Tingkatkan Literasi Siswa, SMP YPPI 1 Surabaya Gelar Pertunjukan Puisi dan Bedah Buku

Salah satu siswa SMP YPPI 1 Surabaya saat tampil dalam pertunjukan puisiSP/SEMMY MANTOLAS.

SURABAYAPAGI,Surabaya -  Upaya peningkatan literasi siswa terus digalakan oleh SMP Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Indonesia (YPPI) 1 Surabaya. Salah satunya adalah melalui pertunjukan puisi dan bedah buku.

Kepala Sekolah SMP YPPI 1 Surabaya Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si menyampaikan, pertunjukan tersebut diadakan untuk mendorong minat dan potensi siswa khususnya dalam literasi membaca dan menulis.

"Setiap anak punya potensi berbeda-beda, ada yang di olahraga, ada yang di akademik. Bahkan ada yang di kemampuan menulis. Kegiatan seperti ini adalah untuk menggali potensi anak," kata Titris saat membuka acara pertunjukan, Kamis (28/10/2021).

Lebih lanjut ia sampaikan, pertunjukan kali ini, juga bagian dari rangkaian peringatan bulan bahasa yang jatuh pada setiap bulan Oktober. Siswa dan guru, secara gayung bersambut mempresentasikan karya orisinal mereka.

Salah satu puisi berjudul "Rapuh" milik Gabriela Sucipto yang terpilih dalam ajang lomba puisi tingkat nasional, juga tampilkan dalam pertunjukan kali ini. Gabriela sendiri adalah siswa kelas 9 SMP YPPI 1 Surabaya.

"Jadi di SMP YPPI 1 ini kita sediakan wadah bagi anak sehingga mereka dapat mengaplikasikan potensi yang mereka punya," katanya.

Senada dengan itu, koordinator pertunjukan Puisi dan beda buku, Asro Xabilul Haq meyampaikan, kegiatan kali ini merupakan pengaplikasian dari materi pembelajaran yang telah diterima oleh siswa selama 1 semester terakhir.

Perlu diketahui, SMP YPPI 1 Surabaya memiliki mata pelajaran literasi dan penulisan atau writing on writer (WoW). Dua mata pelajaran ini dikhususkan untuk melatih dan menumbuhkan minat siswa dalam bidang kepenulisan.

"Memang kita arahkan untuk menumbuhkan semangat literasi siswa. Tapi kalau hanya materi saja atau siswa kita perintahkan untuk membaca, itu belum begitu lengkap. Pendekatan yang kami pakai, adalah menumbuhkan minat dengan hal-hal yang mereka sukai," kata Xabil

Pendekatan berbasis kegemaran siswa, nyatanya terbukti efektif. Setidaknya dalam waktu dekat akan ada 2 karya cerpen dari para siswa YPPI yang akan dibukukan oleh penerbit asal Yogyakarta.

"Saya katakan ke mereka, kamu suka apa itu yang kamu tekuni. Gabriela misalnya, ia tertarik pada masalah romance, kita arahkan kemudian ditulis oleh anaknya dan hasilnya ia menang lomba puisi tingkat nasional. Dan sudah dibukukan karyanya," katanya.

"Jadi kritik saya kepada pegiat literasi, adalah berkaitan dengan pendekatan yang mereka pakai. Kalau dipaksa anak untuk membaca akan sulit, tapi kalau dimulai dari minat mereka hasilnya akan jauh lebih baik," tambahnya.

Terkait literasi, hasil studi berjudul "The World’s Most Literate Nations" menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara.

Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 lalu.

Survei lain dari PISA yang dirilis OECD pada tahun 2019, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 10 terbawah dari 70 negara, dengan minat anak rata-ratanya hanya sekitar 18.000 judul buku per tahun.

Di Surabaya sendiri, data dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, menunjukan indeks literasi minat baca masyarakat berada pada angka 67,41 persen. Kendati terbilang cukup tinggi, angka ini hanya berada pada level penggunaan atau functional consuming dan belum sampai tahap kritis dalam menghadapi serta memproduksi konten media (critical consuming, functional prosuming, dan critical prosuming).

"Memang semua orang bisa membaca dan menulis, tapi sedikit sekali dari mereka yang bisa berkarya. Nah siswa di sini, kita latih agar mereka bisa bisa berkarya," pungkasnya.sem