Setahun Pandemi Covid 19

Vaksinasi Sukses Jinakkan Virus Corona

7 Pasien covid-19 di RS Lapangan Kogabwilhan II yang dinyatakan sembuh pada Rabu (03/03/2021). Foto SP/Semmy Mantolas

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pandemi COVID-19 sudah berlangsung selama setahun di Tanah Air. Kasus Covid-19 di Jawa Timur sendiri secara kumulatif 130.642 kasus per Rabu (3/3/2021) dan berkontribusi 9,7 persen terhadap kasus nasional yang mencapai 1.347.026 kasus, setelah 12 bulan Covid-19 tersebar di Indonesia.

Program vaksinasi di Jawa Timur pun mulai dirasakan dampaknya. Sejak dilaksanakan penyuntikan pertama pada 14 Januari 2021 lalu, jumlah bertambah orang  yang terpapar Covid-19 di Jatim mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari grafik peta sebaran covid-19 Jatim sejak pemberian vaksinasi covid-19 tahap pertama di Jatim.

Merujuk data Pemprov Jawa Timur di laman http://infocovid19.jatimprov.go.id/ kasus corona aktif di Jawa Timur sebanyak 3.223 orang. Sembuh sebanyak 118.207 orang, meninggal  9212 orang.

Sementara pasien aktif yang dirawat di RS rujukan sebanyak 1.456 orang, RS darurat 39 orang, karantina di gedung 39 orang dan karantina mandiri 1.002 orang.

Secara persentase, kasus kesembuhan pasien (case recovery rate) Covid-19 di Jawa Timur sebesar 90,48% persen dan tingkat kematian (case fatality rate) 7,05 persen.

Meski ada penurunan penambahan jumlah pasien, masyarakat tetap diminta waspada dan disiplin protokol kesehatan. Jika lengah, sangat mungkin terjadi peningkatan jumlah seperti pada pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021. Pada bulan Desember jumlah pasien yang masuk dan dirawat adalah sebanyak 1.254. Angka ini terbilang tinggi bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Bulan Oktober hanya sekitar 621 dan November diangka 750 orang.

"Meningkatnya pasien di rumah sakit akibat libur natal dan tahun baru ditambahlagi pemilihan kepala daerah (Pilkada)," kata Koordinator Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RS Lapangan Kogabwilhan II, Radian Jadid, Rabu (3/3/2021).

Hingga saat ini jumlah pasien yang terkonfirmasi positif di RS Lapangan Kogabwilhan II adalah sebanyak 6.823 orang dan sembuh sebanyak 6.497 orang.

"Kita yang meninggal hanya 1 orang dan untuk hari ini sudah ada 7 orang yang dikatakan sembuh," katanya

 

Kurangnya Tracing

Masuk awal tahun, diakui Radian,  terjadi penurunan pasien covid-19 di beberapa rumah sakit. Salah satunya rumah sakit Lapangan Kogabwilhan II. Jumlah pasien yang diperiksa di bulan Januari sebanyak 1.147 orang. Sementara untuk Februari berkurang lagi menjadi 650 orang.

Walau menurun, Radian Jadid menyatakan agar selalu berwaspada dan terus tingkatkan protokol kesehatan. Berkurangnya pasien yang terkonfirmasi positif kata Jadid, bisa saja disebabkan kurangnya pemeriksaan dan penelusuran warga yang positif.

"Jangan puas dulu, berkurang ini jangan sampai karena tracingnya kurang, karena masih banyak warga yang takut untuk di-swab test," katanya

 

Pemulihan Trauma

Selama ini yang terjadi di lapangan, rumah sakit hanya berupaya menyembuhkan covid-19. Namun trauma pasien pasca sembuh dari covid tidak diperhatikan oleh rumah sakit.

Melihat akan hal tersebut, Radian Jadid mengungkapkan dirinya bersama 27 relawan pendamping keluarga pasien covid-19 Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II berupaya menyembuhkan pasien dari aspej sosial, ekonomi dan psikologisnya.

"Banyak yang sudah sembuh mau pulang gak dibolehkan sama lingkungannya. Bahkan ada pasien kita yang setelah sembuh, ingin pulang ditolak sama anaknya sendiri," ucapnya.

Pendampingan yang diberikan pun kata Jadid adalah dengan menyiapkan lingkungan dimana pasien akan dipulangkan. "Sehingga ketika pasien pulanh, kondisi lingkungan sudah kondusif dan mau menerima mereka,"

Upaya sosialisasi agar masyarakat tidak risau dan mau menerima pasien covid-19 yang telah sembuh pun terus dilakukan oleh Jadid bersama para relawannya.

"Jadi kita lalukan pendampingan, bahkan yang diberhentikan oleh perusahaan karena covid, setelah sembuh kita beri surat keterangan untuk dia kembali bekerja," ucapnya.

 

Waspadai Stress

Sementara itu Dr. dr. Wisnu Barlianto, Msi. Med,Sp.A(K) membenarkan tindakan yang dilakukan oleh para relawan RS Lapangan Kogabwilhan II.

Menurut pria yang saban waktu adalah dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu, upaya tersebut merupakan upaya dalam membendung terjadinya psikosomatis.

"Ada yang namanya psikosomatis atau penyakit yang terjadi akibat pikiran yng berlebihan seperti stres dan cemas," katanya.

Tatkala pikiran tak terbendung, mengakibatkan penyakit dalam tubuh akan semakin bertambah parah. Khusus untuk pasien covid-19, ketika ada salah satu keluarga yang meninggal tentunya akan menimbulkan trauma tersendiri baru keluarga korban.

"Jadi pendampingan yang dilakukan ini saya dukung, dan mungkin bisa menjadi contoh atau role model untuk bisa diterapkan di rumah sakit yang lain," pungkasnya. sem/ana