Wakil Ketua DPRD Surabaya AH Thony Minta Pemkot Evaluasi Kinerja dan Pola Rekrutmen Tenaga Outsourcing

Wakil Ketua DPRD Surabaya AH Thony 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat ini ada belasan ribu tenaga outsourcing atau OS di lingkungan Pemkot Surabaya yang direkrut beberapa tahun terakhir. Mereka rata-rata bekerja di bagian teknis dan fungsional sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Yang "cukup mentereng" mereka digaji oleh Pemkot dengan besaran UMK. UMK kota ini Rp 4,3 juta per bulan.

Wakil Ketua DPRD Surabaya AH Thony meminta Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan evaluasi kinerja dan pola rekrutmen. Menurutnya keberadaan OS itu tak semata misi sosial.

Maka dari itu AH. Thony mendesak agar Pemkot melakukan penataan ulang atas pemberdayaan tenaga outsourcing atau OS di lingkungan Pemkot Surabaya. Selain evaluasi kinerja dan pola rekrutmen,

Tidak sekadar merekrut warga ber-KTP Surabaya dengan memprioritaskan warga dari masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tapi juga memberi kesempatan kepada para OS itu bisa berkarya lebih dari hanya sebagai OS.

"Bisa jadi mereka bakat di wirausaha dan jago jualan dengan hasil menjanjikan. Harus diberi ruang agar tak sekadar mengharapkan gaji bulanan. Ingat rekrutmen OS bukan sekadar Charity atau karena misi sosial," kata AH Thony, Minggu (10/4).

Mereka disebar di banyak OPD untuk membantu mengoptimalkan tugas dan layanan kepada masyarakat di sejumlah OPD tersebut. Para warga Surabaya itu beruntung karena Pemkot merekrut sendiri warganya sebagai tenaga OS.

AH Thony masih mengecek persis berapa jumlah tenaga OS yang direkrut Pemkot di setiap OPD. Namun diperkirakan mencapai belasan ribu. Mereka direkrut sejak beberapa tahun terakhir. 

Setiap tahun atau dalam kurun waktu tertentu keberadaan mereka dievaluasi. Ada yang dinyatakan layak dan ada yang diputus kontrak mereka sebagai OS. Setiap tahun dilakukan evaluasi ini dengan Psikotes dan evaluasi kinerja.

AH. Thony mengkritisi pola dan skema penyebaran belasan ribu OS itu ke lingkungan Pemkot Surabaya. Termasuk ditugaskan di DPRD Surabaya. Mereka tidak boleh berlama-lama hingga bertahun-tahun di lingkungan Pemkot.

Keberadaan para OS di Pemkot tersebut menjadi berkah bagi warganya. Namun tidak boleh menggantungkan dirinya dari tenaga OS. Mereka harus dibekali skill dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan masa depan mereka. Apalagi tidak selamanya mereka akan bekerja sebagai OS.

"Tenaga OS harus dikelola dengan baik. Mereka bisa lebih berkemajuan dalam sisi pendapatan dan bidang pekerjaan. Kalau ada OS dengan skill spesifik dan mumpuni harus diantarkan ke skill bidang ini," tandas Thony. 

Pria asli Bojonegoro ini menyinggung soal kemampuan para OS yang jago bisnis, jualan, bidang seni, atau bahkan di bidang IT dan digital. Harus makin terasah skill mereka untuk makin berdaya. Tak lagi menggantungkan sebagai OS.

Menurutnya perlunya dibentuk tim bersama lintas bagian dan lintas Dinas. Mereka bertugas khusus mencari solusi atas melimpahnya tenaga OS. Rekrutmen tenaga honorer ini tidak semata-mata belas kasihan Pemkot Surabaya kepada warganya. 

Selain itu, tim yang dibentuk tersebut mengidentifikasi secara cermat seluruh OS. Dalam kurun waktu berkala dilakukan serangkaian penelusuran bakat minat melalui tes. Tes ini dalam rangka mengetahui potensi tenaga OS.

Siapa mempunyai kemampuan apa dan jumlahnya berapa akan terdeteksi. Riil. Selanjutnya keberadaan mereka dengan skill yang dimiliki bisa diberdayakan sesuai bidang dan dinas terkait. 

"Tim itu pula yang juga mendorong para SDM OS itu untuk membuat kegiatan. Kalau memang punya skill dengan karya nyata bisa lebih berdaya sehingga mampu membuka lapangan kerja. Menjalankan usaha ekonomi kreatif atau UMKM," kata Thony. 

Darimana para OS itu mengasah skill spesifik mereka, Pemkot Surabaya bisa mendampingi mereka yang notabene warga Surabaya mendapat pembekalan. Melakukan diklat-diklat spesifik sesuai kelompok skill. Surabaya tidak kurang orang berhasil yang bisa dijadikan mentor. 

"Sekali lagi, keberadaan ribuan OS itu tidak terus membebani APBD tanpa hasil. Ngendon jadi OS. Menumpuk. Mereka harus berdaya. Meski kota ini kuat kerena APBD-nya mencapai Rp 10,4 triliun," kata Thony.

Dalam rangka mengembangkan potensi para tenaga OS, perlu ada seleksi. OS pilihan akan makin diberdayakan untuk mengembangkan potensi dirinya. Mereka bisa jadi penggerak untuk menciptakan lapangan usaha. Memiliki usaha sendiri.

Perlunya membangun kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta. Baik instansi dan perusahaan dalam kota maupun luar daerah bahkan luar negeri. Selanjutnya bisa menyalurkan mereka para OS sebagai profesional.

Para OS itu menjadi lebih berpengharapan. Memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik. Tidak selalu dibayang-bayangi rasa ketakutan tidak memiliki penghasilan ketika kontrak kerjanya sebagai OS dihentikan tengah jalan. Alq