Virus di Bangkalan Ganas

Petugas kesehatan masih memeriksa warga Bangkalan dengan metode tes usap antigen di lokasi, kemarin. Hingga kini, sudah 305 orang positif Covid-19. SP/An/Didik suhartono

Sudah 192 orang Meninggal dan 1.979 Terkonfirmasi Positif. Ini karena varian baru di Bangkalan, kata Pakar Imunologi Universitas Airlangga, Memiliki Tingkat Penularan Cepat, Sehingga Pasien yang Terpapar virus ini Kurang dari dua hari sudah meninggal

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya- Jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang dikerahkan tangani kasus Covid-19 di Bangkalan, terus bertambah. Pemkot Surabaya, kerahkan 500 nakes. Jumlah ini dari semua puskesmas se Surabaya ditambah tenaga kesehatan dari RS Suwandhi.

Pantauan Surabaya Pagi di lapangan Rabu kemarin (9/6/2021) tampak sekali kesibukannya. Para tenaga kesehatan ini nyaris kuwalahan. Kini malah bekerja dalam lima shift dari sebelumnya tiga shift.

Padahal Kabupaten Bangkalan sudah menyiapkan 178 tenaga medis dan 121 tenaga vaksinator serta penambahan ruang dan tempat tidur.Sebanyak 150 tempat tidur di RSUD Syarifa Ambami Ratoh Ebu. Sampai semalam yang terpakai sudah 93 pasien, Sejumlah 74 di tempatkan di Balai Diklat dan terpakai 35. Sedangkan di Balai Latihan Kerja (BLK) 30 tempat tidur baruterpakai 17 pasien OTG.

Pantauan tim Surabaya Pagi, untuk penyekatan masih diberlakukan di wilayah Arosbaya, di penyeberangan Kamal dan akses masuk Suramadu sisi Madura.

 

Tempat Tidur Menipis

Dari data yang tercatat oleh Polda Jatim per 9 Juni 2021, terkonfirmasi positif 1.979 kasus. Dari jumlah itu, 1.521 sembuh, 192 meninggal dunia dan 192 masih dirawat alias kasus aktif.

Dari kasus aktif itu, kini ketersediaan tempat tidur di rumah sakit rujukan di Bangkalan semakin menipis. Artinya tempat tidur yang biasa disebut Bed Occupancy Rate itu mencapai 84 persen. Sedangkan khusus tempat tidur ICU mencapai 50 persen.

Maka dari itu, upaya yang juga tak kalah pentingnya ialah testing dan vaksinasi.

Sekarang ini ada lima tim yang terdiri dari 15 orang tim gencar melakukan dua upaya itu.

Dalam testing ini masyarakat diberikan bantuan beras dan mie instan supaya untuk bersedia diswab dan vaksinasi.

"Testing dan vaksinasi dilaksanakan di dua kecamatan dari empat kecamatan yang menjadi pusat konsentrasi yaitu kecamatan Arosbaya dan Klampis," ungkap Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, Rabu (9/6/2021).

 

Lonjakannya Mengagetkan

Tak keliru bila Ketua IDI Jawa Timur dr Sutrisno mengakui lonjakan kasus Covid-19 di Bangkalan Madura, mengagetkan. Namun, dari sisi ilmu pengetahuan sebenarnya sudah diprediksi.

Hal yang menyedihkan, banyak tenaga kesehatan terinfeksi, bahkan meninggal dunia. Bahkan bisa dinyatakan tenaga kesehatan di Bangkalan sudah kewalahan.

Saat ditemui usai menjadi pembicara pada acara 'Restorasi Humanisme Pendidikan Kedokteran' di DPW NasDem Jatim, Jalan Raya Arjuno Surabaya Selasa (8/6/2021), dr. Sutrisno mengakui kasus Covid-19 di Bangkalan bikin ledakan opini. “Madura dari segi berita memang mengkagetkan dan segi ilmu sudah bisa kita memprediksikan," katanya, Rabu (09/06/2021).

Dokter Sutrisno menjelaskan bahwa cukup banyak tenaga kesehatan yang terpapar dengan sumber yang tidak jelas. "Kasus yang mengenai nakes ini sudah mendapatkan dari institusinya masing-masing. Diistirahatkan, dan nakes yang masih sehat mengkompensasi pekerjaan yang ada," ujarnya.

Ia mengakui bahwa pemerintah, baik Provinsi, Kabupaten hingga Menteri Kesehatan sudah mulai turun ke Bangkalan. "Kerja bersama ini saya estimasikan 2 minggu ke depan bisa tertangani dengan baik," ujarnya.

 

Mutasi Virus asal India

Pakar epidemiologi Unair, dr. Windhu Purnomo, menduga kuat lonjakan kasus covid-19 di Bangkalan terjadi karena adanya mutasi virus korona varian delta asal India. Indikatornya, tiga tenaga kesehatan (nakes) di Bangkalan yang sudah menerima suntikan vaksin covid-19 sebanyak 2 dosis meninggal setelah dinyatakan positif covid-19.

“Seharusnya kalau sudah divaksin, maksimal mengalami gejala klinis sedang, tidak sampai meninggal. Saya menduga kuat yang di Bangkalan ini mutasi B.1.617,” ujar Windhu kepada Media Group News, Rabu, 9 Juni 2021.

Windhu menambahkan, mutasi virus varian delta B.1.617 memiliki karakteristik tersendiri ketimbang varian lain, yang membuatnya lebih infeksius dan mematikan. Virus korona B.1.617 dinilai Windhu memiliki kemampuan menerobos antibodi seseorang yang sudah terbentuk.

Menghadapi lonjakan kasus covid-19 di Bangkalan, Windhu menyarankan pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara ketat.

“Dulu Surabaya Raya saja bisa PSBB kok, Bangkalan juga harus bisa. Enggak cukup kalau PPKM Mikro. Mobilitas antar wilayah harus benar-benar ditekan, apalagi Bangkalan bersebalahan langsung dengan Surabaya yang padat penduduk,” ujar Windhu.

 

Pendatang Pembawa Virus

Pihak IDI berharap kasus di Bangkalan tidak menyebar ke yang lain. Bahkan, ia mengaku, IDI Jatim sudah menggelar rapat bahwa Sampang, Pamekasan dan Sumenep masih tenang. "Begitu juga dengan Surabaya dan Sidoarjo juga tenang. Artinya bahwa masalah telah terlokalisir di Bangkalan," ujarnya.

Kasus di Madura ini apakah varian baru Covid-19, dokter Sutrisno mengatakan informasi yang ada adalah memang banyak pendatang dari tempat lain yang itu dicurigai sebagai pembawa virus.

Kedua, lanjut dia, memang ada kecurigaan adanya varian baru. Ada satu data yang menunjukkan bahwa varian baru yang mirip dari Afrika.

"Apalagi di Bangkalan banyak pekerja Migram dimana-mana. Dan itu yang dicurigai. Tapi tetap saja bahwa varian baru ini kita menunggu pemeriksaan genetik," ujarnya.

 

Tingkat Penularan Tinggi

Pakar Imunologi Universitas Airlangga, dr Agung Dwi Wahyu Widodo,mengatakan infeksi varian baru Covid-19 didapat dari sampel yang diambil pada pasien asal Bangkalan.

"Ada salah satu pasien yang dirawat yang berasal dari Bangkalan yang swabnya menunjukkan dia terinfeksi varian B117 dari UK atau oleh WHO sekarang disebut varian Alpha," kata Agung.

Agung menyatakan varian baru ini memiliki tingkat penularan tinggi. Kemampuan penularan dari varian ini sekitar 40-90 persen lebih cepat dari varian asalnya.

Kasus infeksi B117 saat ini paling banyak dilaporkan di berbagai negara. Dalam catatan WHO, terjadi peningkatan kasus hingga 49 persen di Asia Tenggara akibat B117.

"Ini menunjukkan jika suatu daerah teridentifikasi varian ini, menurut WHO maka kita harus bersiap-siap mendapatkan (lonjakan) kasus yang cepat," kata Agung.

Mengingat tingkat penularan yang cepat, Agung berharap Pemerintah dapat menambah fasilitas isolasi dan perawatan di rumah sakit. Terlebih, pasien yang terserang varian ini dapat meninggal dalam waktu relatif cepat, dua hari usai infeksi mulai terjadi.

"Saya juga dapat laporan, seringkali pasien yang terpapar virus ini kurang dari dua hari sudah meninggal, cepat sekali," kata dia.

Lebih lanjut, Agung juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak kendor dengan protokol kesehatan. Dia menegaskan virus ini bukan varian yang sama dengan saat awal pandemi melanda.

"Ini virus baru di Bangkalan yang bahasa awamnya dibilang ganas dan menyebabkan kondisi besar dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan reinfeksi pada pasien yang pernah terkena Covid-19," pungkas Agung. n alq/ang/la/cr3/rmc