Tak Bisa Lepas, AS dan China Berpengaruh Besar di Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 12 Nov 2023 11:24 WIB

Tak Bisa Lepas, AS dan China Berpengaruh Besar di Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

i

Salah satu proyek kerjasama Indonesia-China, salah satunya Kereta Cepat yang diagendakan di Casting Yard 1 KM 26 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - AS dan China memang memiliki pengaruh yang sangat besar ke pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga dikatakan tidak bisa lepas dari pengaruh kondisi dan pengaruh kedua negara tersebut.

Diketahui, AS memiliki pengaruh pada setiap pergerakan di Negara Paman Sam yang berdampak pada dolar AS. Sedangkan untuk China diketahui sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, baik untuk ekspor maupun impor.

"Hal ini akan berdampak ke seluruh negara di dunia karena dolar AS banyak digunakan. Lalu untuk China menjadi negara utama tujuan ekspor dan impor Indonesia" jelas Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia Erwindo Kolopaking, Minggu (12/11/2023).

Disisi lain, saat ini kondisi ekonomi global masih menjadi perhatian utama. Pasalnya, inflasi tinggi di AS menyebabkan suku bunga di negara tersebut naik, yang pada akhirnya menyebabkan ketidakpastian global meningkat. 

Sementara, ekonomi China saat ini berada dalam tekanan perlambatan yang disebabkan salah satunya oleh kinerja ekspor dan perubahan struktur fundamental ekonomi negara ini. 

Erwin menyebutkan ekonomi China bergantung pada ekspor ke negara maju dan berkembang. Namun, dengan adanya perang dagang antara China dan AS, hal ini pun berdampak pada perkembangan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut. 

"China, ke depan akan bersaing dengan negara maju di high tech, (sayangnya) multiplier effect sangat kecil terutama ke negara-negara kawasan Asia lain, seperti Indonesia," jelasnya. 

Sementara itu diketahui, berdasarkan data BPS, pada September 2023, China menjadi tujuan ekspor terbesar dengan pangsa sebesar 26,72%. Angka ini lebih tinggi ketimbang September 2022 yang sebesar 26,16%. 

Untuk impor, China juga menduduki peringkat pertama sebagai tujuan utama impor Indonesia dengan kontribusi sebesar 35,35%, meningkat dibandingkan dengan September 2022 yang sebesar 34,74%.

Namun, kondisi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global saat ini, dikatakan masih kuat yang terlihat dari sejumlah indikator. Salah satunya seperti, cadangan devisa yang relatif stabil dibandingkan dengan negara-negara peers.

Sedangkan untuk menangani hal tersebut, BI pun telah merilis sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, antara lain stabilisasi nilai tukar rupiah, penguatan strategi operasi moneter untuk efektivitas kebijakan moneter termasuk optimalisasi SRBI, penerbitan SVBI dan SUVBI, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), dan lainnya. jk-02/dsy

Editor : Desy P.

BERITA TERBARU