Siswa SMA 22 Surabaya Positif Covid-19, PTM 100% Diminta Evaluasi

Proses pembelajaran tatap muka yang dikakukan di salah satu sekolah Surabaya. SP/Sammy Mantolas

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Salah satu siswa di SMA 22 Surabaya, pada Senin (17/01/2021) kemarin dikonfirmasi positif Covid-19. Akibatnya per hari ini, aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah dihentikan sementara.

Siswa yang diketahui duduk di kelas XI dikonfirmasi positif pasca dilakukan pemeriksaan swab PCR. Sebelum dilakukan pemeriksaan siswa sempat mengalami gejala demam.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya kini telah melakukan testing kepada warga yang melakukan kontak erat pasien. Beberapa diantaranya adalah warga sekolah, siswa sekelas dan keluarganya.

"Total ada 36 siswa yang satu kelas dengan pasien. Kemudian ada 56 guru dan 15 keluarga. Semua sudah swab. Hasilnya segera keluar," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Nanik Sukristina dalam konferensi persnya di Jemursari, Selasa (18/01/2021).

Adanya temuan kasus positif akibat penerapan PTM 100% di Surabaya pun mendapat respon dari Ahli Patologis Klinik sekaligus dokter penanggungjawab pasien (DPJP) Rumah Sakit Lapangan Indrapura, dr. Fauqa Arinil Aulia, Sp.PK.

Menurutnya, dengan adanya temuan tersebut pemerintah kota harus mulai mempertimbangkan kembali kebijakan PTM 100%. Mengingat saat Indonesia tengah menghadapi varian baru Covid-19 yakni Omicron yang dinilai penyebarannya 400% lebih cepat dari varian delta.

"Ya saya kira harus mulai dipertimbangkan. Jangan sampe ini bisa menimbulkan klaster baru. Karena kalau kita lihat varian delta dulu, akhirnya muncul klaster-klaster baru. Baik klaster pekerja, klaster kantoran," kata dr. Fauqa kepada Surabaya Pagi.

"Jadi sebaiknya waspada karena kita belum punya literatur lengkap terkait Omicron," tambahnya.

Guna menghindari klater baru, ia pun meminta agar tracing dan testing segera dilakukan oleh pemerintah. Tak hanya itu, sampel positif dari salah siswa diharapkan untuk segera dilakukan  tes whole genome squencing (WGS).

"Jadi bisa dicek apakah siswa ini terkonfirmasi varian omicron atau tidak," katanya.

Bagi sekolah-sekolah yang saat ini masih melakukan PTM 100%, ia mendorong untuk memperketat protokol kesehatan 6M. Terkait jeda pergantian shift, dimintanya untuk dapat diperpanjang.

"Ia soalnya kalau 30 menit, terlalu cepat. Namanya anak, setelah pelajaran selesai masih harus lakukan ini, lakukan itu jadi saya rasa kurang kalau 30. Dibuat 1 jam atau 2 jam itu cukup. Tapi ya pertimbangannya nanti di sekolah. Yang pasti, kalaupun ingin PTM, protapnya harus diperketat. Ya harus 6M. Karena 6M itu yang penting. Dan sekolah harus mampu beradaptasi dengan new normal," ucapnya.

Terkait siswa SMA 22 yang positif sebelumnya telah mendapat komentar dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Menurutnya, pemerintah tidak akan melakukan lockdown. Namun hanya meniadakan PTM sementara bagi seluruh siswa di SMA 22 Surabaya.

"Jadi yang terjadi di SMA 22 Surabaya ini bukan lockdown, hari ini diliburkan untuk bisa diatur kembali," kata Khofifah dalam keterangan resmi yang diterima Surabaya Pagi.

Dalam waktu dekat, proses pembelajaran tatap muka di SMA 22 rencananya akan dilangsungkan kembali. Hingga kini, pihak sekolah tengah melakukan regulasi ulang terkait PTM.

"Khusus kelas 11 di mana sang anak ini terkonfirmasi positif, akan dilakukan daring," tandas Khofifah. "Jadi daringnya hanya satu kelas di mana ada anak terkonfirmasi positif di SMA 22 Surabaya ini bukan lockdown, tapi hari ini diliburkan," ucapnya.

Sebagai informasi, adanya PTM 100% pasca ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 yang dikeluarkan pada 21 Desember 2021 lalu. sem