Ungkap Cukong Partai Mahasiswa Indonesia

Ketua Umum Partai Mahasiswa Indonesia, Eko Pratama

Pengamat Politik Jerry Massie, Pendirian Partai ini Guyonan Politik

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Saat ini publik soroti munculnya Partai Mahasiswa Indonesia (PMI). Apalagi Ketua umumnya diambil dari mahasiswa Perguruan tinggi swasta di Surabaya. Eko Pratama, tercatat mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Saat Orde Baru dulu, kampus ini dikenal kampusnya orang Golkar Jatim. Di kalangan BEM Surabaya, namanya tak dikenal. Wajar Pengamat politik Jerry Massie berpendapat, Partai ini guyonan politik.

“Saya pikir partai mahasiswa hanya guyonan politik. Mana ada di belahan dunia ini ada partai mahasiswa? Kalau partai buruh, konservatif, demokrat, libertarian, republik dan lainnya ada,” komentar Jerry, Senin (25/4).

Apalagi, Eko Prarama, yang diklaim ketua BEM Nusantara,, tak ikut demo 11 April 2022 yang digelar BEM SI. Tapi ikut dialog dengan Ketua Watimpres, Wiranto.

Dari fakta ini, Jerry memandang perlu diungkap pemilik modal yang membiayai pendirian Partai Mahasiswa Indonesia.

“Sponsor mereka harus diungkap ke publik, biar tahu cukong di belakang entah harimau, singa atau naga?” harapnya.

Lebih lanjut, Jerry mengkalkulasi biaya pendirian suatu Parpol tak murah, bisa mencapai ratusan miliar rupiah dan itu hanya untuk biaya operasional.

“Emangnya bikin Parpol sama dengan bikin PAUD anak Balita!,” herannya.

“Silahkan, perlu diaudit juga berapa modal dan siapa penyantun dana mereka jika lolos verifikasi dan ikut Pemilu maka hal tersebut sudah tak masuk akal atau di luar nalar,” kata Jerry lagi.

Senada pengamat politik yang dikenal kritis, Umar Sholahudin mengatakan, diduga kuat PMI ini adalah produk dari rahim kekuasaan yang berkuasa. Pasalnya, PMI adalah metamorfosis dari BEM yang juga lahir rahim kekuasaan, BEM Nusantara, yang cenderung pro kekuasaan (rejim).

“Ada tangan kekuasaan untuk memecah gerakan mahasiswa dan lumayan suskes, karena sudah ada ada BEM Nusantara dan BEM SI,”ucapnya.

Menurut akademisi dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini, gerakan mahasiswa jika sudah jadi partai, maka jadi gerakan politik praktis. “Padahal sejatinya gerakan mahasiswa adalah gerakan moral,” tegas alumni Unair Surabaya ini.

Umar menambahkan, mendirikan  partai bukan seperti bikin kue atau makanan yang modanya pas-pasaan. “Buat partai pasti butuh modal finansial cukup besar. Nah, dari  mana uang gede yang dipakai mahasiwa untuk buat partai? Saya menduga ada "broker politik oligarkhi'  yang berkepentingan untuk itu,”terangnya.

Umar menyarakan, lebih baik gerakan mahasiswa kembali ke khittahnya. “Gerakan intelektual irganik (gramsci) yang moralis dan kritis terhadap kekuasaan dan bersuara keras terhadap praktik politik oligarkahis saat ini yang mengorbankan kepentingan rakyat banyak.  Gerakan politik praktis PMI hanya akan jadi alat politik tangan kekuasaan yang berkuasa dan para oligarkhi politik yang ada,”pungkas Umar.

Terpisah, Wahyunita Andari Sifa, salah satu mahasiswa dari Surabaya menduga jika partai politik baru ini memang sengaja didirikan untuk memecah belah mahasiswa yang belakangan ini kerap mengkritik kebijakan pemerintah.

“Karena jika dipikir aneh mahasiswa bermain politik praktis, lagian membentuk partai uangnya dari mana? Siapa yang membiayai pendirian partai ini perlu dipertanyakan dan diselidiki, mahasiswa aja masih minta uang ke ortu. Lah ini malah bentuk partai,”ungkapnya pada Surabaya Pagi.

Senada dengan Rahmat Yusuf Abdullah, seorang mahasiswa sosial politik (Sospol) di Surabaya mengatakan, biasanya yang ingin membuat partai, membutuhkan persiapan yang matang dan memerlukan waktu. Tapi melihat Partai Mahasiswa berdiri hanya karena dipanggil oleh kekuasaan, dimana belum ada hitungan bulan sudah ada partai mahasiswa, ia menilai begitu kotornya negeri ini dan aneh.

‘’Kita sebelumnya lepas dari penjajah Belanda, ternyata saat ini kita dijajah lagi oleh penjilat-penjilat negeri sendiri. Justru dalangnya anak bangsa sendiri, sungguh aneh, gak habis pikir saya.’’jelasnya.

Selain itu, Ia mengaku dengan berdirinya Partai Mahasiswa Ini juga termasuk pembungkaman.’’Nanti mahasiswa nggak boleh demo, salurin aja aspirasinya lewat wakilnya di DPR. Dalam hal ini pemerintah juga terkesan memudahkan prosesnya, ada apa nih rezim ini. Suka banget adu domba, buat perpecahan. Mahasiswa Yo mahasiswa kok ber partai ?’’ ujarnya. min, ana, rc, jk3