Wujudkan Organisasi yang Berintegritas

Sosialisasi Langkah-Langkah Akhir Tahun Anggaran 2022

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Tahun 2022 akan segera berakhir, setelah 10 bulan kita lalui bersama dalam mengemban amanah melaksanakan pengelolaan APBN. Dan tiba saatnya jelang akhir tahun seperti ini KPPN Surabaya II sebagai instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan di daerah berkewajiban mensosialisasikan langkah-langkah akhir tahun. Tidak berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menghadirkan pejabat pengelola APBN, yakni PPK, PPSPM dan Bendahara pada satker mitra kerja KPPN Surabaya II secara offline setelah di tahun sebelumnya kita laksanakan via zoom karena masih dalam situasi pandemi.

Tema untuk tahun ini adalah “Wujudkan Belanja Berkualitas Dengan Penguatan Integritas dan Pelaksanaan Langkah Langkah Akhir Tahun Anggaran 2022”.  Bisa jadi tema tersebut adalah salah satu cara untuk mengingatkan kita sebagai ASN atau pejabat negara untuk senantiasa menjaga integritas. Bila kita cermati tema tersebut, maka Integritas menjadi sesuatu tindakan yang harus kita wujudkan dalam mengelola belanja negara. Ini penting sekali diingatkan, selain sebagai penyegaran bagi kita karena bukan tidak mungkin Integritas bisa terkikis oleh adanya perubahan keadaan lingkungan kita.  

Pada kesempatan tersebut, KPPN Surabaya II menghadirkan narasumber dari Kejaksaan Negeri Surabaya.

 - Dijelaskan tentang perbedaan tindak pidana umum dan tindak pidana khusus, perbedaaan pihak yang berwenang dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan serta perbedaan pengadilan yang akan menangani tindak pidana umum dan tindak pidana khusus.

- Dijelaskan pengertian korusi secara bahasa secara sosiologis,dan secara yuridis, Dengan memahami tipikor diharapkan segala Tindakan hukum dalam rangka pemberantasan korip[si akan terwujud, baik dalam bentuk pencegahan (preventif) maupun Tindakan represif. Pemberantasan korupsi tidak hanya memberikan efek jera bagi pelaku tetapi juga berfungsi sebagai daya tangkal.

- Faktor penyebab timbulnya korupsi dari aspek manusia, aspek institusi/administrasi dan aspek sosial budaya. Sikap integritas dalam pencegahan tindak pidana korupsi adalah dengan jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil. Selain itu perlu perlu peningkatan disiplin dan pengawasan terhadap selurh manajemen.

- Harapan disampaikan materi tersebut adalah agar layanan semakin berintegritas dalam setiap layanan yang diberikan KPPN Surabaya II dan juga penerima layanan.

 

Integritas adalah salah satu Nilai Nilai Kementerian Keuangan dan nilai itu adalah yang pertama, dan dilanjutkan dengan Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan yang akan diwujudkan dalam mengemban visi dan misi organisasi. Kementerian Keuangan sebagai organisasi yang selalu berkomitmen untuk terus maju dan sempurna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, telah menetapkan nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi setiap pegawai. Nilai-nilai tersebut disusun tentu dengan harapan para pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan dapat memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut, sehingga seluruh pegawai dapat menjadi unsur yang mendorong kemajuan organisasi.  

Integritas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.” Kesatuan dalam hal ini berarti adanya konsistensi antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita perbuat. Konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Definisi lain dari integritas adalah suatu konsep yang menunjuk pada konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip.  

Sedangkan Integritas dalam Nilai Nilai Kementerian Keuangan bermakna : Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip prinsip moral. Seseorang dikatakan memiliki integritas apabila perkataan dan tindakannya baik dan benar serta memegang teguh prinsip-prinsip moral. Dalam perjalanan organisasi, integritas lebih sering teruji. Integritas lebih banyak menjadi sorotan masyarakat. Integritas yang tergadai langsung menjadi topik pembicaraan baik di media elektronik maupun surat kabar. Begitu besar dampak integritas terhadap kepercayaan masyarakat pada suatu organisasi.  

Organisasi berupaya untuk mengingatkan pada pegawai maupun masyarakat yang langsung berhubungan, kantor kantorpun menerapkan zona Integritas, bebas dari korupsi. Slogan anti korupsi terpampang di berbagai sudut kantor pemerintahan maupun di pinggir jalan yang kita lalui. Bahkan lebih tegas lagi pemerintah dalam hal ini organisasi anti rasuah mengajak untuk semua pihak yang terkait ditantang untuk bersikap “Berani Jujur Hebat” yang menjadi jargonnya. 

Korupsi, tindakan integritas seseorang yang tergadaikan. Ditengah gencarnya kampanye anti korupsi, malah semakin banyak bermunculan OTT, yang pada akhirnya para pelaku mendekam di penjara. Pelakupun akhirnya diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya, menderita,  namun apalah artinya, nasi sudah menjadi bubur. Bisa dipastikan isteri atau suami dan anak-anak akan menerima dampak baik secara psikologis maupun resiko dikucilkan oleh lingkungan masyarakat sekitar.  

Dalam realita kehidupan bermasyarakat, seseorang bisa mempercayai diri anda karena anda jujur. Apalah jadinya kita berteman dengan seseorang jika anda tidak mempercayai teman anda atau sebaliknya anda sendiri tidak dipercaya oleh teman anda. Tidak ada kedamaian hati bila berteman dengan dia. Kecurigaan akan muncul dalam pergaulan sehari-hari. Tidak menutup kemungkinan terjadi pertengkaran yang bisa berlanjut ke ranah hukum. Begitupun dalam kehidupan berumah tangga, kejujuran menjadi yang utama. Tak bisa dibayangkan jika dalam lingkup keluarga yang notabene merupakan lingkup terkecil dari masyarkat beranggotakan orang orang yang dalam kesehariannya tidak tertanamkan rasa jujur di kehidupannya. Maka alangkah baiknya jika sikap demikian diawali dengan membiasakan diri dalam keseharian di lingkup keluarga.  

Ketika kita menganut suatu nilai kejujuran, maka kita akan memilih untuk tetap jujur kapanpun dan dimanapun kita berada. Misalnya pada waktu ujian, seseorang yang mempunyai komitmen dan memegang teguh kejujuran lebih memilih terus berusaha ketimbang mencoba untuk  bertanya atau nyontek kepada teman. Perbuatan jujur ini akan membawa keuntungan bagi diri kita sendiri. Keuntungan pertama adalah kita merasa puas dengan hasil ujian yang kita kerjakan, dan keuntungan kedua adalah teman-teman akan mempercayai diri kita. Kepercayaan merupakan harga yang sangat mahal. Karena kepercayaan terjadi dari suatu proses yang tidak instan. 

Perilaku tersebut di atas tidak dapat dibentuk secara instan atau direkayasa, melainkan harus melalui pembinaan diri secara jangka panjang dan berkelanjutan serta konsisten antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Pada indikator perilaku tersebut juga menunjukkan semakin tinggi level integritas maka semakin berani mengoreksi dan mengajak orang lain untuk menegakkan kode etik dan prinsip moral, bukan hanya mengerjakan untuk diri sendiri. 

Integritas ini dibutuhkan oleh siapa saja, tidak hanya bawahan namun juga yang pemimpin. Integritas sebagai pemimpin dapat membawa yang dipimpin menjadi lebih baik. Pemimpin yang memiliki integritas hanya akan berpikir bahwa dirinya itu melayani bawahannya, bukan sebaliknya. Pemimpin yang adil dalam melayani bawahan membuat bawahannya nyaman dan dengan senang hati mengikuti apa yang diperintahkan, karena yakin bahwa pemimpinnya memiliki integritas. Sedangkan seorang bawahan yang memiliki integritas berpikir bahwa dirinya harus melayani pemimpin selama pemimpin itu benar sesuai nilai prinsip dan moral. 

Dalam organisasi, pada diri seorang pemimpin, nilai integritas mutlak dijalankan, karena dialah yang akan dipandang orang lain terlebih dahulu. Dijadikan contoh dan teladan terutama bagi bawahannya. Integritas ini juga penting bagi image si pemimpin itu sendiri. Karena di saat pemimpin menerapkan nilai-nilai integritas, ia akan diterima sekaligus dipercaya oleh bawahannya sebagai sosok panutan. Ia akan bisa mempengaruhi orang lain karena ketegasan dan keselarasannya atas pikiran dan perkataan. Hal yang berbeda terjadi jika di dalam sebuah organisasi, para pemimpinnya tidak dipercaya bahkan tidak mendapat respek dari bawahannya. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri tanpa mengikuti arahan dari pimpinannya. Organisasi atau perusahaan tersebut akan menjadi kacau dan tidak bisa mencapai tujuan dengan baik. Itulah yang akan terjadi jika pemimpin tidak menanamkan nilai-nilai integritas.  

Menteri Keuangan telah beberapa kali menyampaikan pesan kepada para bawahannya di lingkungan Kementerian Keuangan. Pesan yang beliau sampaikan yakni meminta para ASN Kemenkeu untuk tidak menghianati nilai-nilai integritas dan profesionalitas yang selama ini sudah dibangun. "Kita tidak seharusnya mengkhianati rekan-rekan (yang bekerja jujur) dan mengkhianati nilai-nilai yang kita coba bangun di Kemenkeu, yaitu integritas, profesionalisme, sinergi dan pelayanan," Beliau mengaku bangga dengan para pegawai yang bekerja penuh dengan integritas. Bahkan tidak jarang sampai harus mempertaruhkan nyawa untuk meningkatkan penerimaan negara. Sikap para pegawai Kemenkeu yang militan perlu dicontoh oleh pegawai lainnya. Misalnya dengan menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kredibel dan menjaga kekayaan serta aset negara secara jujur. "Kita harus menjaga institusi yang berdiri dan mampu menjadi panggung di negeri ini, memenuhi harapan pendiri bangsa untuk menghidupkan negara dan bangsa serta rakyat kita semuanya”. 

Dalam konteks seorang pegawai, hal yang sulit dalam integritas adalah ketika terjadi perbedaan nilai, ataupun kepentingan. Misalnya antara kemudahan dan kesesuaian prosedur, antara  patuh dengan atasan atau patuh pada aturan, antara patuh aturan dan setia kawan. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menjaga konsistensi integritas dari setiap pegawai setiap waktu. Menampilkannya terus menerus dari waktu ke waktu akan memberikan dorongan bagi pegawai yang lain untuk berubah menjadi lebih baik. Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang selalu konsisten untuk menjalankan nilai-nilai integritas, sehingga diharapkan nilai-nilai itu akan tumbuh dan mengakar dalam diri setiap orang yang berada di dalamnya. 

Nilai-nilai integritas sangat penting untuk diterapkan dalam sebuah organisasi, agar semua orang di dalamnya bisa saling percaya dan pada akhirnya bisa lebih cepat untuk mencapai tujuan bersama. Jika nilai-nilai integritas tidak dijalankan, maka kerjasama tim yang dilakukan akan menjadi lebih sulit akibat tidak terbangunnya kepercayaan yang komprehensif di antara mereka. 

Jika kita perhatikan pada definisi dan penjelasan di atas, menjadi sebuah keharusan integritas menjadi nilai yang pertama wajib dimiliki oleh semua pegawai di Kementerian Keuangan khususnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan, baru berikutnya menyusul syarat kapabilitas intelektual dan/atau manajerial. Karena itulah integritas diletakkan pada nilai pertama dalam Nilai-Nilai Kementerian Keuangan. Semakin banyak SDM dengan integritas yang tinggi akan menentukan maju mundurnya suatu organisasi dan lebih luas lagi akan menentukan masa depan suatu Negara. 

 

Disclaimer : Tulisan merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi

        Direktorat Jenderal Perbendaharaan maupun KPPN Surabaya II

Penulis  :  Didik Sudarsono  (Kepala Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal KPPN Surabaya II)