Tujuan Vaksin adalah Agar Masyarakat Tidak Meninggal

Vaksinasi yang dilakukan RSTKA Airlangga di Pelabuhan Tanjung Perak. SP/Semmy Mantolas

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Proses vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia hingga kini terus bergulir. Dari data yang diupload di laman covid19.go.id, hingga hari ini pukul 13:50 WIB, sekitar 45.224.650 orang yang telah mendapatkan vaksinasi ke-2. Sementara untuk dosis pertama sebanyak 79.657.762 orang.

Per hari ini, setidaknya ada tambahan vaksinasi dosis kedua sebanyak 142.406 orang. Sementara untuk dosis pertama bertambah 90.456 orang. Kendati terus bertambah, target 2 juta vaksin covid-19 hingga hari ini belum juga tercapai.

Meski belum mencapai, data dari kementrian kesehatan, rerata dalam sehari penyuntikan vaksin covid-19 berada di angka 1,7 juta dosis.

Kendati vaksinasi terus meningkat, angka terkonfirmasi positif juga bertambah. Masih dari laman covid19.go.id, hingga pukul 13:50, jumlah pasien yang terkonfirmasi positif sebanyak 4.192.695 orang. Sementara untuk jumlah kematian berada di angka 140.634 orang.

Menanggapi akan hal tersebut, Ahli Vaksinologi Universitas Airlangga Dr. dr. Dominicus Husada., DTM&H., MCTM(TP)., SpA(K) menyampaikan, vaksinasi ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi berat atau mengurangi resiko kematian. Atau dengan kata lain, vaksin bukanlah perlindungan terhadap infeksi.

"(Jadi) bukan perlindungan terhadap infeksi. Perlu dipahami tujuan vaksin ada 4, yaitu jangan mati, jangan sakit berat, jangan sakit sedang dan jangan tertular, kata dr. Dominicus Husada, Selasa (21/09/2021).

Hingga saat ini kata dr. Dominicus, efektifitas vaksin masih pada angka 50 hingga 80 persen. Kendati begitu, untuk menghadapi virus covid-19 vaksin dianggap masih sangat efektif. Dan secara epidemiologi, vaksinasi orang dewasa atau di atas 18 tahun lebih menguntungkan.

Walau begitu, ada beberapa jenis vaksinasi yang telah disetujui oleh beberapa negara untuk diberikan pada anak di bawah usia 18 tahun. Di dunia, setidaknya ada 4 vaksin yang di approve oleh beberapa negara, diantaranya adalah vaksin Pfizer dengan ijin pertama untuk diatas 16 tahun, selanjutnya diijinkan untuk 12 keatas. Berikutnya ada vaksin Sinovac dengan rentan usia 3-12 tahun, tapi disetujui BPOM untuk 12 keatas.

Ketiga ada vaksin moderna dengan rentan usia 12 - 17 tahun, dan terakhir adalah Sinopharm untuk 3-17 tahun dan telah digunakan oleh Uni Emirat Arab.

"Vaksin untuk anak yang perlu diperhatikan adalah dampak pada anak-anak," ucapnya.

Terkait varian baru khususnya varian delta, dr. Dominicus mengingatkan, sejauh ini semua vaksin menunjukkan penurunan kemampuan saat menghadapi varian delta. Meski begitu, penurunan tersebut masih dalam batas yang dipersyaratkan WHO.

Hal ini terjadi karena varian delta memiliki ciri yang sedikit berbeda, terutama efisiensi dalam perlekatan pada sel, sehingga dapat menular lebih cepat.

"Tapi  belum ada bukti bahwa varian delta menambah severity, artinya kalau kena delta lebih besar peluang mati, itu ndak. Kena lebih mudah, ya. Masalahnya kalau banyak yang kena, rumah sakit penuh nggak mampu mengatasi, sehingga resiko meninggal lebih tinggi, tapi bukan karena Delta," ucapnya.

"Semua paper di dunia menyatakan varian Delta menurun dibanding aslinya, tapi masih diatas persyaratkan WHO. Tidak ada satu ahli pun yang menyarankan vaksin baru untuk Delta. Vaksin yang lama masih cukup untuk menghadapi delta," tegasnya lagi.

Senada dengan itu, Dokter Spesialis Patologi Klinik dr. Fauqa Arinil Aulia, Sp.PK menjelaskan, virus covid-18 memiliki 4 protein utama yang sangat memungkinkan untuk terus melakukan adaptasi dalam mempertahankan hidupnya.

Sehingga, mutasi varian baru normal terjadi di berbagai virus. Mutasi tersebut berhubungan dengan perubahan yang terjadi pada materi genetik (RNA) ketika virus bereplikasi. Dikatakan varian apabila suatu virus atau beberapa melakukan mutasi RNA.

"Jadi virus akan terus mengalami adaptasi dalam proses seleksi alam dan juga mengalami evolusi sehingga lebih mudah beradaptasi dibandingkan dengan varian aslinya," kata dr. Fauqa menjelaskan

Terhadap mutasi tersebut, intinya adalah semakin banyak beredar dan berpindah inang, semakin banyak pula virus dapat berubah. Sehingga yang perlu diperhatikan dan dicermati yakni bahaya dari mutasi virus tersebut.

"Apabila terjadi perubahan karakteristik virus akibat mutasi, kalau bermutasi maka transmisi lebih cepat, derajat keparahan penyakit lebih berat, efektivitas vaksin menurun, kemampuan dideteksi oleh alat diagnostik menurun, serta munculnya gangguan aktivitas sosial masyarakat," jelasnya.

Kendati begitu, terhadap semua varian baru covid-19 yang mungkin muncul di Indonesia, dr. Fauqa menyatakan supaya masyarakat tidak perlu terlalu khawatir.

"Tetap melakukan protokol kesehatan 6M dengan baik dan konsisten, tidak perlu paranoid, tetap ikhtiar dan berdoa. Semoga varian apapun dan bagaimanapun dapat diatasi dengan baik" ucapnya.

Sebagai informasi, setidaknya telah ada 4 varian baru yang telah masuk ke Indonesia diantaranya adalah varian alpha, beta, gamma serta yang terbaru adalah varian delta yang sempat menjadi faktor lonjakan kasus di Indonesia pada Juli lalu.

Khusus varian delta, data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes) per 25 Agustus 2021 mencatat, ada sekitar 2.097 varian Delta yang sebarannya telah meluas hingga ke 31 provinsi di Indonesia. sem