Swab Hunter Mulai Diberlakukan untuk Warga Madura

Kondisi di RSLI Lapangan. SP/Anggadia Muhammad

Pemerintah Khawatir Pandemi Gelombang 2 dan 3

 

 

 

Tiga Lokasi Sasarannya Pasar Tradisional, Pasar modern, dan Kos-kosan

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Efek kasus Covid-19 di Bangkalan, mememunculkan temuan bahwa masyarakat dari pulau Madura banyak menjadi pengusaha, bisnis dan pekerja. Untuk mengerem penularan di Surabaya, kini disiapkan swab hunter untuk menyasar minimal tiga titik. Di antaranya yakni pasar tradisional, pasar modern, dan juga komplek kos-kosan. Dari tiga lokasi ini, kebanyakan warga musiman bergelut untuk mengadu nasib di Kota Pahlawan.

Apalagi selama ramainya kasus Covid-19 Di Bangkalan, ditemukan sejumlah titik pagar Jembatan Suramadu jebol. Antara lain oleh aksi akrobatik ibu-ibu yang memanjat pagar loncat untuk menghindari tes swab antigen di pintu masuk Jembatan Suramadu.

Juga lebih dari 100 Kartu Tanda Penduduk yang diamankan Petugas Satpol PP, karena ditinggal pemiliknya. Ini karena mereka menghindari tes yang dilakukan dengan mengusapkan alat steril ke rongga hidungnya.

Sampai Minggu (13/6/2021) kemarin, tercatat sedikitnya 10 ribu pengendara yang menjalani swab massal di Jembatan Suramadu sisi Kota Surabaya. Dari total data tersebut ada 150 lebih hasilnya reaktif. Dan 50 lebih warga yang positif. Mereka yang positif  harus menjalani karantina.

Atas sejumlah aksi ‘nakal’ ini, Pemerintah Kota Surabaya kini sedang membangun sejumlah benteng dari tingkat RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan. Termasuk upaya pihak swasta yang mempekerjakan warga dari pulau Madura mulai mewajibkan pegawainya lakukan tes swab. Ini jika mudik.

Kabarnya, swab hunter ini menjadi benteng ke-2 bagi pemerintah Kota Surabaya, menjaga warganya. Pemkot bersama Polrestabes Surabaya, Polres KP3 Tanjung Perak dan TNI yang melaksanakan program swab hunter.

 

Sudah 324 Pasien

Saat ini, kiriman pasien dari kasus Bangkalan, hasil penyekatan Suramadu, terus mengalir deras di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya.

Sampai tanggal 12 Juni 2021 tercatat sudah ada 324 pasien yang tengah menjalani perawatan. Data tersebut terdiri dari 80 pasien Pekerja Migran Indonesia (PMI), 14 pasien klaster pondok pesantren, 145 pasien dari kasus Bangkalan, dan 85 pasien umum.

Penanggungjawab RSLI, Laksamana Pertama TNI dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara, mengatakan, dari data tersebut, 137 orang di antaranya nilai CT Value di bawah 25. "Jadi dapat dikatakan hampir 92 persen berada pada kondisi yang sangat infeksius dan berpotensi menular. Sementara masih ada puluhan orang penderita COVID-19 yang masuk daftar antri masuk (inden) ke RSLI," kata dr. Nalendra, Minggu (13/6/2021).

 

Sudah 93 juta Dosis

Sedangkan, program vaksinasi, hingga awal Juni ini, Indonesia kedatangan lebih dari 1.5 juta vaksin AstraZeneca melalui jalur multilateral COVAX Facility. Vaksin sebanyak ini dengan rincian sebanyak 1.504.800 dosis, dari dua kedatangan yaitu v pada 5 Juni dan 10 Juni ini. Kini total vaksin Astrazeneca dari Covax Facility mencapai sebanyak 8.228.400 dosis vaksin.

Menlu Retno Marsudi menyampaikan, total keseluruhan vaksin yang dimiliki Indonesia baik itu vaksin jenis Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm sejauh ini sudah sebanyak 93.728.400 dosis.

Menurut Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), Airlangga Hartarto, hingga 11 Juni 2021, Indonesia telah melakukan vaksinasi sebanyak 31,5 juta dosis dan akan terus ditambah dengan kecepatan vaksinasi yang mencapai sekitar 700 ribu dosis per hari. Bulan Juli bisa 1 juta dosis per hari pada bulan Juli.

Menteri Airlangga mengatakan realisasi penyuntikan dosis vaksin di Indonesia sendiri termasuk dalam posisi 13 besar dunia dan 3 besar dari negara yang bukan merupakan produsen vaksin.

Pemerintah, sambung dia, akan terus mendorong peningkatan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan). Pemerintah juga akan terus mengintensifkan penerapan 3T (Telusur, Tes, dan Tindakan) sebagai bagian dari upaya keras dalam menangani pandemi Covid-19.

"Namun, kewaspadaan kita semua tidak boleh mengendor terutama setelah liburan Idulfitri kemarin. Jadi jangan sampai terjadi pandemi gelombang ke-2 dan bahkan ke-3 seperti yang dialami sejumlah negara lainnya," tutup politikus Partai Golkar ini . dikutip dalam keterangan pers, Minggu (13/6).

 

Tingkat Efikasi Sangat Tinggi

Sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Juru Bicara Vaksinasi Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa vaksin Covid-19 dari Inggris, AstraZeneca memiliki tingkat efikasi atau khasiat yang sangat tinggi untuk lansia (lansia) yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

"Kalau AstraZeneca itu efikasinya untuk yang punya penyakit komorbid sangat tinggi, pada usia lanjut juga sangat tinggi," ujar Siti Nadia Tarmizi.

Untuk itu, Siti Nadia Tarmizi mengimbau masyarakat agar tidak pilih-pilih soal vaksin.

Ia menegaskan, semua jenis vaksin Covid-19 yang diimpor oleh pemerintah dijamin aman dan efektif, termasuk vaksin AstraZeneca.

Siti Nadia Tarmizi mengatakan keamanan vaksin AstraZeneca sudah terjamin dan cocok untuk usia 18 tahun ke atas.

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir tentang penghentian AstraZeneca untuk beberapa orang non-lansia, sebagaimana dilansir Kabar Besuki dari PMJ News.

Selain itu, sejauh ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum mencabut rekomendasi penggunaan vaksin asal Inggris tersebut untuk orang berusia 18 tahun ke atas.

Siti Nadia Tarmizi menyesalkan saat masyarakat lebih banyak menyoroti efek samping ketimbang manfaat vaksin.

Menurut dia, sebagian masyarakat membicarakan efek samping terlalu berlebihan justru membuat warga lainnya takut dan menghambat program vaksinasi. "Kalau saya mau bilang, anak umur 6 bulan demam, meriang dia hanya bisa nangis, rewel. Kalau yang disuntik orang dewasa, begitu demam, muntah apa yang dilakukan? update status," tukasnya.

 

Presiden Soroti Lonjakan

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan terdapat tren kenaikan kasus Covid-19 pasca libur panjang Lebaran tahun 2021. Setelah sempat mencapai angka di bawah 90.000, kasus aktif nasional saat ini kembali mencapai kisaran angka 100.000 kasus.

“Sudah ada kenaikan, walaupun angka ini memang masih jauh di bawah angka puncak yang pernah kita capai di awal tahun yang berkisar 170.000 (kasus aktif),” ujar Menkes Budi.

Menkes Budi mengingatkan, tingkat keterisian tempat tidur di sejumlah rumah sakit di Indonesia tidak merata di setiap daerah. Ada beberapa daerah yang memiliki tingkat keterisian yang relatif lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Ada beberapa kabupaten/kota yang tinggi keterisian di rumah sakitnya, seperti ada di Aceh, sebagian kabupaten/kota di Sumatra Barat, di Kepulauan Riau dan Provinsi Riau, juga ada di daerah Jambi, kemudian sebagian Jawa Tengah, ada juga di Kalimantan Barat, dan hanya sedikit di Sulawesi,” ucapnya.

Menkes Budi melanjutkan, Presiden Jokowi juga menyoroti lonjakan kasus yang terjadi di Kudus, Jawa Tengah. Disampaikan Budi, pihaknya telah menindaklanjuti peningkatan kasus dan jumlah pasien yang dirawat di daerah tersebut.

 “Pak Kapolri juga sudah menindaklanjuti dengan melakukan micro lockdown PPKM- nya, sehingga diharapkan apa yang terjadi di Kudus bisa kita isolasi dan tidak menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Tengah,” ujarnya.

Dalam keterangan persnya Minggu kemarin Menkes didampingi oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir (BUMN) dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito. n erc/jk/sem/ang/cr2/rmc