Hingga Akhir September, Dinkes Ponorogo Catat 254 Anak di Bawah 14 Tahun Terdeteksi Idap TBC

surabayapagi.com
Sejumlah pengendara melintas di Jalan Lintas Timur (jalintim) Palembang-Indralaya yang tertutup kabut asap di Desa Muara Baru, Pemulutan, Ogan Ilir (OI). SP/PNG

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Hingga akhir September 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mencatat 254 anak berusia di bawah 14 tahun terdeteksi menderita tuberkulosis (TBC) dari total 928 kasus. Karenanya, pihaknya terus melakukan penemuan kasus secara aktif untuk mengetahui penderita sedini mungkin, agar anak yang terdiagnosis TBC dapat segera memperoleh penanganan dan pengobatan sesuai kondisi medisnya.

Sehingga, adanya temuan TBC pada anak perlu mendapat perhatian, terutama ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan yang ditandai berat badan tidak mengalami peningkatan dalam waktu cukup lama. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan anak terinfeksi TBC sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Baca juga: Pantau Kasus Influenza A, Dinkes Ponorogo Perkuat Fasilitas Kesehatan dan SKDR

“Kasus TBC pada anak ini rata-rata ditemukan bersamaan dengan stunting. Kalau berat badan anak tidak naik secara terus-menerus, perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi kemungkinan TBC,” jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ponorogo Anik Setyarini, Kamis (01/10/2026).

Baca juga: Pemkot Batu Gencarkan 41 Titik Screening TBC Massal Gratis, Target Eliminasi 2030

Lebih lanjut, Anik menjelaskan penularan TBC pada anak dapat terjadi melalui kontak dengan orang yang telah lebih dahulu menderita TBC, termasuk anggota keluarga maupun orang di lingkungan sekitar. Risiko paparan juga perlu diperhatikan ketika anak berada di lingkungan dengan banyak orang, terutama apabila terdapat penderita TBC yang belum mendapatkan pengobatan.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan seseorang menderita TBC hanya berdasarkan gejala batuk. Diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan medis sehingga penanganan dapat diberikan sesuai hasil pemeriksaan.

Baca juga: Berkat Inovasi ‘Besti Pren’, Angka Prevalensi Stunting di Ponorogo Alami Penurunan

Dimana pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab kondisi tersebut. Dengan penemuan kasus secara aktif dan pemeriksaan lebih dini, Dinkes Ponorogo berupaya mempercepat penanganan penderita sekaligus mengurangi risiko penularan TBC di lingkungan keluarga dan masyarakat. pn-01/dsy

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru