Waiters Neo Cafe Diduga Tawarkan Layanan Prostitusi

Suasana NEO Kafe & Karaoke di Kediri yang masih tertutup rapat, Jumat (1/6/2022).

SURABAYAPAGI.COM, Kediri- Penggerebekan Neo Cafe & Karaoke di Kelurahan Gampengrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Senin (25/5/2022) malam memasuki babak baru. Unit III Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim menetapkan dua karyawan kafe tersebut sebagai tersangka. Pasalnya, keduanya diduga  menyediakan layanan plus-plus.

Dua karyawan itu berinisial DW dan AA. Keduanya bertugas sebagai waiters di tempat hiburan malam tersebut. Saat ini keduanya sudah ditahan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.

"Benar, dua orang sudah kami tahan," jelas Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Hendra Eko Triyulianto, Rabu (1/6/2022).

Hendra menyebut, kedua waiters itu resmi ditetapkan tersangka dan ditahan setelah terbukti mempunyai sampingan untuk menawarkan wanita yang bisa memberikan layanan plus-plus berupa seks kepada para tamu yang datang.

"Dua orang. Semuanya laki-laki itu, sebagai waiters. Mereka terbukti menawarkan layanan hubungan badan. Jadi nggak ada (striptis)," jelas Hendra.

Diketahui, Neo Cafe & Karaoke itu digerebek Subdit Renakta Polda Jatim pada Selasa (24/5/2022) malam. Dalam penggerebekan itu, petugas mengamankan dua laki-laki dan tiga perempuan yang merupakan ladies club (LC).

Petugas juga menyita sejumlah barang bukti, yaitu selembar bill pembayaran room 19 Neo Cafe & Karaoke, sebuah kondom dan tisu bekas pakai, sebuah buku besar kasir, uang front desk Rp 4.342.000, uang Rp.1.000.000 yang disita dari LC.

Lalu uang pembayaran room 19 Rp 865.000, uang Rp 350.000 yang disita dari tersangka DW, uang Rp 150.000 yang disita dari tersangka AA, sebuah celana dalam wanita warna pink, sebuah celana dalam pria warna abu-abu dan sebuah BH atau bra warna hitam.

Pantauan di lokasi, Rabu sore (1/6/2022), pintu gerbang Neo Cafe tertutup rapat. Gembok besar tergantung di salah satu daun pintu besi namun tidak terkait dengan pintu lainnya.

Suasana di sekitar gedung dua lantai itu tampak sepi, tidak ada satupun orang terlihat berada di dalam bangunan tersebut.

Joko,  warga sekitar mengaku sejak penggerebekan itu, tempat ini tutup sampai sekarang.

"Sejak penggerebekan itu, ya sudah   tutup seperti ini," katanya.

Informasi yang dihimpun, tempat karaoke itu mulai beroperasi sejak 2019 lalu. Meskipun berada di desa, tempat ini cukup digemari.

Kawasan di sekitar tempat hiburan ini sudah tidak asing. Terpaut jarak sekitar 300 meter ada tempat hiburan sejenis.

Sebelumnya, Manajemen NEO Cafe & Karaoke mengakui adanya penggerebekan oleh Polda Jawa Timur.

Namun, pemilik NEO Cafe & Karaoke, Sudarsono mengaku tak mengetahui pasti aktivitas di dalam room 19 itu. Namun dia berani menjamin, tak sampai ada tarian striptis di dalamnya.

Dia juga mengaku perempuan atau pemandu lagu yang ada dalam ruangan tersebut bukan dari pihak manajemen. Melainkan permintaan tamu langsung ke karyawannya.

“Perempuan itu bukan dari manajemen. Itu ada tamu yang datang terus suruh memanggilkan pemandu lagu ke waiters itu karyawan itu. Tahu-tahu ada kejadian itu, anggota Polda (Jatim) berpatroli disitu,” kata Sudarsono, Jumat (27/5/2022) lalu.

Dinihari usai penggerebekan itu, 5 karyawan Sudarsono dan 3 pemandu lagu dibawa ke Polda Jawa Timur. Sudarsono juga datang untuk dimintai keterangan.

“Yang dibawa hanya 5 bersama pemandu lagu 3. Yang nggak dipulangkan 2,” tambah Sudarsono.

Selama ini menurut Sudarsono, pihaknya sudah memasang larangan terkait tindakan asusila di dalam ruang karaokenya. Pihaknya mengaku akan memberikan sanksi tegas untuk dua karyawan yang saat ini ditahan oleh Polda Jawa Timur. can, ham