Vaksin Sinopharm China Dibanderol Rp 2,1 juta, Mampukah Dipasarkan

Jurnalis Muda SP, Raditya Mohammer Khadaffi

 

Catatan Covid-19 & Vaksinnya (5)

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - China, sebagai tempat pertama kali penyebaran virus Corona alias Covid-19 atau bahasa medisnya SARS-CoV-2, saat ini sedang menebus tanggungjawabnya kepada dunia untuk membuat vaksin Corona.

Pasalnya, virus yang pertama kali penyebarannya di Wuhan, China, hingga Minggu 1 November 2020, secara global kasus positifnya sudah mencapai 46,393,367 jiwa. Terbanyak adalah Amerika Serikat, yang mencapai 9,4 juta jiwa kasus. Justru China sendiri, yang penduduknya sudah mencapai 1,4 Miliar jiwa, hanya 85,997 kasus positif. Sedangkan, Indonesia, dengan penduduk 260 juta jiwa, sudah 410,088 jiwa yang terpapar positif Covid-19.

Tak heran, kini China melalui dua perusahaan farmasi besarnya, Sinovac dan Sinopharm sedang berusaha keras membuat vaksin untuk menangkal penyebaran virus Covid-19. Bila Sinovac (baca catatan saya di edisi hari Senin 2 November 2020 kemarin di harian kita), yang masih banyak memiliki kelemahan-kelemahan, yakni tidak membuka hasil uji klinisnya. Sinopharm, perusahaan farmasi lainnya asal China, disebut lebih menjanjikan ketimbang Sinovac.

Memang, secara harga, untuk pasar di Indonesia, Sinopharm rencana akan dipatok seharga tidak lebih dari 1.000 yuan setara USD 144,27 atau setara Rp 2,1 juta untuk dua kali suntik sekali dosis.

Akan tetapi, hingga akhir Oktober 2020, vaksin dari perusahaan farmasi Sinopharm, secara karakteristik mirip dengan Sinovac. Apa itu?

Dari data yang saya baca dari laman bmj.com, sebuah situs tentang pengembangan Covid-19 di dunia (referensi saya ada di https://www.bmj.com/content/371/bmj.m4037). Vaksin Sinophram itu dalam ulasan penulisnya, Peter Doshi, menyebut bahwa vaksin Sinopharm masih belum teruji bila digunakan untuk anak-anak dibawah usia 17 tahun kebawah. Artinya, hanya untuk para pasien atau penderita atau manusia sekitar usia 18 tahun sampai 65 tahun. Sedangkan diusia 65 tahun keatas pun juga belum ditemukan bagaimana kasusnya.

Vaksin ini pun juga belum teruji untuk ibu hamil dan menyusui, serta pasien yang memiliki gejala komorbid atau yang punya masalah pada imunologi.

***

Lantas bagaimana hasil uji klinis yang telah dilakukan Sinopharm?

Saya kutip dari The Lancet Infectious Diseases, para peneliti di China telah melakukan uji coba fase 1 dan fase 2 yang menunjukkan keamanan, tolerabilitas, dan imunogenisitas dari kandidat vaksin untuk SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit pandemi Covid-19.

Uji coba acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo menunjukkan bahwa vaksin SARS-CoV-2 yang tidak aktif, BBIBP-CorV, aman dan dapat ditoleransi dengan baik di antara orang sehat pada semua dosis yang diuji di dua kelompok usia, yakni usia 18 hingga 59 tahun dan 60 tahun atau lebih. (Sama seperti yang dilaporkan referensi dari bmj.com diatas.

Sementara respon imun humoral yang kuat diamati pada semua penerima vaksin. Uji coba yang dilakukan oleh Xiaoming Yang dai Beijing Institute of Biological Products dan berbagai institusi lain di China.

Dari laman The Lancet Infectious Diseases itu, dilaporkan bahwa Xiaming Yang dan rekannya memberikan catatan dan laporan, bahwa hanya reaksi merugikan ringan yang diamati, tanpa adanya reaksi merugikan yang parah dilaporkan di kedua kelompok usia. “Ini adalah laporan pertama dari vaksin SARS-CoV-2 yang tidak aktif yang diuji pada peserta manusia. Ada potensi penyelidikan lebih lanjut dari vaksin yang tidak aktif ini untuk pengendalian dan pencegahan Covid-19,” kata para peneliti.

Sementara, untuk menguji calon vaksin SARS-CoV-2 yang dilemahkan, BBIBP-CorV. Tim peneliti China yang dipimpin Xiaming Yang itu telah melakukan uji coba fase 1 dan 2 untuk peningkatan dosis, uji coba acak, tersamar ganda, dan plasebo terkontrol untuk menilai keamanan dan imunogenisitas kandidat vaksin SARS-CoV-2 yang tidak aktif ini pada manusia.

Untuk fase 1 uji coba, 192 peserta dipisah menjadi dua kelompok usia (18 hingga 59 tahun dan 60 tahun atau lebih) sebelum secara acak ditugaskan untuk menerima vaksin BBIBP-CorV atau plasebo dalam dua dosis pada waktu tertentu.

Untuk fase 2, peserta berusia 18 hingga 59 tahun secara acak ditugaskan untuk menerima injeksi intramuskular vaksin atau plasebo pada jadwal dosis tunggal dengan waktu tertentu yang telah ditentukan.

Tim melaporkan bahwa vaksin BBIBP-CorV, yang diberikan sebagai imunisasi dua dosis, aman dan dapat ditoleransi dengan baik pada ketiga dosis di kedua kelompok umur. Respon imun humoral yang kuat diamati di antara semua penerima vaksin.

Jadi selama fase 1, setidaknya satu reaksi merugikan terjadi dalam 7 hari pertama di antara 42 dari 144 orang yang menerima vaksin. Reaksi sistemik merugikan yang paling umum adalah demam.

Semua efek samping yang timbul dilaporkan hanya sebagai dampak ringan atau sedang, tanpa efek samping serius yang dilaporkan dalam 28 hari setelah vaksinasi dilakukan.

Selain itu, para ilmuwan melaporkan pada kedua kelompok usia yang diuji, titer antibodi penetral lebih tinggi pada hari ke-42 di antara penerima vaksin dibandingkan di antara penerima plasebo.

Adapun, selama fase 2, setidaknya satu reaksi merugikan terjadi dalam 7 hari pertama di antara 76 dari 336 orang yang menerima vaksin. Namun demikian, semua reaksi merugikan dilaporkan termasuk kategori ringan dan sedang serta para peserta juga telah pulih.

Reaksi sistemik yang paling umum adalah demam. Dalam uji coba fase 2, Titer antibodi penetral yang diperoleh dari vaksin pada hari ke-28 secara signifikan lebih besar di antara mereka yang menerima lebih banyak suntikan daripada mereka yang lebih sedikit, dengan ukuran 4 (diberikan berkala) banding 1 (diberi satu waktu saat awal pengujian).

Yang dan rekannya mengatakan uji coba telah menunjukkan bahwa vaksin BBIBP-CorV aman, dapat ditoleransi, dan imunogenik di antara orang dewasa yang sehat, baik bagi mereka yang berusia di bawah 60 atau 60 tahun lebih.

“Imunisasi dengan BBIBP-CorV menghasilkan induksi cepat tanggapan kekebalan terhadap SARS-CoV-2, dan akan bermanfaat dalam mencegah atau membatasi pandemi Covid-19. Studi klinis lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi potensi vaksin ini dalam aplikasi klinis,” tim menyimpulkan.

***

Kini, uji klinis tahap akhir sedang dalam proses dilakukan Sinopharm. Dikutip dari Channel News Asia, pada awal September 2020 lalu, Sinopharm kini sedang diuji di Uni Emirat Arab. Setidaknya, dilakukan terhadap 15.000 orang relawan. Perusahaan milik negara itu juga akan memasok kandidat vaksin tersebut ke Pakistan sebagai bagian dari perjanjian uji coba.

Namun, Kata peneliti vaksin tersebut menjadi kandidat respons antibodi yang kuat pada orang yang diinokulasi, tetapi tetap tidak diketahui apakah itu cukup untuk mencegah infeksi Covid-19.

Tak heran, bila target harga Rp 2,1 juta untuk dua kali suntikan, merupakan pasar Sinopharm di wilayah Timur Tengah, yang memiliki tingkat pendapatan perkapita cukup tinggi. Dimana, perusahaan farmasi Sinopharm akan dikembangkan diproduksi milik pemerintah China, yakni China National Biotech Group (CNBG).

***

Nah dengan kondisi ini, tak heran pemerintah ngebet banget ingin impor vaksin dari dua perusahaan China ini, baik dari vaksin Sinovac dan vaksin Sinopharm.

Memang, hingga Oktober 2020, vaksin Sinopharm sudah memiliki detail dan kemampuan yang lebih menjanjikan ketimbang Sinovac. Padahal vaksin Sinovac saat ini tengah diuji klinis di Indonesia, khususnya di Bandung.

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan ada tiga vaksin buatan China yang akan dapat diakses di Indonesia.

Wiku Adisasmito menyatakan bahwa pihak Sinopharm memilih Uni Emirate Arab untuk uji klinis fase III karena di sana ada 85 kebangsaan sehingga diharapkan dapat mewakili berbagai etnis bangsa di dunia. Menurut penuturan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, tersedia sebanyak 10 juta dosis di Indonesia pada 2020. Ketersediaan vaksin ini melalui kesepakatan dengan G42. Pemerintah China menyatakan bahwa telah memberikan vaksin Sinopharm pada para tenaga kesehatan sejak bulan Juli lalu.

Kini lantas Kembali lagi, virus Covid-19 di Indonesia yang sudah terdeteksi ada 14 jenis whole genome sequences (WGS) virus Covid-19. Akankah masih ngebet untuk mengimpor vaksin Sinopharm? Secara kualitas mungkin boleh, tetapi bila dengan harga Rp 2,1 juta, akankah mendapat rasa keadilan dan terpenuhi untuk seluruh warga Indonesia? Apalagi bila dipaksakan pakai Sinopharm, seluruh warga Indonesia baik dari kelas bawah, menengah dan atas, harus merogoh kocek Rp 2,1 juta.

Untuk kelas atas, mungkin tidak ada masalah. Bagaimana untuk kelas bawah? Ini yang harus segera dipikirkan secara cepat oleh Pemerintah Joko Widodo.

Wis wayahe punya vaksin mandiri sendiri untuk memenuhi Kesehatan warga Indonesia seperti yang diatur dalam Undang-undang Dasar Negara 1945. Piye? Setuju opo gak? ([email protected])