Melongok Sentra Wisata Kuliner Binaan Pemkot (9)

Sepi Pengunjung, SWK Lidah Wetan Usul Pelonggaran Jam Malam

Kondisi SWK Lidah Wetan yang berada di Jalan Lidah Wetan Surabaya, Jumat (11/6/2021) kemarin, terlihat sepi dari pengunjung. SP/Angga

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Para pedagang Sentra Wisata Kuliner (SWK) Lidah Wetan yang berada di Jl. Lidah Wetan, mengeluhkan aturan jam malam yang diterapkan di Kota Surabaya. Seperti yang disampaikan oleh Sri selaku salah satu pedagang di SWK Lidah Wetan. Ia mengaku bahwa SWK Lidah Wetan ini sepi pengunjung dari pagi hingga sore.

"Ya sampean lihat sendiri mas kondisinya sepi kayak gini. Ramenya malem jam 9, tapi ada jam malam ya gimana? Sudah kena obrakan bolak balik mas," kata Sri, saat ditemui Surabaya Pagi di SWK Lidah Wetan, mengawali pembicaraan.

Pantauan Surabaya Pagi di lokasi pada hari Jumat, (11/6/2021), SWK Lidah Wetan ini pada pukul 13:00 WIB, terlihat sangat sepi pengunjung. Hanya terdapat 3 orang pengunjung yang sedang menikmati secangkir kopi. Selain itu, tampak beberapa atap diberi gelas guna menampung air yang bocor jika hujan telah tiba.

"Ini banyak yang bocor mas, atapnya nih kalo hujan ya bocor baik di stan pedagang ataupun di tempat orang makan.  Di Depan sini juga menggenang air kalau hujan.  Surutnya cepet sih mas cuman kan mengganggu sekali," ujar Sri sembari menunjuk tempat bocor.

Selain kondisi SWK Lidah Wetan yang sepi, Sri juga menambahkan bahwa di SWK ini belum diberi bantuan kursi dan meja. Kondisi ini sama dengan yang dialami oleh SWK Lidah Kulon. Dimana, para pedagang swadaya sendiri untuk kursi dan meja.

"Kursi kita swadaya sendiri mas", tegas Sri.

Sri berharap bahwa walikota Surabaya Eri Cahyadi segera meninjau langsung ke SWK Lidah Wetan guna meninjau secara langsung apa yang menjadi kebutuhan pedagang.

Selain sarana dan prasarana, para pedagang SWK Lidah memohon untuk kelonggaran Jam malam hingga pukul 00.00 WIB agar mereka bisa sedikit bernafas.

"Ya harapannya dikasih kelonggaran jam malam lah, kita rame jam 9 trus tutup jam 10 kan ya pedagang pasti ngeluh," ujar Sri Tegas.

Disamping itu, Walikota Eri Cahyadi pernah dijadwalkan datang ketika bulan puasa tetapi malah tidak jadi datang.

"Pernah sekali katanya mau kesini. Tukang-tukang diarahkan kesini semua mas buat ngecat sama masang lampu sampek seharian, lah kok besoknya pak Eri gakjadi dateng," tutup Sri. ang/cr3/rmc