Sukses Dirikan Restoran Halal di Taiwan Beromzet Jutaan Perhari

Sri Heny pemilik restoran di Taiwan. SP/ BLT

SURABAYAPAGI.com, Blitar – Sri Henny membuka restoran masakan khas Indonesia yang halal di Taiwan itu berawal dari pengalamannya sendiri. Pada 15 tahun yang lalu, ia sudah merantau ke Taiwan. Ia menjadi penerjemah namun di sana belum banyak yang menjual makanan halal, sehingga dari situlah ia mulai membuka restoran bernama Mic Mac dan berada di Jalan Yule, Tainan.

Restoran ini khusus menyiapkan masakan khas Indonesia, sangat cocok bagi wisatawan yang kurang cocok dengan olahan masakan khas Taiwan. Mic Mac Indonesian Halal Restaurant ini sudah dibuka sejak 2011 di Tainan, Taiwan oleh Sri Heny.

"Saya memang dari dulu bercita-cita ingin membuka restoran yang halal di Taiwan, ya baru 2011 kemarin ada kesempatan dan kebetulan ada modal akhirnya membuka restoran ini. Allhamdulillah sampai sekarang," kata Heny, dikutip Minggu (18/4/2021).

Heny menyediakan puluhan masakan khas Indonesia, dan cita rasa khas Indonesia yang ditawarkan restoran miliknya. Semua makanannya ini diberi sertifikat halal oleh pemerintah pusat Taiwan.

Di restoran ini, konsepnya prasmanan. Pengunjung bisa mengambil menu apa saja yang ia inginkan dan seberapa banyak porsinya. Menu yang disediakan di restoran ini mulai sayur lodeh, bobor daun singkong, sambal goreng ati ampela, sambal goreng telur puyuh, kering tempe, olahan daging, bakwan, lele, ayam goreng, sambal dan sejenisnya.

Selain itu, ada juga minuman-minuman khas Indonesia yang juga ia jual di sini. Mulai dari es dawet, es doger dan es jenis lainnya yang khas Indonesia. Olahan masakan Indonesia ini bisa dinikmati dengan harga mulai dari 70 NTD atau setara Rp 30.000 per porsi sekaligus minumnya. Untuk pelajar dan mahasiswa di hari Senin-Jumat, ada diskon sebesar 20 persen. Sedangkan untuk hari sabtu - minggu dan hari libur nasional harga normal.

Heny menjadi salah satu pemilik restoran yang sukses di sana. Restorannya ramai dikunjungi wisatawan atau orang-orang dari beberapa negara dunia yang sedang berada di Taiwan. Pelanggannya bukan hanya pelajar Indonesia, tapi ada dari Yaman, Jordania dan beberapa dari negara lainnya.

"Per hari omzet bisa sampai 7000 NTD atau setara Rp 3 jutaan. Tapi bisa jadi lebih banyak dan kurang dari itu. Namanya usaha, kadang ramai kadang sepi. Saya buka mulai pukul 12.00-21.00 waktu Taiwan," papar dia.

Ia hanya bercita-cita ingin mempertahankan cita rasa Indonesia melalui masakan buatannya. Ia juga ingin memperkenalkan kuliner khas Indonesia ke mata dunia melalui ia membuka restoran ini. Para pengunjung yang datang ke restorannya, selalu ia beri edukasi soal masakan Indonesia. Dsy3