Wisata Medis Indonesia Ala Luhut Dinilai Terlambat

Ilustrasi karikatur

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Panjaitan mewacanakan akan mengembangkan wisata medis Indonesia. Guna mewujudkan program tersebut, pemerintah akan membentuk Indonesia Health Tourism Board (IHTB) sebagai trademark wisata medis Indonesia.

Setidaknya ada 4 kategori yang akan dijual dalam IHTB tersebut. Di antaranya adalah wisata medis berbasis layanan unggulan, wisata kebugaran dan herbal berbasis SPA, pelayanan kesehatan tradisional dan herbal, wisata olahraga kesehatan berbasis event olahraga, serta wisata ilmiah berbasis MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).

Pertimbangan Luhut dalam membentuk IHBT tersebut adalah karena pengeluaran masyarakat di bidang kesehatan sangat tinggi. Bahkan pengeluaran kesehatan masyarakat per orang di tahun 2018 kata Luhut, mencapai 337 dolar AS atau setara dengan Rp 4,8 juta. Selain itu, ada pula peningkatan Foreign Direct Investment (FDI) di bidang kesehatan, dengan investasi tertinggi berasal dari Singapura, Australia dan China.

"Ini menandakan sektor kesehatan Indonesia memiliki peluang investasi yang menjanjikan di masa depan," kata Luhut dinukil dari Tempo, Kamis (16/09/2021).

Kendati wisata medis Indonesia sangat menjanjikan, namun langkah yang diambil oleh pemerintah dinilai sangat terlambat. Ketua Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI) Dr. dr. Taufik Jamaan. SpOG menyampaikan, Indonesia masih kalah cepat bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand, Singapura, Malaysia dan Filipina.

Program wisata medis di Thailand sendiri, bahkan telah dimulai sejak tahun 2010 lalu, dengan Bumrungrat International Hospital sebagai ikonnya. Bahkan Thailand menjadi satu-satunya negara yang menerapkan wisata medis halal di dunia.

"Ini kan aneh ya, seharusnya Indonesia sebagai pioner karena moyoritas penduduk kita adalah muslim. Tapi memang kita terlambat untuk memulai," kata Taufik Jamaan dalam kanal Youtube AWMI, Kamis (16/9/2021).

Tak hanya itu, dengan konsep wisata medis halal, Thailand terbukti mampu menarik wisatawan khususnya dari wilayah Timur Tengah yakni Arab Saudi. Bahkan di tahun 2011 atau setahun setelah adanya wisata medis, terjadi lonjakan wisatawan sebesar 20% menjadi 19 juta.

Lucunya kata Taufik, pelopor di balik wisata medis halal di Bangkok Thailand adalah Profesor Winai Dahlan yang juga merupakan cucu dari pendiri Muhammmadiyah, Ahmad Dahlan.

"Tapi akhirnya beliau merapat ke Thailand. Yang jelas kalau kita garap serius wisata medis ini, bisa menahan atau mendorong devisa untuk Indonesia," katanya.

Sebagai informasi, jauh sebelum pemerintah mewacanakan membentuk IHBT sebagai pioner wisata medis Indonesia, Taufik bersama timnya telah memikirkan akan hal tersebut.

Tepatnya 9 Agustus 2019, ia mendirikan Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI) dengan dua konsep wisata. Pertama adalah medical tourism dan yang kedua adalah wellness tourism. Berbeda dengan konsep IHBT, medical tourism merupakan wisata yang berbasis pada layanan medis atau dengan kata lain menjangkau masyarakat baik lokal ataupun internasional dalam melakukan pengobatan medis maupun terapi.

Sementara untuk wellness tourism, merupakan konsep wisata kesehatan yang berbasiskan gaya hidup sehat dan kebugaran.

"Dua konsep ini dipakai oleh negara-negara yang memiliki wisata kesehatan baik Thailand, Singapura dan Malaysia," terangnya.

Sementara itu, Dokter Penanggungjawab Pasien (DPJP) Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) dr. Christrijogo Soemartono Waloejo dr., Sp.An., KAR, menjelaskan, setidaknya ada 3 hal penting yang menjadi tantangan bagi wisata medis Indonesia ke depannya.

 

SDM tak Disupport Pemerintah

Tantangan pertama, kata dr. Christri, berkaitan dengan teknologi medis yang dimiliki oleh Indonesia. Menurutnya, secara Sumber Daya Manusia (SDM), para dokter di Indonesia sangat cakap dalam melakukan tindakan medis yang sulit sekalipun. Sayangnya, SDM yang bagus ini tidak disupport oleh teknologi medis terbarukan.

"Hampir semua tehnologi sudah bisa dikerjakan di Indonesia, dari yang paling sulit transplantasi organ, perawatan critical care canggih ( Ecmo), sampai terapi regeratip ( stemcell), sdh ada plot SDM-nya. Tinggal investornya mau invest apa tidak? Karena semua alat masih berada di luar Indonesia," kata dr. Christri kepada Surabaya Pagi, Kamis (16/09/2021).

Musabab kurangnya teknologi canggih dalam dunia medis inilah, yang menurut dr. Cristri, mendorong masyarakat akhirnya berlomba-lomba untuk berobat ke luar negeri seperti ke Singapura dan negara lainnya.

Lucunya, banyak kaum-kaum milenial Indonesia yang mulai merambah ke bidang Biotechnology. Namun lagi-lagi, support yang kurang dari pemerintah membuat asa anak bangsa akhirnya putus di tengah jalan.

"Padahal Biotechnology ini lah yang bisa membuat keder negara-negara besar seperti Amerika, China dan lain-lain," ucapnya.

Birokrasi yang ruwet dengan setumpuk aturan administrasi inilah, yang dianggap menjadi tantangan kedua dalam perkembangan wisata medis Indonesia. Oleh karenanya, ia mengingatkan, bila pemerintah telah berkomitmen untuk membentuk IBTH maka harus dilakukan secara transparan dan bersih dari praktek korupsi.

"Komitmen pemerintah bersama tim pengembang wisata medis harus kompak dan harus berintergritas," katanya mengingatkan.

 

Yakin Bisa

Tantangan terakhir yang patut diperhatikan dalam memajukan wisata medis Indonesia adalah kekompakan tenaga medis khususnya para dokter spesialis. Mengingat, selama ini dalam prakteknya, dokter-dokter di Indonesia selalu melakukan pekerjaan secara mandiri tanpa terikat satu sama lainnya.

"Ya memang mas, memang mendidik dokter inilah masalah. Karena pemerintah tidak sanggup, namun seswadaya-swadaya dokter sekolah medis (mandiri), saya tetap punya keyakinan mereka masih tetap ingin memajukan Indonesiaku tercinta," ucapnya dengan penuh harapan.

Bila ketika tantangan di atas mampu diselesaikan oleh pemerintah, maka hakulyakin wisata medis di Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan Filipina.

"Belajar dari Bumrungrad Internasional hospital, kita bisa seperti RS ini. Rumah sakit ini ada di bangkok dan 95% pasiennya orang Arab dan Muslim. Semua makanan halal dan teknologi canggih, serta memadukan dengan wisata serta kuliner sehingga pasien menjadi nyaman dan keluarga bisa ikut sekalian untuk general check up. Harga juga tidak terlalu mahal karena dapat subsidi dari pemerintah Thailand untuk bebas bea impor obat dan alat-alat kedokterannya," katanya

"Jadi insya'Allah Indonesia bisa mas, saya yakin karena SDM Indonesia tidak kalah. Tinggal berbenah lagi juga di sarana komunikasi dan marketingnya," pungkasnya lagi. sem/jk04