Vaksin Pfizer Lebih Ampuh dari Sinovac

Vaksin Pfizer

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Vaksin milik perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Pfizer yang bekerja sama dengan BioNTech memberikan kabar baik untuk dunia. Pasalnya vaksin ini disebut ampuh mencegah virus hingga 90 Persen. Bahkan, diklaim bisa lebih baik dari vaksin Sinovac, yang dipesan oleh Pemerintah RI dari China.

Meski begitu, virolog sekaligus analis kebijakan publik, Sidrotun Naim menyebutkan, lebih baik Indonesia fokus pada pengembangan vaksin mandiri sendiri seperti vaksin Merah Putih.

"Pfizer tahun ini hanya bisa produksi 50 juta dosis vaksin atau untuk 25 juta orang. Artinya kita tidak akan kebagian. Kalau kita tiba-tiba mau buat perjanjian dengan Pfizer, harganya pun pasti berbeda," kata Sidrotun, Rabu (11/11/2020).

Menurutnya, kapasitas produksi Pfizer tahun 2021 diklaim bisa 1,3 miliar dosis, artinya untuk 650 juta orang. Inggris sudah pesan 30 juta dosis dan seluruh dunia rebutan.

"Sementara, uji klinis Sinovac kalau mendesak dan perlu emergency use authorization bisa dipercepat, tergantung BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Kalau aman dan efikasi tinggi, bisa segera diproduksi Bio Farma," ujarnya.

Indonesia memiliki komitmen pembelian vaksin jadi dari tiga produsen asal China, yakni Cansino, G42/Sinopharm, dan Sinovac. Khusus Sinovac, uji klinisnya masih berlangsung di Bandung, Jawa Barat.

Namun, hingga saat ini, belum ada pengumuman seberapa tinggi tingkat efikasi Sinovac. Namun merujuk pengembangan vaksin sebelumnya, Sidrotun menyebut efikasi tidak mesti mendekati 100%. "Selama ini 50-60% dianggap cukup. Pfizer bisa 90% dengan dua dosis. Cacar air dua dosis juga 97%. Vaksin influenza 46% sudah oke karena tidak dua dosis," tuturnya.

 

Sentimen Positif Ekonomi

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan berita vaksin Pfizer ini merupakan salah satu berita yang positif. Bahkan, bisa membawa sentiment positif bagi pemulihan ekonomi di seluruh dunia. "Ada beberapa berita positif disampaikan, salah satunya efektivitas salah satu vaksin corona Pfizer membawa sentimen positif ke seluruh dunia," ujar Sri Mulyani, kemarin.

Sri Mulyani menuturkan pemulihan ekonomi Indonesia kemungkinan besar baru akan berlangsung pada kuartal II 2020. Namun, menurutnya, pembalikan ekonomi telah terlihat di kuartal III 2020 dari membaiknya indikator perekonomian di mana secara agregat demand mulai mengalami pemulihan.

Karena itu, ia berharap mobilitas masyarakat yang sudah mulai membaik tetap terjaga dan kasus harian covid-19 terus menurun. Pasalnya, confident merupakan elemen yang paling penting dalam proses pemulihan konsumsi dan hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan menerapkan disiplin kesehatan yang baik.

"Konsumsi berbalik, investasi juga berbalik, ekspor juga mengalami pembalikan. Hanya impor yang mungkin dalam situasi yang cukup struggle. Kami berharap dalam kondisi penemuan vaksin maka ayunan dari pembalikan arah ini akan semakin terakselerasi," imbuh Sri Mulyani.

Sri Mulyani juga meminta seluruh pihak untuk mewaspadai ancaman gelombang kedua pandemi covid-19. Menurutnya hal ini lebih berbahaya sebab kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi peningkatan kasus tak akan sebesar kemampuan pada gelombang pertama.

"Ini tentu menimbulkan kompleksitas dari sisi policy-nya karena masyarakat sudah cukup panjang dan lelah dan ekonominya mengalami tekanan, sehingga pada saat mereka harus menghadapi second wave, maka kemampuan dan endurance-nya untuk menangani meningkatnya covid itu juga akan sangat berbeda," ujarnya. jk/erk/cr2/rmc