Tuding Mensos Bodoh, Risma Tanggapi Dingin

Mensos Risma saat tiba di Alor, NTT ditemani Ketua DPRD Alor, Enny Anggrek.

SURABAYAPAGI.COM, Bandung - Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma, menanggapi dingin soal tudingan Bupati Alor, Amon Djobo. Dalam rekaman berbentuk video yang tersebar di media sosial berdurasi 2 menit 20 detik, Bupati Alor tuding Risma, bodoh.

Amarah  Bupati Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Amon Djobo, kepada mantan wali kota Surabaya, Risma, terkait Program Keluarga Harapan atau PKH. Program ini dikirim ke Kabupaten Alor  melalui Anggota DPRD Alor. Bukan langsung pemerintah Kabupaten Alor.

Risma mengatakan, itu bukan program PKH, tetapi bantuan untuk bencana alam.

“Tak jelaskan ya, jadi sebetulnya itu bantuan bukan PKH, tapi bantuan untuk bencana,” kata Risma, di Bandung, Rabu (2/6/2021).

Publik tahu bahwa kemarahan Bupati Amon Djobo terekam dalam bentuk video yang tersebar di media sosial berdurasi 2 menit 20 detik.

 

Risma tak Bisa Bekerja

Dalam video itu, terlihat tiga staf Kemensos sedang duduk di depan Bupati Amon. Dia kemudian memarahi Risma terkait Program Keluarga Harapan atau PKH yang diberikan melalui Anggota DPRD. Bukan lewat pemerintah Kabupaten Alor.

Amon menyebut Risma tidak bisa bekerja. Hanya bisa menanam pohon dan bunga di Surabaya.

“Menteri model apa itu, menteri model begitu. Dia tidak pernah datang di Alor kok. Pimpin Surabaya hanya tahu tanam pohon dan bunga, tahu apa dia” kata Amon dengan nada tinggi.

Sementara staf Kemensos hanya tunduk terdiam. Bupati Amon kemudian mengusir mereka dari Alor. “Besok kamu pulang sudah, besok saya kasih surat presiden,” katanya.

“Kamu tidak hargai pemerintah… Menteri (Sosial) juga tidak mengerti pola bantuan ke bawah,” kata Amon.

“Kalau pejabat itu pikir dulu baru omong, makanya mulut jangan lebih cepat dari pikiran”, ketus Amon, diduga menyindir Risma.

“Itu PKH program pemerintah pusat. Itu program ada di bawa pemerintah kok bagaimana dia (Risma) bilang DPR. Menteri bodoh. Masih lebih baik Ibu Khofifah. Tidak pantas model begitu, tempat untuk korupsi tuh” katanya dengan mada marah.

Saking emosinya, Amon bahkan mau melempar staf Kemensos dengan kursi.

“Saya lempar kau dengan kursi baru kau tobat,” katanya dalam video.

Peristiwa tersebut diketahui berlangsung pada pertengahan April 2021 dan baru tersebar akhir Mei-awal Juni ini di media grup-grup media WhatsApp. Belum diketahui secara pasti siapa yang merekam video tersebut dan baru memviralkan saat ini

 

Tak Memungkinkan

Saat di Bandung, Mensos Risma menuturkan bantuan yang sifatnya bencana atau non-PKH ingin segera dikirimkan ke lokasi. Hanya saja, kondisi pada saat itu tak memungkinkan.

“Jadi kalau bantuan dari bencana ya gimana kita saat itu, saya sendiri saya ngirim barang saat itu dari Jakarta jauh,” jelas Risma.

“Kita pengen cepat kirim dari Surabaya karena saya kalau dari Surabaya punya angkutan itu gratis tapi kita tetap tidak bisa masuk ke pulau itu,” sambungnya lagi.

Risma mengatakan, dia telah menghubungi sejumlah pejabat daerah di Alor untuk akses bantuan, namun kondisi tak memungkinkan karena saat itu semua terkena dampak bencana.

Hingga Risma hanya bisa menghubungi Ketua DPRD Alor Enny Anggrek, yang juga merupakan kader PDIP.

“Saya hubungi bagaimana kondisi di sana karena hampir seluruh NTT kena. Saya hubungi kepala dinas, staf saya yang hubungi enggak ada yang bisa karena memang saat itu jaringan terputus,” kata dia.

“Kemudian saya tanya siapa yang bisa saya hubungi saat itu kemudian adalah Ketua DPRD menyampaikan, ‘Bu, kami butuh bantuan, tapi tidak bisa (masuk),” tutur Risma.

Ia mengaku percakapan via aplikasi pesan Whatsapp dengan Ketua DPRD Alor itu masih disimpan. Dia menegaskan tidak ada kepentingan apapun dalam hal penyaluran bantuan ke Alor.

 

Tak Ada Kepentingan

“Saya masih ada WA-nya, saya bisa tunjukan bahwa kami tidak punya kepentingan apapun,” ucapnya.

“Nah, kemudian saya masih punya bukti WA bahwa saya tidak ada punya niat apapun terus begitu barang tidak bisa masuk,” ujarnya.

“Beliau (Ketua DPRD), menawarkan ‘Bu, itu ada paket dari dolog yang ibu bisa ganti karena kita tidak bisa merapat bantuan karena cuacanya buruk sehingga Syahbandar tidak bisa melaut kapal-kapal semua berhenti’. Kemudian, ‘oke Bu, tidak apa-apa dari dolog nanti kami bayar,” tutur Risma.

Setelah itu, disebarkanlah bantuan bencana ke Alor. Namun Risma menegaskan bahwa bantuan yang dikirimkan bukan PKH.

“Karena kami tidak bisa, karena banyak sekali (yang membutuhkan) saat itu kami tidak bisa kontak siapapun di situ. Seperti itu, akhirnya dibagi tapi tidak ada [kepentingan apapun],” ucapnya.

“Tapi sekali lagi itu bukan PKH. Kami mulai bulan Januari tidak ada bantuan sosial dalam bentuk barang, itu adalah bantuan bencana,” kata Risma. n bad/erc/cr2/rmc