Surabaya, Hingga 11 November Hujan Lebat

Banjir yang menggenangi wilayah Surabaya di musim hujan tahun 2020 lalu.

SURABAYAPAGI, Surabaya - Badan Meteorologi Klimatoligi dan Geofisika Jawa Timur (BMKG Jatim) memprediksi dalam sepekan ke depan wilayah Surabaya dan sekitarnya akan dilanda hujan.

Dalam peringatan dini yang dikeluarkan ada 4 November lalu, BMKG memprediksi wilayah Jatim tak terkecuali Surabaya akan dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga berat. Peringatan tersebut berlangsung hingga tanggal 11 November 2021.

"Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin dalam satu minggu ke depan," tulis BMKG dalam prospek cuaca yang dipublish di situs BMKG Jatim, Minggu (07/11/2021).

Bahkan Koordinator bidang data dan informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto dalam keterangan resminya menyampaikan, setidaknya ada 8 wilayah di Jatim yang masuk kategori siaga banjir bandang dan 11 wilayah lainnya masuk dalam kategori waspada banjir bandang.

Secara beruntun 8 wilayah siaga banjir bandang adalah Magetan, Ngawi, Ponorogo, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Malang dan Blitar. Sementara untuk wilayah waspada banjir bandang di antaranya adalah Kota Surabaya, Magetan, Madiun, Nganjuk, Gresik, Bangkalan, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Jember dan Banyuwangi.

"Potensi banjir bandang dapat terjadi di wilayah Jawa Timur akibat adanya potensi hujan lebat. Termasuk di Surabaya," kata Teguh Sri Susanto saat dihubungi.

Dari penelusuran Surabaya Pagi, selama 3 tahun terakhir, Kota Surabaya selalu langganan banjir dengan ketinggian hingga 80 cm atau setara dengan lutut orang dewasa.

Bahkan di awal tahun 2019 lalu, perumahan elite Citraland ikut terendam banjir. Tak hanya itu, wilayah lain seperti di Jalan Raya Lidah, Wiyung, Driyorejo, hingga Dukuh Kupang Barat juga digenangi banjir dengan ketinggian antara 50 cm hingga 1,5 meter.

Hal serupa juga terjadi di awal tahun 2020. Tepatnya tanggal 16 Januari. Hujan yang berlangsung selama 1 jam dari pukul 16:00 WIB hingga 17:00 WIB saat itu, mengakibatkan setidaknya 32 wilayah di Surabaya terendam dengan banjir.

Adapun wilayah yang menjadi titik banjir diantaranya adalah jalan Doho Keputran, jalan Gunungsari Praja, jalan Lontar, jalan Kupang raya, kelurahan Simomulyo dan Tandes Kidul, dilanda dengan ketinggian kurang lebih 20 cm.

Wilayah lain seperti jalan WR Supratman, jalan raya Rungkut Tengah, Kelurahan Karang Poh, wilayah Mulyorejo, Pacar Keling serta perempatan jalan Bangkingan dilanda banjir dengan ketinggian kurang lebih 10 cm.

Berikutnya untuk wilayah Balongsari, jalan HR Muhammad, jalan Lidah Kulon dan Lidah Wetan dilanda dengan ketinggan 30 cm. Sementara wilayah Villa Bukit Mas, Manukan, Sememi, Siwalankerto, Ketintang, jalan Simo Hilir Raya Utara dilanda banjir dengan ketinggian antara 50 cm hingga 80 cm.

 

Ada 285 Kasus Banjir

Di tahun 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat setidaknya ada sekitar 258 kasus bencana banjir yang terjadi di Jatim terhitung sejak 1 Januari sampai 19 Maret 2021. Dari angka tersebut, kasus terbanyak terjadi di wilayah Kabupaten Jombang dengan jumlah 26 kali, disusul Pasuruan Kabupaten 16 kali dan Nganjuk Kabupaten 14 kali.

Untuk Surabaya sendiri, dari periode Januari hingga Maret setidaknya ada 3 kali kasus banjir yang melanda kota pahlawan. Terbaru adalah banjir yang terjadi pada 15 September 2021 lalu di wilayah Ketintang, Margorejo, Ciliwung, dan Jalan Hayam Wuruk.

Menariknya, pasca air surut, pemerintah kota Surabaya melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) menemukan sekitar 10 dump truk sampah yang tersebar di beberapa lokasi titik banjir.

Plt Kepala DKRTH Kota Surabaya Anna Fajriatin saat dihubungi menyampaikan, selain intensitas hujan yang tinggi, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga menjadi musabab banjir yang melanda ibu kota Jatim.

Sepuluh drump truk sampah tersebut diambil dari beberapa rumah pompa di Surabaya maupun gorong-gorong. Sampah tersebut tersangkut di saringan yang ada di rumah pompa. Rumah pompa di Surabaya sendiri ada sekitar 60 hingga 70.

"Ada di rumah pompa Greges buanyak juga. Jagir, Semolo, hampir semuanya penuh dengan sampah. Jadi mohon dibantu masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan," kata Anna Fajriatin dinukil dari detik.

 

Siapkan Anggaran

Balik ke prediksi BMKG yang mengkategorikan Surabaya waspada banjir bandang, Kasubag Humas Pemkot Surabaya, Indri saat dihubungi menyampaikan, pemkot Surabaya sejauh ini telah menganggarkan sejumlah anggaran untuk mengatasi masalah banjir.

"Tentu ada anggarannya. Kajian untuk mitigasi juga ada mas. Lengkapnya sama bu Erna [Kadis Pekerjaan Umum Binaraga dan Pematusan,red]," kata Indri saat dihubungi.

Sebagai informasi, terkait anggaran banjir sendiri, sebelumnya Walikota Surabaya Eri Cahyadi telah menganggarkan kurang lebih Rp 600 miliar untuk mengatasi persoalan banjir di ibu kota hingga Desember 2021 mendatang.

Anggaran ini bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya atau di masa Walikota Tri Rismaharini terpaut Rp 150 miliar. Di masa periode terakhir Bu Risma, alokasi anggaran untuk banjir adalah sebesar Rp 450 miliar.

Hingga berita ini ditulis, Surabaya Pagi belum berhasil menghubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Binaraga dan Pematusan Erna Purwanti. Panggilan serta pesan whatsapp tidak ditanggapinya.

Kendati begitu, dalam pernyataannya di beberapa media, Erna tengah mengupayakan pengentasan banjir di wilayah Surabaya Barat khususnya akibat luapan kali Lamong. Salah satunya adalah dengan mengeruk dan membuat tanggul di sekitar bantaran sungai.

"Kami keruk endapan sedimennya untuk dijadikan tanggul. Selain itu, kami juga fokus untuk menangani terowongan di bawah jembatan supaya bisa dialiri air," kata Erna dinukil Surabaya Pagi dari Antara.

 

Kurang Drainase

Terkait penanganan banjir di kota pahlawan, sebelumnya juga pernah dikritisi oleh Vinsensius Awey, yang saat itu menjadi anggota Komisi C DPRD Surabaya. Menurut Awey, salah satu faktor penyebab banjir di Surabaya adalah sistem drainase yang belum merata.

"Pembangunan sistem drainase pun lebih kepada pemerataan sehingga dengan anggaran yang ada bisa dibagi ke seluruh area. Namun, banyak ditemukan pembangunan drainase yang tidak tuntas, tidak terintegrasi antara satu saluran ke saluran lain dari sisi elevasi dan volume penampungannya," kata Awey dilansir dari laporan Surabaya Pagi edisi Februari.

Terkait sistem drainase, Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati sempat mengkritik penanganan banjir yang dilakukan oleh pemkot dengan sistem drainase tidak berdasarkan kajian. Pemkot selama ini, masih menggunakan Surabaya Drainage Master Plan (SDMP), yang mana SDMP tersebut dinilai kurang tepat bila diterapkan karena adanya faktor anggaran.

Menurut Aning, seharusnya dalam penanganan banjir, pemkot menerapkan Sistem Drainase Jaringan Tersier (SDJT) dan Sistem Drainase Lingkungan Pemukiman (SDLP). Namun yang terjadi selama ini, baik SDLP maupun SDJT belum dibuat kajiannya oleh pemkot.

"SDLP ini mengkaji secara riil penanggulangan banjir di perumahan, perkampungan, sekaligus koneksinya dengan saluran kota. Inilah kunci kenapa banjir di lingkungan permukiman warga tidak makin kecil, tapi makin melebar," kata Aning. sem,ana,rl