SURABAYAPAGI.com, Jakarta – Koordinator Pasukan Berani Mati Jokowi, Sukodigdo Wardoyo, menyatakan kesiapannya mengerahkan jutaan massa untuk membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka apabila muncul upaya pemakzulan yang dinilainya tidak sesuai dengan konstitusi.
SUKODIGDO menilai dinamika politik yang berkembang di tengah polemik mengenai posisi Gibran harus disikapi secara rasional.
Baca juga: Didesak Mundur, Gibran Malah Ingin Fokus Kerja
Menurut dia, pergantian atau pemberhentian pejabat negara tidak boleh didasarkan semata-mata pada tekanan kelompok politik, tuntutan sesaat, ataupun perbedaan pilihan politik.
Ia berpandangan, Gibran memperoleh jabatan wakil presiden melalui Pemilihan Presiden 2024. Karena itu, hasil pemilihan yang telah ditetapkan secara resmi harus dihormati, sementara setiap persoalan yang menyangkut legitimasi, dugaan pelanggaran hukum, maupun pemberhentian pejabat negara harus diselesaikan melalui mekanisme yang tersedia.
“Kalau ada pihak yang ingin memakzulkan Gibran, harus jelas apa dasar konstitusionalnya. Jangan sampai perbedaan politik kemudian dijadikan alasan untuk menjatuhkan pejabat negara tanpa mengikuti prosedur hukum,” kata Sukodigdo, Minggu (11/10/2026).
Sukodigdo menilai berkembangnya tuntutan agar Gibran dilengserkan perlu dicermati secara serius. Ia menganggap upaya yang bertujuan menjatuhkan wakil presiden tanpa dasar hukum dan prosedur yang jelas berpotensi menimbulkan ketidakpastian politik.
Menurut dia, demokrasi tidak hanya memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengkritik pemerintah, tetapi juga mengharuskan semua pihak menghormati aturan yang mengatur pergantian kekuasaan.
Dalam pandangannya, kritik terhadap Gibran merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Namun, kritik tersebut harus dibedakan dari upaya pemberhentian jabatan yang mempunyai persyaratan dan prosedur konstitusional tersendiri.
Pertanyaanya sekarang, siapa Sukodigdo Wardoyo? Sejak September 2024, namanya sudah bikin netizen menggaruk kepala sampai ketombe mengajukan pengunduran diri. Aktivis 98 mengaku tidak kenal, mantan relawan Joko Widodo tak kenal, Direktur INSIGHT menyebut sosoknya tampaknya fiktif, Ade Armando juga menyebutnya cerita fikftif.
Baca juga: Gibran, Sempat sempatnya Urusi Perundungan Korban MBG
Disamakan Habibie
Nama Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie, ikut diseret dalam perdebatan mengenai ijazah dan latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sigit Widodo, di akun X miliknya membandingkan ijazah yang dimiliki BJ Habibie dengan polemik latar belakang pendidkan wapres Gibran.
Sigit kemudian menjelaskan Presiden Ketiga Indonesia itu meninggalkan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung setelah hanya kuliah 6 bulan dan pindah berkuliah di Jerman. Pada periode 1950-1959, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam menjadi bagian UI di Bandung, lalu resmi jadi Institut Teknologi Bandung pada 2 Maret 1959. Pada periode 1950-1959, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam menjadi bagian UI di Bandung, lalu resmi jadi Institut Teknologi Bandung pada 2 Maret 1959.
“ H a b i b i e m e m p e r o l e h gelar Diplom-Ingenieur dari Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman. Gelar ini setara S2. Habibie kemudian mendapatkan gelar S3 Doktor-Ingenieur di kampus yang sama,” ungkap Sigit Widodo
Baca juga: Gibran tak Mau Ketinggalan dengan Prabowo, Ucapkan Selamat ke PM Singapura di Instagram
Untuk informasi, Diplom-Ingenieur (Dipl.-Ing.) dari RWTH Aachen University, Jerman, pada umumnya setara dengan jenjang pendidikan magister (S2) di Indonesia, khususnya untuk gelar teknik. Diplom-Ingenieur merupakan gelar akademik teknik dalam sistem pendidikan tinggi Jerman.
Gelar tersebut diberikan kepada lulusan program teknik dengan pendidikan akademik yang mendalam. Dalam sistem pendidikan Jerman yang lama, program Diploma umumnya mencakup perkuliahan tingkat lanjut, ujian, serta penyusunan tugas akhir atau tesis.
Sigit Widodo di akhir tweetnya kemudian menyebut bahwa BJ Habibie bisa saja tidak memiliki ijazah sarjana jika mengikuti logika Denny Indrayana.
Menanggapi cuitan Sigit inipun, rata-rata netizen menghujat dan memaki. Mayoritas mereka tak terima jika Habibie disamakan dengan Gibran. Jk1,rc
Editor : Redaksi