Sosiolog: Terlalu Hedonisme, Ingin Dipandang

Unggahan para “Crazy Rich Surabaya” di media sosial.

 

‘Crazy Rich Surabaya’ yang Dibenci Orang Tionghoa Berpendidikan (6-habis)

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Dalam lima seri terakhir, harian kita menurunkan beberapa laporan dan peristiwa yang dialami para “Crazy Rich Surabaya”. Mereka adalah warga Surabaya juga, yang bergelimang harta kekayaan super mewah, dan diumbar di media sosial. Unggahan para “Crazy Rich Surabaya” ini membuat memicu pergunjingan beberapa warganet di media sosial. Tak terkecuali, ada dua pembaca Surabaya Pagi yang merespon pemberitaan Harian kita, lewat hotline Redaksi.

“Kok yah gak melihat kondisi sekitar yah… sampai mengumbar kekayaan ditengah kondisi sulit pandemi kayak gini. Ini khan seperti ada gap sosial, yang kaya dan yang miskin,” kata salah satu pembaca, sebut saja Kristo, melalui pesan WhatsApp yang dikirim ke hotline Surabaya Pagi, Sabtu (19/12/2020).

Tak hanya Kristo, ada seorang pemuda yang menjelaskan, warga Surabaya yang memiliki kekayaan super mewah dan dipamerkan, membuat kecemburuan sosial. “Sebagai arek Suroboyo juga, anak-anak itu ngerasa sok kaya. Bikin kecemburuan sosial aja. Takutnya, bikin yang lain kepengin, tapi cari jalan pintas,” tegas pemuda itu.

Melihat animo pembaca terkait tulisan ‘Crazy Rich Surabaya’ dalam lima seri sebelumnya, membuat beberapa Sosiolog di Surabaya angkat bicara. Seperti Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs. M.Si, guru besar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, serta Dr. Agus Mahfudz Fauzi, M.Si, Pakar Sosiologi Politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang dihubungi terpisah Senin (21/12/2020).

Prof Dr. Bagong Suyanto menilai, munculnya konten 'Hedonisme' seperti yang dilakukan Crazy Rich Surabaya dilatar belakangi oleh sikap masyarakat yang memang tertarik dengan hidangan konten semacam itu. Didukung dengan kekayaan yang dimiliki, para Crazy Rich Surabaya mampu menarik perhatian hingga menimbulkan kecemburuan sosial.

"Itu fenomena 'The Dandy Society' atau masyarakat pesolek. Dimana masyarakat lebih menghargai penampilan fisik seseorang dibandingkan pendidikannya," terang Prof Bagong, kepada Surabaya Pagi, Senin (21/12/2020).

Tak heran jika Crazy Rich Surabaya kerap kali memamerkan barang-barang mewah ataupun perilaku hedonisme di dalam kontennya. "Tetapi, masyarakat sendiri juga suka melihat konten itu. Jadi pasti dimanfaatkan oleh mereka (Crazy Rich Surabaya, red) untuk produktif membuat konten pamer kekayaan semacam itu. Bahkan pamer kekayaan tambah wah, makin menarik menurut mereka," tambah Dosen FISIP Unair itu.

Menurut Bagong, kekayaan Crazy Rich Surabaya yang dipamerkan melalui ruang publik media sosial semata-mata hanya untuk brand image. Hal itu juga sebagai bentuk ekspresi memuaskan diri sendiri dan meningkatkan ekspresi. Alhasil, dari pengungkapan ekspresi mereka di media sosial, masyarakat yang mengkonsumsi, bisa menimbulkan dampak negatif dan positif.

"Dampaknya, masyarakat jadi punya mimpi-mimpi. Tapi masalahnya, bagaimana cara masyarakat menggapai mimpi itu. Bisa dengan cara yang positif, atau malah sebaliknya," jelas pakar sosiologi itu.

Masyarakat memang harus tegas dalam menentukan sikap ketika hendak menggapai sesuatu. "Cara nya bermacam-macam sih. Tidak menutup kemungkinan jika masyarakat nantinya bisa saja memilih jalan pintas seperti melakukan tindak kriminal untuk mendapatkan uang," terangnya.

Ia pun berharap, konten yang disajikan oleh Crazy Rich Surabaya boleh jika dikonsumsi untuk hiburan, tapi tidak untuk ditiru. “Jangan sampai timbul kecemburuan sosial di lingkungan masyarakat apalagi sampai melakukan hal hal yang kontraproduktif," tegasnya.

 

Menggiring Opini

Senada dengan Prof Dr. Bagong Suyanto, menurut Dr. Agus Machfud Fauzi, para Crazy Rich Surabaya hanya ingin dipandang sebuah identitas mereka, bagaimana dirinya saat ini. "Sebetulnya simpel saja, konten itu dibuat untuk meramaikan dunia maya. Selain itu, konten itu juga dibuat untuk menggiring opini khalayak sehingga muncullah sebuah identitas yang diharapkan oleh pemeran dalam konten itu," ujar Agus Machfud Fauzi, Senin (21/12/2020).

Apalagi, tambah Agus, konsumsi konten Crazy Rich Surabaya kebanyakan anak milenial, yang masih timbul rasa penasaran yang tinggi. Ia pun yakin, masyarakat yang mengkonsumsi konten tersebut, hanya sebatas penasaran, tidak lebih.

"Saya yakin, mungkin konten itu dibuat dengan tujuan memotivasi juga. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa juga banyak masyarakat yang tidak termotivasi bahkan sampai menimbulkan kecemburuan sosial," tuturnya.

Pakar sosiologi itu menilai, sebagian besar dari sajian konten video tersebut berbeda dengan kehidupan nyata yang dijalani oleh masing-masing Crazy Rich Surabaya. "Dalam dunia sosiologi, konten itu hanya menampilkan 'Dramaturgi' saja. Di kehidupannya yang nyata mungkin pemeran dalam video tersebut lebih ke tidak yang seperti itu," paparnya.

Dengan menampilkan Dramaturgi seperti yang dikatakan Dr. Agus Machfud Fauzi, M.Si., "Mereka sukses membangun brand image sesuai yang diharapkan bebarengan dengan tergiringnya opini publik yang menganggap Crazy Rich Surabaya ini berbeda dengan masyarakat pada umumnya," pungkasnya.