PT Lusida Megah Sejahtera). Kedua, sengketa dengan Pemkot Surabaya. Ketiga gegeran dengan para pedagang Pasar Turi. Konflik konflik yang ditimbulkannya ini, saya teringat pendapat Sigmun Freud, seorang psikolog kenamaan. Freud, mengatakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga komponen utama: id, ego, dan superego. Sederhananya, ego, kata teman psikolog, bagian dari identitas yang dibangun tiap tiap manusia.
Nah, selama saya bergaul dan mengenal almarhum Henry J Gunawan, ia cenderung ingin menguasai semua porsi urusan pembangunan Pasar Turi Baru. Padahal disana ada duit Aswi dan ribuan pedagang Pasar Turi serta keterlibatan 2 JO.
Dalam menyelesaikan masalah bisnis, Henry terkesan berkepribadian yang mau menang sendiri. Beberapa kali saya ikut rapat bersamanya, ia suka mendominasi.
Berdasarkan alat ukur psikologi, Cenliang cenderung suka mengedepankan egonya. Dalam beberapa pertemuan ia sering merasa rasa percaya diri atau harga diri terlalu tinggi.
Contoh, hadapi PW Afandi atau Wei Fan, tokoh Tionghoa Indonesia yang kharismatik, Cenliang, suka tak menghargai. Padahal mayoritas pengusaha Tionghoa Surabaya, respek dengan rendah hatinya Wei Fan.
Literasi yang saya baca dari buku psikologi, Ego adalah bagian diri yang bertujuan untuk mencari persetujuan dari orang sekitar.
Makanya, ego acapkali dianggap membantu seseorang membentuk citra diri sendiri.
Tercatat, dari jual stan saat awal pemasaran PT GBP mengantongi sedikitnya Rp 1, 7 triliun. Tahun itu masih ada stan senilai Rp 1,1 triliun yang belum terjual.
Menurut Taufik Al Djufri, harga jual satu stan, saat itu dipasarkan mulai Rp 17 juta sampai Rp 25 juta per meter persegi.
Berdasarkan fakta fakta itu, menggunakan pendakatan bisnis cengli (jujur dan adil) PT GBP, meski secara hukum belum
Dinyatakan pailit, perseroan ini patut diduga tidak layak lagi disebut investor Pasar Turi Baru . Mengingat sejak awal dia tidak setor uang. Ini bisa ditelusuri dari rekam jejak rekening PT GBP. Hal luar biasa, tahun pertama jualab stan, Cenliang bisa gaet dana dari pembeli stan sampai Rp 1,7 triliun.
Kini, apakah Candra Gozali, kakak kandungnya, istri dan anak-anaknya, sebagai penerus PT GBP bisa menjaga kepercayaan dari pedagang Pasar Turi dan partner-partnernya? .
Kita lihat bagaimana pasca Pasar Turu baru dioperasionalkan mulai 22 Maret 2022. Secara bisnis, kepercayaan publik akab sangat dipengaruhi oleh citra perusahaan selama ini.
Ada rekam digital diluar konflik dengan pedagang Pasar Turi yaitu dengan Pemkot sebagai pemilik tanah pembangunan Pasar Turi. Rekam digital ini tidak bisa dihapus, PT GBP pernah digugat Pemkot Surabaya. PT GBP digugat
melakukan wanprestasi dalam proses pembangunan Pasar Turi Baru.
PT GBP dinilai tidak menepati janji di antaranya terkait bentuk bangunan dan status stan pedagang.
Atas hal itu, Pemkot Surabaya meminta agar pengelolaan Pasar Turi dikembalikan lagi kepada Pemkot Surabaya. Kini Pemkot mulai bergandengan dengan PT GBP. Semoga PT GBP tak ada ingkar janji lagi. ([email protected])