Ucapan Risma, Turunkan Elektabilitas Eri Cahyadi dan Muluskan MA

Catatan: Dr. H. Tatang Istiawan

 SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Wali Kota Risma, tiap hari menggunakan hijab. Ia sehari-hari di depan publik selalu menutup auratnya dengan hijab. Ini syariat sebagai bentuk nilai ketaqawaannya kepada Allah Ta’ala. Tapi kejadian Senin (29/6/2020) siang didepan pengurus IDI (Ikatan Dokter Indonesia) cabang Jatim dan Surabaya, ia berbicara seperti bukan seorang pemimpin publik. Bahkan saya curiga Risma, jarang mengikuti pengajian tentang ahlak.

 Salah satu ajaran Islam tentang ahlak bahwa seorang muslimah dan muslim harus senantiasa menjaga lisannya (bicaranya). Mengingat setiap perkataannya selalu didengar oleh Allah. Kelak dia harus mempertanggung jawabkan ucapannya. Guru ngaji ahlak saya menasihati untuk menjaga lisannya, seorang muslim atau muslimah dituntut bisa menjaga hatinya agar tidak keruh.

 Ini karena lisan seseorang, berasal dari apa yang tersimpan dalam alam bawah sadarnya. Jadi yang diucapkannya adalah apa yg ada di dalam hati dan pikirannya. Makanya, saat Wali Kota Risma berkata “Ya saya memang goblok, gak pantas jadi wali kota Surabaya.”

 Banyak warga kota yang terkejut dengan lisan Risma. Menggunakan teori bawah sadar, dapat terjadi apa yang keluar dari mulut seseorang itulah yg dipikirkan dan terekam. Tak salah bila ada yang menganalisis ucapan spontan Risma ditengah kerumunan dokter, memang hal yang dipikirkan bahwa dirinya sebenarnya tak pantas menjadi seorang wali kota Surabaya. Seorang kader PDIP Surabaya menuding apa yang terjadi selama ini hanyalah hasil setting konsultan politik Risma.

 ***

 Apalagi ucapannya disampaikan saat pandemi covid 19 yang terjadi jelang pemilukada 9 Desember 2020.

 Akal sehatnya, Wali Kota Risma yang punya ambisi “pengisi” jabatannya adalah Eri Cahyadi, kader di Pemkot, bukan yang lain, termasuk wawalinya, Wishnu Sakti Buana.

 Sebagai pengusung berat Eri Cahyadi, dalam pemilukada Surabaya 2020, Risma tidak menggunakan akal sehat yaitu mesti hati-hati dalam menjaga lisannya.

 Ia saat berucap di depan para dokter lupa bahwa warga kota sebagai konstituen saat ini terus menilai semua ucapannya, perilakunya dan sikapnya. Termasuk calon-calon pemimpin walikota termasuk rivalnya, Irjen (Purn) Machfud Arifin. Apalagi, Wali Kota Risma, dua tahun terakhir ini sangat mencolok menyorongkan Eri Cahyadi, Kepala Bapeko Surabaya ketimbang Whisnu Sakti Buana, wawalinya, untuk menjadi kandidat pilkada Surabaya 2020.

 Praktis secara politis, ucapan semua kandidat walikota bersama pengusungnya, akan dinilai oleh rakyat (warga kota). Ucapannya juga dipertanggungjawabkan kepada Allah.

 Guru ngaji saya mengingatkan seorang pemimpin harus dapat menjadi panutan bagi para pengikutnya. Termasuk harus mampu tampil menyelaraskan antara ucapan dan perbuatannya. Didalamnya seorang pemimpin bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku, dan keputusan-keputusan yang diambilnya.

 Dengan kejadian hari Senin yang lalu, apakah Wali kota Risma, termasuk tokoh yang patut diteladani?. Warga kota yang akan menilainya.

Risma, bisa dituding, seorang kepala daerah yang tidak berhati-hati dalam menjaga lisan. Sepertinya saat Risma, mengucapkan pernyataan Senin lalu, ia lupa adalah pemimpin umat di Surabaya. Bisa jadi Risma, tak sadar bahwa saat itu dia adalah pemimpin daerah yang punya tanggung jawab lebih besar dari sebatas memimpin dirinya sendiri dan keluarga. Bahkan ia lalai tindak-tanduknya sebagai Wali Kota Surabaya selalu menjadi sorotan masyarakat.

 Ia juga bisa tak sadar bahwa urusan lisan bisa menggerakan dan menghancurkan dirinya. Dan dengan lisannya, seseorang bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Saya masih ingat saat ikut pendidikan kepemimpinan di organisasi perbankan tahun 1989, lisan seseorang harus dijaga. Apalagi sebagai pimpinan.

 ***

 Sebagai praktisi media saya tahu bahwa pandemi virus corona (Covid-19) berdampak sangat luas, bahkan hingga sektor ekonomi dan politik.

 Pendeknya, pandemi Covid-19 ini telah menimbulkan efek domino yang luar biasa. Terutama masalah kesehatan menjadi masalah sosial, masalah ekonomi, masalah keuangan, dan masalah politik. Ini dijalani wali kota Surabaya yang suka mengklaim memperjuangkan kesehatan warga Surabaya, sampai melakukan manajemen konflik dengan siapa pun, termasuk dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa.

 Pengamatan saya, saat menghadapi dampak Covid-19 dari sisi kesehatan, Wali Kota Risma, juga melihat ke dalam dampak ekonominya. Karena mereka adalah warganya yang tinggal di kampung-kampung sebagai salah satu pusat-pusat kerumunan masyarakat.

 Suka atau tidak, sadar atau tidak, dampak politik ucapan Risma Senin lalu telah membawa efek domino dan menimbulkan eskalasi politik secara cepat dan dinamis dalam menyongsong pemilukada Surabaya 2020.

Tampaknya, efek domino itu juga mengarah kepada perseteruan secara head to head Risma dan kelompoknya dengan Wishnu Sakti Buana dengan kelompok kader dan simpatisan PDIP di Surabaya.

***

Dalam pandangan saya, lisan (ucapan) Risma, Senin lalu, bisa membuat turunnya elektabilitasnya. Termasuk Eri Cahyadi, jago satu-satunya dalam Pemilukada Surabaya 2020.

Dan prediksi saya, lisan Risma yang diucapkan sambil bersujud di kaki seorang dokter pengurus IDI, bisa menjadi jebakan serius pada karir politiknya sekarang dan mendatang.

“Kecelakaan” yang dilakukan wali kota Risma ini bisa menjadi berkah bagi Cawali Irjen (Purn) Machfud Arifin.

Bisa jadi, tak lama lagi sejumlah lembaga survei turun ke lapangan. Bisa ditebak akan ada lembaga survei yang bakal memprediksikan stagnansi dan fluktuasi keterpilihan calon yang diusung wali kota Risma. Bulan-bulan ini dan seterusnya, tim pemenangan MA dan Risma, bisa saling mengklaim bahwa kandidat yang diusungnya memiliki potensi elektabilitas yang cenderung naik. Termasuk Calon yang disorong Risma.

Bisa jadi cawali MA yang diusung tujuh parpol akan mengklaim elektabilitasnya hampir menyamai Eri, bahkan jarak elektabilitas hanya terpaut dibawah 10 persen lebih kecil dari cawali yang dibopong Risma.

Bahkan bisa jadi cawali MA mengklaim juga memiliki data internal yang tidak dipublikasikan. Data survei MA, bisa menunjukkan secara keseluruhan elektabilitasnya menjadi lebih kuat, karena relawan dan mesin parpol pendukungnya bahu membahu menggarap kampung-kampung yang dulu dikenal basis kader dan simpatisan PDIP.

Bukan tidak mungkin ucapan Risma Senin lalu, menjadi penyulut MA meningkatkan kampanyenya secara leluasa ketimbang cawali yang diusung Risma. Maklum, rekomendasi untuk cawali andalan Risma, sampai 1 Juli 2020, belum diturunkan Ketua Umum PDIP, Megawati. Bahkan bisa jadi dengan cara wali kota Risma, berkomunikasi, rekomendasi dari Megawati, malah menyeberang ke Wishnu Sakti Buana. Dalam politik praktis, ini bisa terjadi. [email protected]