Wali Kota Eri All Out, Covid-19 di Surabaya Turun!

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

Tetapi 33 Kabupaten/Kota di Jawa Timur Masuk Zona Merah, Termasuk Surabaya. Bahkan Surabaya jadi Kota Tertinggi di Jatim, Kasus Positif Covid-19

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Rabu (21/7/2021) kemarin, Satgas Penanganan Covid-19 Jatim menyampaikan dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, sudah 33 Kabupaten/Kota yang masuk dalam zona merah. Melihat hal itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, benar-benar all-out tangani kasus penularan Covid-19 di Surabaya yang semakin cepat. Tindakan Wali Kota Eri yakni langsung mengaktifkan puskesmas layanan tracing setiap pasien yang terkonfirmasi positif. Langkah ini menuai hasil, sejak Rabu (21/7/2021), mulai ada penurunan.

"Dari PPKM Darurat yang dilakukan evaluasi, memang Surabaya ada penurunan. Meskipun belum signifikan, tapi sudah ada penurunan,” tutur Eri pada Rabu (21/7/2021).

Dia mencatat, penurunan itu sebesar 100–150 kasus per hari. Penurunan itu karena ada mobilitas yang dibatasi. ”Penurunannya kalau saya sampaikan hari ini (Rabu, 21 Juli, red)  banyak. Secara total Surabaya sekitar 100–150 orang,” lanjut mantan Kepala Bappeko Surabaya itu.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan pembatasan di berbagai lini. Misalnya, bila kasus datang dari keluarga, langsung dilakukan pencegahan dengan meminta pindah ke tempat isolasi mandiri. Sehingga tidak ada klaster keluarga.

 

Fokus Puskesmas

Eri menuturkan, saat ini puskesmas tengah fokus melakukan penanganan kesehatan. Apalagi, jam operasional puskesmas menjadi 24 jam non stop. Selain itu, ia memaparkan, puskesmas juga sedang gencar melakukan percepatan vaksinasi di berbagai kalangan.

“Makanya kita harus bergotong royong seluruh PD saling melengkapi kebutuhan satu sama lain. Dari kebersamaan ini, mudah-mudahan Covid-19 pasti bisa kita lewati,” kata Eri, Selasa (20/7/2021).

Ia melanjutkan, mulai hari ini seluruh Kepala PD diminta mengirimkan nama-nama staf yang dapat bertugas melakukan tracing. Ia juga meminta nama-nama yang ditugaskan itu, tidak diganti-ganti lagi. Sebab mereka akan dilatih dan diberi pembekalan materi sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Sehingga, petugas tracing ini dapat fokus bertugas ke wilayah mana saja sesuai yang ditentukan oleh puskesmas.

“Nama-nama yang ditugaskan harus tetap karena nantinya, petugas tracing akan melakukan berkala yang dipantau oleh puskesmas. Saya harapkan orang-orang yang turun itu mereka yang paham. Ini untuk kepentingan masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, orang nomor satu di Kota Pahlawan memaparkan, setelah mendapat nama-nama siapa saja yang diterjunkan, petugas tracing langsung mendapatkan pelatihan baik dari puskesmas maupun para satgas Covid-19. Bahkan, tidak berhenti sampai di situ, seusai tracing selanjutnya, para petugas yang diambil dari berbagai PD itu diminta untuk menginput data kontak erat.

 

Sediakan Isoman di Tiap Kelurahan

Meski sudah ada penurunan, Eri mengatakan akan terus memutus mata rantai di Surabaya. Bahkan, sepekan yang lalu, ia sudah menyampaikan di masing-masing kelurahan untuk menyediakan tempat isolasi mandiri.

“Hari ini sudah siap tempatnya semua, Jumat sudah operasional. Sehingga tidak ada lagi warga Surabaya yang satu keluarga diisolasi mandiri, kalau rumahnya tidak memenuhi syarat untuk isolasi mandiri. 1 sakit 4 negatif, jadi kita harus tarik,” ujarnya.

Ia juga meminta kepada Lurah dan Camat di Surabaya untuk melakukan pendekatan kepada pasien isoman dan dalam satu tempat tinggal dengan keluarga. Sebab, dengan cara itu bisa mengurangi dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 pada keluarga. “Saya sampaikan Lurah dan Camat harus pendekatan memberikan pengertian. Karena itu yang bisa kita lakukan untuk memutus mata rantainya,” pungkasnya.

 

Percepat Rekrutmen Nakes

Terpisah, dengan ditetapkannya status zona merah, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji juga langsung mengadakan rapat koordinasi terbatas secara daring dengan DPRD Surabaya, Ikadan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, Dinas Kesehatan Jawa Timur, dengan Pusat Perencanaan dan Pemberdayaan SDM Kementerian Kesehatan RI serta beberapa Dekan Fakultas Kedokteran se Kota Surabaya.

Cak Ji, sapaan Armudji, mengusulkan ke Kemenkes agar segera merealisasikan rekrutmen relawan tenaga kesehatan.  "Kami mengusulkan agar ada percepatan penetapan dari Kemenkes, sehingga dapat menutupi kekurangan nakes," kata Cak Ji,.

Cak Ji berharap dalam penanganan Covid-19 di Surabaya dapat berkolaborasi dengan Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) Tahun 2021 sesuai dengan Surat Kepala PPSDMK Kemenkes.

Pada kesempatan itu, dirinya juga menyampaikan usulan Kota Surabaya melalui Program Internship Dokter Indonesia periode Agustus 2021 sebanyak 60 orang di antaranya RSUD Soewandhie, RSUD Bhakti Dharma Husada, RSAL Dr. Ramelan, RS Marinir Ewa Pangalila dan RS Bhayangkara. "Kami juga telah menyiapkan hak-hak dokter yang Internship. Kalau Insentif disiapkan Kemenkes kami akan siapkan kebutuhan yang menjadi kewajiban Pemkot Surabaya," ujarnya.

 

33 Kab/Kota Zona Merah

Sementara, data 33 Kabupaten/Kota di Jatim yang masuk zona merah Covid-19, dinilai karena dalam sepekan terakhir, kasus Covid-19 masih tinggi. Hal ini diungkapkan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Makhyan Jibril Al-Farabi.

"Per kemarin, ada 33 Kabupaten/Kota masuk zona merah. Hanya lima yang zona oranye," kata dr Jibril.

Daerah berstatus zona merah itu yakni Ponorogo, Kediri, Kota Batu, Madiun, Malang, Mojokerto, Tuban, Sidoarjo, Banyuwangi, Ngawi, Kota Kediri, Lumajang, Situbondo, Bojonegoro, Bangkalan, Kota Madiun.

Kemudian Jember, Magetan, Nganjuk, Probolinggo, Kota Surabaya, Trenggalek, Jombang, Blitar, Gresik, Pacitan, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Tulungagung dan Kabupaten Pasuruan

Sementara lima kabupaten/kota sisanya berstatus zona oranye, antara lain Kota Probolinggo, Sumenep, Kota Blitar, Pamekasan dan Sampang.

Jibril mengatakan penentuan status zonasi ini, berdasarkan 15 indikator epidemiologi yang dihitung tiap minggu oleh Satgas Covid-19 pusat.

 

Sepekan, Naik Signifikan

Ia menyebut dalam satu minggu terakhir ini kasus di Jatim memang naik secara signifikan. Jibril mengklaim hal itu disebabkan oleh peningkatan pemeriksaan sampel dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. "Karena kita tahu, sampel yang diperiksa juga naik bahkan sampai tiga kali lipat," katanya.

Jatim melakukan pemeriksaan 31.744 spesimen dengan PCR pada 20 Juli 2021. Kini, total spesimen yang telah diperiksa sebanyak 1.950.410 dengan PCR.

Jumlah ini mengalami penambahan signifikan dibandingkan sebelum PPKM Darurat yang diperiksa hanya kisaran 4.000-6.000 spesimen dalam sehari.

Jibril pun berharap perpanjangan PPKM Darurat yang akan dievaluasi 26 Juli mendatang, mampu menghasilkan tren penurunan kasus. "Karena kalau dilihat hari per hari, kasus tanggal 14 Juli di Jatim masih sekitar 8.230. Terus beberapa hari terakhir ini di angka 4.000-5000 kasus," ucapnya.

Satgas Penanganan Covid-19 Jatim mencatat, per 20 Juli 2021, secara kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 249.246 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 185.945 kasus dinyatakan telah sembuh, kemudian 16.864 kasus dilaporkan meninggal dunia dan 46.437 kasus masih dalam perawatan atau kasus aktif. "Semoga penurunan bisa konsisten dan PPKM Darurat bisa memutus rantai penyebaran Covid-19 di Jawa Timur," pungkas Jibril.

 

Gubernur Minta Maaf

Melihat kondisi tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf jika penanganan COVID-19 di Jatim belum dapat memuaskan seluruh masyarakat.

Bahkan pihaknya juga memahami, jika dampak perpanjangan PPKM Darurat tidaklah ringan bagi masyarakat.

"Pemprov Jawa Timur memahami dampak perpanjang ini tentu tidak ringan bagi masyarakat. Atas nama Pemprov Jatim, saya meminta maaf jika penanganan COVID-19 di Jatim belum dapat memuaskan seluruh masyarakat," kata Khofifah, Rabu (21/7/2021).

Untuk menekan angka penyebaran virus Corona di Jatim, pihaknya bersama Forkopimda kabupaten/kota terus berupaya semaksimal mungkin memutus Corona dan mempercepat vaksinasi hingga pelosok agar pandemi ini segera berakhir.

Tak lupa ia juga berpesan kepada seluruh masyarakat untuk tetap mematuhi peraturan selama pelaksanaan PPKM Darurat, disiplin protokol kesehatan, dan segera mengikuti vaksinasi.

"Kepada semua warga Jawa Timur tetaplah semangat. Pengurus RT, RW, kamituwo tetaplah di garda depan melayani warga, terutama yang sedang isolasi mandiri. Semoga Allah SWT meringankan beban kita, membukakan pintu untuk menyelesaikan masalah ini, serta melindungi kita semua dan bangsa ini," tutup Khofifah. alq/ana/cr3/rmc