Unair Kembangkan Vaksin Oral, Obat Virus dan Stem Cell Covid 19 Murah

Rektor Universitas Airlangga Prof Mohammad Nasih saat penandatanganan Kerja Sama Pengembangan Vaksin Merah Putih. Sp/byta Indrawati

 

Wawancara Khusus dengan Prof. Ni Nyoman  Tri Puspaningsih, Peneliti Vaksin Merah Putih Unair

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Nasib masa depan pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini mulai ada sinar terang. Pasalnya, salah satu vaksin yang sedang dikembangkan oleh Indonesia, yakni vaksin Merah Putih mulai masuk babak baru. Universitas Airlangga (Unair) Surabaya kini menjadi salah satu penelitian pengembangan vaksin merah putih. Selain vaksin Merah Putih, Unair juga tengah mengembangkan vaksin oral untuk virus Covid-19. Targetnya, vaksin merah putih dan oral ini akan bisa dilepas ke masyarakat dengan harga yang terjangkau.

Sejak awal wabah Covid-19 merebak, peneliti Unair aktif bergerak. Tidak saja mengembangkan vaksin, tapi juga obat, hingga stem cell yang diharapkannya mampu memberikan dampak signifikan dalam upaya memerangi Covid-19.

Unair terus menggenjot percepatan pengembangan vaksin yang diberi nama Vaksin Merah Putih. Vaksin Merah Putih Unair kini telah selesai melakukan uji tahap 1, 2, dan 3, yakni tahap menghasilkan rekombinan viral vector adenovirus dan adeno associate virus.

Untuk mencapai kesempurnaan, Vaksin Merah Putih Unair harus menempuh dua tahap tersisa. Yakni tahap 4 validasi dan uji pre klinis. Setelah itu, baru akan masuk di tahap 5, yakni uji klinis sebanyak tiga tahap. Prosesnya memang diakui masih panjang.

Tim wartawan harian Surabaya Pagi dan SURABAYAPAGI.com berkesempatan mewawancara peneliti dari konsorsium pengembangan Vaksin Merah Putih dan vaksin oral dari Unair secara daring, Rabu (11/11/2020).

 

Tahap Validasi

Salah seorang peneliti dari konsorsium pengembangan Vaksin Merah Putih, Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih, menjelaskan, vaksin merah putih masih belum memasuki tahap uji klinis tahap 1 ataupun tahap 2 dan tahap 3. Pasalnya, vaksin merah putih masih dalam tahap validasi awal. Dikarenakan, masih akan menggabungkan beberapa tipe jenis spike dari beberapa dunia.

"Vaksin telah menghasilkan rekombinan dan memasukkan spike, baik world type, strain Wuhan maupun strain spike mutan yang ditemukan di Surabaya," kata Prof Ni Nyoman, Rabu (11/11/2020). Tahap validasi ini, tambah Prof Ni Nyoman, adalah tahapan uji tantang yang akan selesai pada akhir November 2020 ini.

Lantas, bagaimana perjalanan proses di animal trial? Apakah ada hambatan didalamnya ?

Prof Ni Nyoman menjelaskan, saat ini masih uji pre-klinis hewan yang akan dilakukan di PT Biotis Pharmaceutical. “Ini masih uji pre klinis pada hewan. Jadi masih belum dilakukan. Itupun akan dilakukan pada Desember bulan depan, sampai Oktober tahun 2021 mendatang,” tegasnya.

Jadi, untuk proses perjalanan untu mencapai kata final result, Prof Ni Nyoman masih belum memastikan kapan akan dilepas ke pasar. Pasalnya, masa animal trial yang rencananya akan diujikan ke tikus dan kera, butuh proses hampir satu tahun.

 

Kerjasama Diaspora

Meski begitu, penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Unair ini, semuanya dikembangkan dan dilakukan oleh para ilmuwan Indonesia. Bahkan, tim peneliti juga bekerjasama dengan diaspora alumni Universitas Airlangga yang menyandang gelar Profesor dari universitas luar negeri. “Kami melibatkan diaspora alumni Unair yang menjadi Profesor di Manchester University,” kata Prof Ni Nyoman.

Meski begitu, Prof Ni Nyoman mendetailkan, meski masih dalam tahap uji pre-klinis, vaksin merah putih sudah bisa dikatakan berhasil dan menghasilkan vector adenovirus serta adenoascociate virus.

Sementara, dihubungi terpisah, Rektor Unair Prof Nasih sendiri, mengaku sejauh ini sudah melakukan pengembangan dan penelitian vaksin Covid-19 secara masif. Setelah uji coba terhadap hewan berhasil, maka akan dilanjutkan uji coba pada manusia. Namun, langkah tersebut masih memerlukan waktu dan beberapa tahap lanjutan.

“Proses masih panjang, tapi kami para akademisi Unair terus bergerak untuk berkontribusi pada bangsa dan negara. Soal nanti penelitiannya dipakai atau tidak, nanti akan diserahkan ke pihak-pihak yang relevan,” ucap Prof Nasih, Rabu (11/11/2020).

Selain dengan Biotis, Unair juga bekerja sama dengan Kimia Farma untuk penyediaan bahan senyawa obat Covid-19 yang selama ini dikembangkannya dan terkait pengembangan reagen tes PCR. "Jadi tes PCR selama ini ada tiga tahapan, yakni pengambilan swab, lalu mencampur proses persiapan, baru masuk ke mesin PCR. Nantinya tahapan persiapan akan dipotong sehingga dampaknya PCR akan lebih cepat, dan pastinya lebih murah,” katanya.

Untuk investasi pengembangan vaksin dari Unair tersebut, perseroan menyiapkan investasi ratusan juta dolar AS. Namun begitu, ia akan memanfaatkan fasilitas produksi yang dimiliki untuk disesuaikan dengan penyediaan vaksin Covid-19.

"Kebetulan kami punya fasilitas yang tidak didesain untuk Covid-19, tapi akan kami ubah sedikit bisa menyesuaikan untuk memproduksi vaksin," kata dia.

 

Vaksin Oral

Ternyata, tak hanya vaksin merah putih yang dikembangkan oleh Unair. Juga vaksin Oral yang saat ini sedang dilakukan oleh tim Unair, yang diketuai Prof. Maria Lucia Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D. Vaksin yang sebelumnya ditujukan untuk penyakit influenza ini akan dikembangkan.

"Sebelumnya vaksin oral ini buat penyakit influenza, tapi sedang dikembangkan untuk virus covid-19," ungkap Prof. Maria Lucia Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D., saat di wawancarai oleh tim Surabaya Pagi via panggilan suara.

Ketua LPT Unair itu mengatakan bahwa, vaksin oral sudah resmi di luar negeri, dan akan resmi juga di Indonesia setelah melalui beberapa tahap. Bekerjasama dengan company Kanada, vaksin ini akan  bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

"Nanti setelah diresmikan, selain harga nya murah, vaksin ini juga lebih mudah didistribusikan," pungkas Prof. Inge, sapaan Ketua LPT Unair ini kepada Surabaya Pagi.

 

Kembangkan Reagen Plus

Universitas Airlangga Surabaya mengembangkan reagen yang diberi nama “reagen+” yang diklaim dapat memberikan hasil deteksi Covid-19 lebih cepat.

“Reagen+ memiliki keunggulan hasil PCR yang hanya membutuhkan waktu dua jam, jauh lebih singkat dibandingkan reagen sebelumnya yang membutuhkan waktu hingga 24 jam,” ujar Prof Mohammad Nasih Rektor Unair di Surabaya, Rabu (11/11/2020).

Untuk pengadaan proses, lanjutannya, pihaknya akan bekerja sama dengan Kimia Farma.

Selain itu, proses tes PCR biasanya ada tiga tahapan, yakni pengambilan serat, mencampur proses persiapan dan terakhir masuk mesin PCR.

Sedangkan, dalam proses Reagen+, persiapan di tahap kedua bisa dipotong, sehingga hanya membutuhkan dua tahap sebelum masuk ke PCR. “Reagen+ untuk PCR ini juga kerja sama dengan TNI agar bisa digunakan oleh mereka. Jika prosesnya lancar, bisa dimanfaatkan ke tempat-tempat yang lain,” katanya. mbi/byt/cr4/rmc