SurabayaPagi, Surabaya – Arus informasi di media sosial semakin memudahkan masyarakat terhubung dari Sabang hingga Merauke.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko berupa penyebaran hoaks atau berita bohong yang dapat memicu kesalahpahaman dan mengganggu kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Penjaga Parkir di Surabaya Terima Bantuan Bedah Rumah, Nur Fadillah: Terima Kasih Pak Prabowo
Di tengah kondisi tersebut, penguatan nilai kebangsaan melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dinilai penting, terutama bagi generasi muda yang sehari-hari berinteraksi dengan media digital.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Prof. Darsono, mengatakan sosialisasi secara tatap muka tetap diperlukan agar masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga dapat berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan secara langsung.
"Masyarakat dapat berkumpul, berdiskusi, menerima materi, dan menyampaikan pertanyaan secara langsung. Hal ini terutama penting bagi generasi muda yang setiap hari berinteraksi dengan ponsel dan media digital," ujarnya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar di Surabaya, Senin (19/10/2026).
Darsono juga mengapresiasi Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, yang secara berkala menyelenggarakan kegiatan tersebut di wilayah Surabaya dan Sidoarjo.
Menurutnya, sosialisasi yang telah dilaksanakan sedikitnya 22 kali itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara kepada masyarakat.
"Yang kita kenal sebagai konsensus dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau sangat intens memberikan sosialisasi ini kepada masyarakat, dan hal tersebut patut kita apresiasi," imbuhnya.
Sementara itu, Bambang Haryo menilai kedekatan generasi muda dengan media sosial menjadi alasan penting untuk memperluas jangkauan sosialisasi Empat Pilar.
Baca juga: DPR RI Bambang Haryo Dorong Batik Ecoprint Surabaya Tembus Pasar Internasional
Ia mendorong agar kegiatan tersebut tidak hanya menyasar masyarakat dalam forum sosialisasi, tetapi juga menjangkau sekolah dan lingkungan perkampungan.
"Tentu akan lebih baik jika kegiatan ini dapat dilakukan secara lebih luas, salah satu caranya adalah dengan melibatkan sekolah dan para guru. Harapan kita, generasi muda Indonesia dapat memiliki jiwa nasionalisme yang semakin tinggi," terangnya.
Menurut Bambang Haryo, derasnya arus informasi di media sosial tidak mudah dibendung. Karena itu, penanaman nilai kebangsaan perlu diperkuat sebagai salah satu upaya membangun karakter generasi muda agar memiliki pegangan dalam menyikapi berbagai informasi.
Ia menilai lembaga pendidikan formal memiliki peran strategis karena sekolah menjadi tempat anak-anak memperoleh pendidikan dan membentuk karakter.
Selain sekolah, lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai kebangsaan melalui peran tokoh masyarakat.
Baca juga: 67 Juta UMKM, Sertifikasi SNI Masih Minim, DPR RI Soroti Keterbatasan Anggaran BSN
"Sekolah merupakan fondasi utama pendidikan anak-anak kita. Selain itu, lingkungan perkampungan juga menjadi tempat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, dapat dilakukan melalui tokoh masyarakat yang kemudian menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak," jelasnya.
Empat Pilar MPR RI meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Keempatnya menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan nilai-nilai tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan literasi digital, sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, semakin cermat dalam menerima, memeriksa, dan menyebarkan informasi di media sosial.
Editor : Redaksi