Tanding Malam, Gaet Penonton, Korbankan Suporter

Menko Polhukam Sebut Tembakan Gas Air Mata, Picu Jatuhnya Banyak Meninggal, dan Sudah Diakui Polri 

 

Korban Hingga Minggu Malam, Korban Meninggal Dunia Versi Pemprov 131 Orang, dan Versi Polri 125 Orang

 

SURABAYAPAGI.COM, Malang - Pertandingan big match antara tuan rumah Arema FC dengan Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) menyisakan tragedi memilukan dan mematikan. Pasalnya, hingga Minggu (2/10/2022) malam, tragedi ini menelan korban meninggal dunia lebih dari 100 orang. Versi Pemprov Jawa Timur melalui BPBD Jatim dan Dinkes Jatim, Minggu pukul 18:00 WIB, 131 orang meninggal dunia. Sementara versi Kapolri Jenderal Listyo Sigit, menyebut 125 orang meninggal dunia. Ratusan orang meninggal diduga karena berdesakan, tergencet dan berusaha menghindar serangan gas air mata petugas keamanan ke arah tribun penonton, seusai pertandingan.

"Ini bukan karena bentrok antar suporter (Persebaya dan Arema). Sebab pertandingan itu, suporter Persebaya tidak boleh ikut nonton di sana (Malang)," kata Mahfud MD, Menko Polhukam RI, Minggu (2/10/2022).

Mahfud mengatakan suporter yang berada di lapangan hanya dari Arema. Dia menyatakan tak ada korban penganiayaan suporter. "Oleh sebab itu, para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antarsuporter," ujar Mahfud.

 

Usul Sore Hari

Mantan Ketua MK ini sempat menyebut, bahwa sebelumnya, usulan Polri yang memindahkan waktu pertandingan dari malam hari ke sore hari, diduga menjadi pemicu tragedi ini. Aparat sebelumnya sudah mengusulkan agar pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang agar dilaksanakan sore. Jumlah penonton pun diminta disesuaikan.

"Sebenarnya, sejak sebelum pertandingan pihak aparat sudah mengantisipasi melalui koordinasi dan usul-usul teknis di lapangan. Misal, pertandingan agar dilaksanakan sore (bukan malam), jumlah penonton agar disesuaikan dengan kapasitas stadion yakni 38.000 orang," kata Mahfud.

Namun, kata Mahfud, usulan itu tidak dilakukan panitia pelaksana (panpel). Pertandingan pun tetap digelar malam. Diduga untuk rating dan gaet penonton yang banyak. "Tapi usul-usul itu tidak dilakukan oleh Panitia Pelaksana yang tampak sangat bersemangat dan operator liga. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan tiket yang dicetak jumlahnya 42.000," ujar Mahfud.

 

Tembakan Gas Air Mata

Mahfud Md menyampaikan alasan polisi menggunakan gas air mata ke arah penonton di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Mahfud menyebut penggunaan gas air mata untuk memukul mundur suporter karena ada yang nekat ke lapangan hingga mengejar pemain.

Mahfud mengatakan sekitar 2.000 orang turun untuk mengejar para pemain baik dari Arema FC maupun Persebaya. Oleh sebab itu, polisi menembakkan gas air mata agar situasi kembali kondusif.

"Ada yang mengejar Arema karena merasa kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah dievakuasi ke tempat aman. Semakin lama semakin banyak, kalau tidak pakai gas air mata aparat kewalahan, akhirnya disemprotkan," kata Mahfud

Pernyataan Mahfud MD ini juga selaraskan oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta. Kapolda Jatim tersebut mengatakan bahwa para suporter yang turun ke lapangan mengincar para pemain dan pihak manajemen.

Para suporter diklaim ingin mempertanyakan kepada pihak klub mengapa mereka bisa kalah dalam laga yang penuh akan gengsi tersebut. "Mereka (suporter) turun untuk tujuan mencari pemain dan pihak manajemen. Kenapa (Arema) bisa kalah?" ujar Irjen Pol Nico Afinta, dalam keterangannya di Malang, Minggu (2/10/2022).

Namun, jumlah suporter yang turun ke lapangan semakin lama semakin banyak.

Hal tersebut membuat pihak pengamanan stadion tak mampu membendung lautan massa itu. Alhasil jajaran keamanan langsung menembakkan gas air mata ke arah para suporter guna mendorong mundur mereka. "Terpaksa jajaran keamanan menembakkan gas air mata," tutup Kapolda Jatim tersebut.

 

Pemicu Chaos

Tembakan gas air mata ke arah penonton yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban, juga disayangkan oleh Sugeng Teguh Santoso Ketua Indonesia Police Watch (IPW). Sugeng menyebut penembakan gas air mata di kerumunan massa memicu chaos atau kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, hingga menyebabkan 130 orang meninggal dunia.

Menurutnya, penggunaan gas air mata di dalam stadion akan mengakibatkan serangan kepada mata yang tidak bisa dihindari penonton. Sehingga, memicu terjadinya pergesekan di dalam kerumunan.

“Akibatnya terjadi saling dorong dan saling injak. Sehingga, dampaknya sampai sesak nafas bahkan sampai meninggal dunia,” kata Sugeng.

Untuk menanggulangi peristiwa kerusuhan semacam itu, Sugeng menyebut harusnya polisi bisa memperkirakan dampak apa yang ditimbulkan kalau menembakkan gas air mata.

Maka dari itu, dia mendorong penyelidikan mendalam, khususnya terkait alasan polisi menembakan gas air mata kepada penonton yang berkerumun.

Padahal, lanjut Sugeng, merujuh aturan federasi sepak bola dunia (FIFA), penggunaan gas air mata di dalam stadion sudah dilarang. Penggunaan gas air mata bisa dilakukan di luar stadion untuk memecah massa. “Kalau di dalam stadion hanya boleh pakai tameng dan alat pemukul tumpul saja,” imbuhnya.

 

Copot Kapolres dan Ketua PSSI

Selain itu, IPW juga mendesak mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat sebagai bentuk tanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan ini dan Ketua Umum PSSI Mochammad Iriawan sebagai pihak yang lalai. Selain itu, Sugeng juga menuntut Kapolda Jatim mempidanakan panitia penyelenggara pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya.

"Mulai Kapolres Malang, harus bertanggung jawab atas jatuhnya banyak korban. Juga jatuhnya korban tewas di sepak bola nasional harus diusut tuntas pihak kepolisian. Jangan sampai pidana dari jatuhnya suporter di Indonesia menguap begitu saja seperti hilangnya nyawa dua bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Juni lalu," terang dia.

Lebih penting, ia melanjutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus memberikan perhatian terhadap dunia sepak bola di Indonesia yang selalu ricuh dan menelan korban jiwa. "Mochamad Iriawan seharusnya malu dan mengundurkan diri dengan adanya peristiwa terburuk di sepakbola nasional," tegas Sugeng.

 

Setop Liga 1

Atas tragedi ini, Presiden Joko Widodo pun langsung turun tangan. Dalam keterangannya Minggu (2/10/2022), Presiden Jokowi meminta seluruh pihak mengusut tuntas yang menelan korban meninggal dunia mencapai 120 orang lebih.

“Saya menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya 129 orang saudara-saudara kita dalam tragedi sepak bola di Kanjuruhan Malang Jawa Timur,” ujarnya.

Kemudian, Kepala Negara perintahkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Kapolri dan Ketua Umum PSSI mengevaluasi total pelaksanaan pertandingan sepak bola, termasuk prosedur pengamanannya. “Saya menyesalkan tragedi di Stadion Kanjuruhan dan saya berharap itu tragedi terakhir dalam dunia sepak bola di Tanah Air,” tegasnya.

Kemudian, Kepala Negara perintahkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Kapolri dan Ketua Umum PSSI mengevaluasi total pelaksanaan pertandingan sepak bola, termasuk prosedur pengamanannya. “Saya menyesalkan tragedi di Stadion Kanjuruhan dan saya berharap itu tragedi terakhir dalam dunia sepak bola di Tanah Air,” tegasnya.

 

Versi Pemprov Jatim

Sementara, hingga Minggu (2/10/2022) malam, data korban yang diterima Surabaya Pagi ada dua versi. Yakni versi Pemprov Jatim dan versi Polri yang diutarakan Kapolri Listro Sigit.

Wakil Gubernur Jatim Emil Lestianto Dardak, yang berkoordinasi dengan BPBD Jatim hingga Minggu malam terus melakukan pendataan di setiap Rumah Sakit di Malang dengan koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. "Awalnya data BPBD Jatim 174 meninggal dunia. Itu hingga jam 10:30 WIB. Namun setelah pengecekan data, ada potensi data ganda," kata Wagub Emil, dalam keterangannya yang diterima Surabaya Pagi, Minggu (2/10/2022).

Saat mendatangi RS Wafa Husada, Emil menemukan lebih dari 100 orang yang dibawa ke RS tersebut beberapa waktu setelah kejadian dan 58 diantaranya meninggal dunia. Diantara 58 korban jiwa, sekitar 15 korban harus dibawa ke RS Saiful Anwar karena tidak dapat diidentifikasi identitasnya. Di RSSA akan dilakukan identifikasi bersama tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri.

Dalam kunjungannya ke Klinik Teja Husada, Emil kembali mendapati 13 korban jiwa sempat dibawa kesana. Emil selanjutnya meninjau RS Soepraoen dan menemukan ada 1 korban jiwa yang dibawa kesana. "Sejauh ini, dapat dirujuk pula data dinas kesehatan yang merekapitulasi 131 korban jiwa meninggal dunia, 31 korban luka berat dan 253 luka ringan hingga sedang, yang diperoleh dari laporan 25 rumah sakit," lanjut Emil.

 

Versi Polri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan ada 125 korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan.

Pendataan jumlah korban tewas berdasarkan identifikasi dari tim Disaster Victim Identification (DVI) dan Dinas Kesehatan pemerintah Kabupaten dan Kota Malang. "Konfirmasi saat ini terverifikasi meninggal dunia dari awal informasi 129 saat ini data terakhir hasil pengecekan DVI dan Dinkes jumlahnya 125 orang," kata Listyo di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (2/10/2022).

Berkurangnya jumlah korban meninggal dunia disebut Listyo disebabkan oleh data ganda. "Saat ini saya telah mengajak tim dari Mabes ada Bareskrim, Propam, Pusdokjes, Inafis, kemudian Puslabfor untuk melakukan langkah terkait pendaklaman investigasi yang kami lakukan," katanya. jk/mal/ari/erk/rmc