Perselisihan Investor dan Pedagang Pasar Turi Baru

Wei Fan, Tokoh Tionghoa Perekonsiliasi Investor dan Pedagang

Dr. H Tatang Istiawan

Siapa sangka Ko Wie Fan adalah tokoh Tionghoa yang akhirnya bisa merekonsiliasi bos-bos investor PT GBP dengan padagang Pasar Turi korban kebakaran beserta stake holder pasar grosir lagendaris.

Ko Wie Fan, adalah tokoh tionghoa Surabaya yang kenal dengan Alim Markus, Aswi, Teguh Kinarto, Melinda Tedjo, Alex Tedjo, Bos Bank Mayapada Dato Sri Tahir, bos-bos kelapa sawit, batu bara, Ketua DPD-RI La Nyalla Matalitti, Ming Ming, Bos Bank Artha Graha Tommy Winata, Bos PT Sinar Galaxy , Pengusaha properti Ridwan, Panwel Wenas, Santoso Tedjo, Widji Nurhadi, Ketua Peradi Haryanto, pengacara Tonic Tangkau, Candra Srijaya, bos koran Dahlan Iskan, Ali Badri, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmanto, mantan Kabakin Jenderal (Purn) Hendropriyono, semua kapolri dari Jenderal Bimantoro sampai Jenderal Haiti. Beberapa Gubernur Jatim dari Imam Otomo sampai Pak De Karwo. Pendeknya, semua gubernur, pangdam, kapolda, Pangarma, kasGarbaya, sampai Kajati dan Kajari.

PW Afandi, nama Indonesianya, dikalangan orang Surabaya, bukan asing. Bahkan ia saat muda dikenal pembina berbagai aliran bela diri. Saat usia masih 30-40 tahun, badannya kekar mirip Bruce Lee.

Kini diusia sudah mendekati 80 Tahun, ia makin dermawan. Termasuk menyumbang peti mati untuk orang yang membutuhkan bantuannya. Pendeknya, ia berkawan dengan semua lapisan termasuk kenal akrab dengan Henry J Gunawan, Totok Lusida dan H. Turino Junaedi. Bahkan sejak tahun pertama perselisihan sengit antara Henry J Gunawan, Teguh Kinarto, Aswi, Totok Lusida dan Turino Junaedi, siang-malam, ia rela membantu mendamaikan gegerannya Henry-Teguh-Totok- Junaedi dan Aswi. Padahal, ia tidak ada saham di PT GBP. “Semuanya karena pertemanan. Saya senang, kalau teman-teman akur, gak gegeran. Rejeki iki dari Tuhan. Mbok lek onok masalah dirunding sing apik. Cengli cenglian ae,” pesannya melalui telepon pada Henry J Gunawan, saat Henry masih belum meninggal. Ia telepon di depan saya di kantornya Jl. Seruni Surabaya.

Dangan walikota Bambang DH dan Risma, ia juga dekat. Termasuk kenal dengan walikota sekarang Eri Cahyadi.

Bagaimana dengan pedagang Pasar turi yang gegeran dengan Henry J Gunawan, pria yang rajin olahraga ini membangun komunikasi lewat beberapa tokoh madura dan pengusaha Tanjung Perak Santoso Tedjo.

Perannya membangun rekonsiliasi antar investor dengan pedagang dan pemerintah kota serta tokoh nasional, mirip dengan jerih payah yang dilakukan Jusuf Kalla.

Pria yang juga berusia diatas 72 tahun ini berhasil rampungkan penyelesaian konflik di Poso Sulawesi Tengah, Ambon Maluku, serta kedamaian di Tanah Rencong, Aceh. Makanya, JK dijuluki tangan dingin putera kebanggaan Sulawesi Selatan.

Kiat Jusuf Kalla menyelesaikan konflik di satu daerah, dirinya meminta waktu khusus selama 2 minggu. Ini cara untuk mencari sumber informasi dan pengetahuan mengenai situasi kondisi daerah konflik itu.

Kalla menghabiskan waktu itu untuk membaca secara detail keadaan daerah konflik termasuk membaca buku sastra.

Taktik ini juga dilakukan Wei Fan, saat sejumlah pemilik stan mengajaknya menghidupkan Pasar Turi baru yang “terbengkelai” lebih satu tahun. Wei Fan, membentuk tim survei dan lobi ke pedagang. Ia sendiri turun tangan hubungi tokoh Tionghoa berpengaruh seperti Ming Ming. Selain mengajak omong Totok Lusida, Junaedi dan Candra Gozali, kakak almarhum Cenliang. Ia juga minta arahkan dari tokoh pergerakan Surabaya, La Nyalla, yang kini berkiprah politik tingkat nasional.” Konflik cenliang dan pedagang ini ada politiknya, ada curangnya. Makanya saya minta saran Pak Nyalla yang kini berkiprah politik tingkat Indonesia,” kata Wei Fan. Pria yang punya keahlian bela diri ini mengakui kasus Pasar Turi dipicu keserakahan.

Saya mencatat kelebihan Wei Fan cepat merekonsiliasi para pihak yang konflik, karena ia sudah mengenal secara mendalam aktor-aktor pengembang PTB seperti Cenliang, Totok Lusida dan Turino Junaedi.

Prinsip yang dianut Wei Fan adalah membangun jaringan bisnis (termasuk relasi di militer dan pemerintahan) yang luas tanpa pandang bulu. Baginya, jaringan luas atas bawah dapat mempengaruhi jalannya usaha yang ditekuni. “Jaringan yang luas, solid, dan kuat akan memberikan banyak keuntungan bagi bisnis kita. Selain kepercayaan,” ingat Wei Fan, suatu siang di ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang fitness dan sembayang.

Wei Fan, juga mengamalisis perseteruan panjang antara bos PT GBP dengan 2 JO, PT GBP dengan para pedagang dan PT GBP dengan Pemkot, serta PT GBP bermasalah pajak dengan Ditjen Pajak. Wei Fan tahu konflik yang terjadi ini membuat semua stakeholder PTB alami kerugian moril dan material. Pemerintah kota kuwalahan, sehingga minta perlindungan hukum ke Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Bahkan para pedagang minta bantuan dana perjuangan ke pengusaha pelabuhan Tanjung Perak, Santoso Tedjo.

Praktis hampir semua stakeholder Pasar Turi Baru kewalahan dengan masalah-masalah seperti pengoperasian gedung Pasar Turi baru yang semula disepakati enam lantai menjadi sembilan lantai. Juga area parkir yang semula disepakati ada di tiap lantai kini dipindahkan ke lantai 6 sampai 9.

 

***

 

Sebagai gedung pusat grosir dan perbelanjaan berlantai 9, saya usulkan ke Wie Fan, dilakukan pemeriksaan ulang keamanan gedung. Mengingat, dulu kesepakatan antara PT GBP dengan Pemkot Surabaya hanya 6 lantai. Nyatanya kini bisa ditambah 3 bangunan bertingakat. Lebih parahnya sudah 10 tahun mangkrak.

Hal yang mesti diperhatikan pengelola baru gedung PTB hasil rekonsiliasi adalah keamanan gedung yang dari jauh sudah tampak kusam tak terurus.

Pengelola baru PTB mesti serius memikirkan pemeliharaannya. Termasuk nilai ekonomi bangunan yang mangkrak 10 tahun, bakal menurun drastis. Praktis, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan pemeliharaan yaitu kegiatan perawatan dan perbaikan, selama 10 tahun kurang mendapat perhatian.

Nah, apabila pengelola bangunan PTB nanti tidak memperhatikan pemeliharaan bangunan dengan sungguh-sungguh, maka dapat mempengaruhi kualitas bangunan yang mendatangkan pembelanja.

Hal yang rawan selain aspek kekuatan bangunan, juga ancaman gempa dan kebakaran. Apalagi Pasar turi berkali-kali diguncang kebakaran.

Pengelola PT GBP yang banyak mencatatkan masalah, saatnya dipertimbangkan jangan kelola gedung hasil rekonsiliasi antar investor dan pedagang. Lebih lebih reputasi manajemen PT GBP bersama JOnya dan kroni-kroninya. Selama dalam pengelolaannya ( masib pra operasional) saja sudah ditemukan darah berkucuran masalah. Ibarat mereka bisa dianggap drakula yang menyedot dana pedagang sampai Rp 1,7 triliun.

Ko Wei Fan, pemakarsa rekonsiliasi antar stakeholder PTB, perlu diberi semangat terlaksananya fungsi utama dari pemakaian secara optimal gedung PTB 9 lantai, termasuk sarana dan prasarananya.

Aspek yang perlu mendapat perhatian selama usia ekonomis bangunan adalah selama pengoperasiannya, yaitu potensi kerusakan suatu bangunan lama ataupun yang dioperasikan, kenampakan-

Perkembangan telah mendorong gedung PTB menghadapi problema menyusut dan mudah ambruk, ambrul dan roboh.

Dengan akal sehat yang perlu saya sampaikan jangan sampai pengelola PTB baru, terantuk dua kali, terkait serangan kebakaran. Pesan moralnya pengelola baru harus siap dengan berbagai resiko. Artinya jangan mengulangi gaya bos PT GBP yang kejar cuan semata.

Bos lama bisa mewakili kelompok yang mudah lakukan "porak-poranda" fasilitas kebakaran, keselamatan dan pembelanja. Ini disebabkan oleh ketidaksiapan pemerintah kota bersama eks investor sejak rekonsiliasi.

Hal yang bikin saya kaget, motif konflik proyek PTB, terjadi karena pengelolanya cuma mikir cuan tanpa berpikir cingli dan cincai (keserakahan dan tanpa kemanusiaan).

Ini telah diketahui hampir semua taipan Surabaya. Tapi pedagang etnis madura, arab dan jawa juga tahu. Pedagang akui pengelola PT GBP sama-sama rakus cari untung jual stan.

Kini, pasca rekonsiloasi, problema lama seharusnya bisa diatasi dengan baik agar tidak semakin memburuk. Caranya, jangan libatkan benalu, pebisnis munafik dan orang-orang serakah. Selain menerapkan strategi untuk mengatasai masalah dalam organisasi dengan manajemen konflik.

Karena selama ini PT GBP sarat dengan konflik. Pengalaman saya kelola perusahaan, secara manajerial diperlukan manajemen konflik. Ini penting agar pengelola baru hasil rekonsiliasi tidak meneruskan masalah yang lebih besar karena konflik tersebut. Misalnya, libatkan Santoso Tedjo, pedagang Pasar Turi di TPS, serta pemilik stan lain yang punya pengalaman kelola perusahaan teraliri konflik.

Saya harus akui pemain di PTB yang pengalaman dalam   manajemen konflik adalah Santoso Tedjo.

Ia taat pada Taipan Wei Fan dan Ming Ming, pengusaha hotel, farmasi, batubara dan sawit. Selain loyal pada tokoh pemuda yang kini berkiprah di tingkat nasional. Menggunakan pendekatan bisnis cingli dan hilangkan keserakahan manfaatkan aset negara, saya sarankan ajak Santoso Tedjo, ikut kelola ketimbang biarkan pemain lama cawe-cawe.

Apalagi perkembangan bisnis ritel dan grosir yang semakin pesat di Surabaya. Persaingan ini sedikit banyak telah menyebabkan penurunan keuntungan dari penjualan bisnis grosir.

Hal yang tak kalah cepatnya adalah perkembangan toko online. Bisnis grosir gunakan toko online harus diakui telah berkembang pesat.

Bisnis online kini telah dikembangkan sejumlah pedagang grosir di PGS, ITC, Pasar Atum dan JMP. ( [email protected])