SURABAYAPAGI.com, Ngawi - Sumur warga di Dusun Krawong Desa Cantel Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi mengalami kekeringan sehingga membuat pasokan air bersih menjadi langka dan minim. Sebanyak 200 jiwa di dusun tersebut harus berjalan ke hutan untuk mendapatkan air bersih keperluan konsumsi.
Sumber air itu ditempuh dengan jalan kaki dengan jarak 2 kilometer dari rumah. Sehari mereka bisa bolak balik sampai lima kali. Total perjalanan yang mereka tempuh mencapai 20 km.
Baca juga: Kekeringan Meluas di 12 Desa di Malang, Pendistribusian Air Capai 2,65 Juta Liter
Sesampainya disana, warga pun harus mengantri dengan yang lain. Air yang mereka ambil pun hanya secukupnya agar sumber air tak langsung habis.
Menurut salah satu warga setempat, Supriyati, jaringan pipa yang sudah dipasang di area itu tak lantas membuat mereka mendapatkan air bersih cukup saat kemarau melanda.
“Sehari bisa lima kali bolak-balik. Sudah ada bantuan sumur dan pipa, tapi tidak berfungsi. Jalan kaki ke hutan, sekali jalan 2 kilometer,” jelasnya, Kamis (24/08/2023).
Baca juga: Puncak Musim Kemarau, 11.800 Jiwa di Situbondo Terdampak Krisis Air Bersih
Sama halnya dengan Sukirah, warga setempat juga yang mengaku mereka dijanjikan mendapatkan air bersih dari sumur dalam dan jaringan pipa. Namun, hingga kini tak berfungsi.
“Dulu dijanjikan air bersih tapi hingga kini airnya tidak pernah keluar warga ya gini harus mencari air hingga ke hutan untuk memasak,” katanya.
Baca juga: Kekeringan Ekstrem, Fraksi PDIP DPRD Jatim Desak Pemprov Selamatkan Sawah Sebelum Puso
Diketahui, saat ini Desa Cantel menjadi salah satu desa yang mendapatkan dropping air dari BPBD Ngawi.
Yudha Herlambang, Petugas BPBD Ngawi mengatakan droping air juga dilakukan di sebanyak 7 desa lain di empat kecamatan di Ngawi. “Yakni Kecamatan Pitu, Bringin, Karanganyar, dan Kasreman,” katanya. ngw-01/dsy
Editor : Desy Ayu