Usai Nikmati Kebebasan, Kini Perempuan Tercekam Aturan Taliban

Zarifa Ghafari, wali kota perempuan pertama di salah satu kota di Afghanistan saat berbicara di depan kongres International Woman of Courage, beberapa waktu lalu. SP/Reuters/Karim W

Sampai Semalam Ribuan Warga Afghanistan Masih Berebut Pesawat

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Kabul - Gejolak di Afghanistan meski di ibu kota Kabul tidak ada kerusuhan, ribuan warga Afghanistan kelas menengah atas mulai membanjiri landasan pacu Bandara Kabul. Mereka ingin segera meninggalkan negaranya. Ada yang berusaha menghalangi lepas landas salah satu pesawat Angkatan Udara AS. Cukup banyak warga yang nekat menaiki roda, sayap, hingga atap pesawat demi bisa mendapat kursi terbang keluar Afghanistan.

Media lokal di Kabul melaporkan beberapa orang tewas akibat terjatuh dari pesawat saat kapal terbang itu lepas landas. Dua warga Afghanistan juga dilaporkan tewas oleh pasukan AS karena kedapatan membawa senjata di tengah kerumunan warga.

Tapi menariknya, perempuan dan gadis Afghanistan tak banyak yang padati bandara. Mereka masih belum terusik dengan kedatangan militan Taliban di kota-kota besar Afghanistan. Kabarnya kaum perempuan masih sibuk dengan kebebasan menentang gerakan militan Islam 20 tahun lalu.

Kebebasan termasuk bermain sepak bola perempuan. Dalam dua tahun sejak ditangani pelatih mantan pemain nasional AS Kelly Lindsey, klub Afghanistan meningkat dari urutan 128 peringkat FIFA menjadi peringkat ke-106.

Kemajuan itu dicapai terlepas dari sifat 'unik' tim ini karena semua pertandingan dan kamp pelatihan harus diadakan di luar negeri demi alasan keamanan.

Skuad sepak bola Afghanistan gabungan pemain dari diaspora Afghanistan di seluruh dunia dan mereka yang masih tinggal di Afghanistan. Mereka ada yang hidup di Australia, Eropa dan Amerika Utara.

 

Janji Lindungi Hak Perempuan

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menggelar jumpa pers pertama setelah mengambil alih ibu kota Afghanistan, Kabul. Menyadur Al Jazeera Rabu (18/08/2021), ada beberapa janji Taliban untuk Afghanistan.

Terkait hak perempuan, Zabihullah Mujahid berkata Taliban akan melindungi hak-hak perempuan Afghanistan sesuai dengan ajaran Islam. "Hak-hak perempuan akan dilindungi dalam kerangka Islam," janjinya.

Sebelum jumpa pers, legislator Farzana Kochai masih mengkhawatirkan hidupnya. Ini menyusul kekacauan dan ketidakpastian akibat pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban. Ia termasuk tak percaya dengan janji juru bicara Taliban.

Meski demkian, Kochai memastikan, orang Afghanistan tidak akan mentolerir kembalinya bentuk-bentuk pemerintahan ekstremis yang paling keras.

Perasaan mencekam dialami bidan Nooria Haya, yang secara rutin mengikuti pertemuan dan diskusi dengan dokter laki-laki.

Pertemuan membicarakan perawatan bagi penduduk setempat .

Klinik ini berada di Ishkamish, sebuah distrik pedesaan dengan fasilitas terbatas di provinsi Takhar, perbatasan timur laut Afghanistan dengan Tajikistan.

Perempuan berusia 29 tahun itu mendapati bahwa pertemuan antara staf laki-laki dan perempuan dilarang.

Itu adalah perintah pertama yang diberikan Taliban kepada mereka ketika kelompok tersebut menguasai Ishkamish, kata bidan Nooria, kepada media lokal, Selasa (17/8/2021).

 

Pertemuan dengan Pria Dilarang

Seperti warga Afghanistan lainnya, Legislator Farzana Kochai sampai kini memilih berdiam diri di rumah. Sambil mengikuti situasi bagi wakil-wakil terpilih seperti dia  atau siapa pun  di bawah kelompok yang memberlakukan adat dan hukuman Islam yang ketat.

Demikian juga seorang aktivis perempuan lulusan Inggris yang kini bermukim di Kabul. Ia tak menyangka Taliban kembali berkuasa.

Aktivis perempuan ini mengatakan telah mengkaji pemimpin Taliban yang telah membuat jaminan usai menaklukan Afghanistan, perempuan dan anak perempuan akan memiliki hak untuk bekerja dan pendidikan.

Padahal satu dua hari ini pasca Taliban menguasai Afghanistan, ada kekhawatiran dimana kebebasan perempuan terancam.

Makanya, wali kota perempuan pertama di Afghanistan, Zarifa Ghafari seperti dilansir dari The Sun, mengaku saat ini hanya menunggu kedatangan Taliban ke rumahnya untuk membunuhnya.

"Saya duduk di sini menunggu mereka untuk datang. Tidak ada seorang pun yang datang membantu saya atau keluarga saya. Saya hanya duduk bersama keluarga saya dan suami saya. Dan mereka akan datang ke orang-orang seperti saya dan membunuh saya," kata dia.

Zarifa Ghafari mengungkapkan tidak bisa pergi dari Afghanistan dan meninggalkan keluarganya. Lagipula, dia juga mengaku tidak tahu akan pergi ke mana.

"Saya tidak bisa meninggalkan keluarga saya. Dan lagipula, ke mana saya akan pergi?" kata dia lagi.

Selama ini, Zarifa Ghafari merupakan perempuan yang pertama kali menjadi wali kota di Afghanistan, tepatnya di Maidan Shahr. Dia didaulat menjadi wali kota pada tahun 2018 lalu.

 

Berbeda dengan Pemerintah Sebelumnya

Pemerintahan baru Taliban berjanji akan berbeda dengan kepemimpinannya pada tahun 1996-2001. Kala itu, pemerintahan Taliban sangat ketat, terutama terhadap kaum perempuan.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa pemerintahan saat ini banyak bedanya dengan pemerintahan zaman sebelumnya. Mereka berjanji tak akan membalas dendam.

"Semua yang berseberangan akan diampuni, dari A sampai Z. Kami tidak akan membalas dendam," kata Zabihullah, dilansir AFP, Selasa (18/8/2021).

Taliban berjanji akan menggandeng semua pihak untuk membentuk pemerintahan yang baru. Mereka juga akan memperhatikan hak-hak perempuan. Ke depannya, perempuan akan diperbolehkan bekerja di pemerintahan.

Taliban ingin menahan diri dan menunjukkan sikap yang lebih moderat kali ini.

"Kami Berkomitmen untuk membiarkan perempuan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Mereka yang bekerja di bagian atau kementerian pemerintah mana pun harus melanjutkan tugas mereka dengan penuh dan melanjutkan tugas mereka tanpa rasa takut," kata Zabihullah.

Sebelumnya, saat masih memegang kekuasaan pada 1996-2002, Taliban sempat mewajibkan perempuan memakai burqa, laki-laki harus berjenggot dan tidak diperbolehkan menonton TV yang tidak berakitan dengan keagamaan.

Kini, Taliban dikabarkan akan mengubah aturan tersebut. Perempuan tidak lagi wajib mengenakan burqa. Namun, pakaian perempuan seperti apa yang bisa diperbolehkan masih belum dijelaskan secara rinci.

Beberapa perempuan telah diperintahkan dari pekerjaan untuk berhenti bekerja di seluruh negeri dalam beberapa hari terakhir.

Sementara aktivis perempuan yang lain masih takut dengan janji para militan, yang kenyataannya mungkin berbeda.

"Waktu telah berubah," kata Khadijah, yang mengelola sekolah agama untuk anak perempuan di Afghanistan.

"Taliban sadar mereka tidak bisa membungkam kami, dan jika mereka mematikan internet, dunia akan tahu dalam waktu kurang dari 5 menit. Mereka harus menerima siapa kami dan menjadi apa kami," ungkapnya.

Penentangan itu mencerminkan generasi perempuan, terutama di pusat-pusat kota, yang tumbuh dengan mampu bersekolah dan universitas dan mencari pekerjaan tidak tahu dengan ancaman pasukan militan Islam Taliban. n zak/rtr/cnn/cr2/rmc