Peralihan Musim Hujan, Pemkab Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi

surabayapagi.com
Banjir yang menerjang sejumlah rumah di Kabupaten Lumajang. SP/LMJ

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Setelah kejadian bencana alam berupa tanah longsor dan banjir melanda beberapa kecamatan di kabupaten setempat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, kini menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Hal itu karena peralihan musim kemarau menuju musim hujan perlu diikuti peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman bencana alam.

"Langkah itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem, termasuk banjir dan tanah longsor," kata Bupati Lumajang Indah Amperawati, Rabu (04/11/2026).

Baca juga: Siaga Bencana Hidrometeorologi, Kapolres Lumajang Tegaskan Keselamatan Masyarakat Prioritas Utama

Oleh karenanya, Bupati yang akrab dipanggil Bunda Indah itu mengajak masyarakat untuk mengutamakan keselamatan dan memperkuat kewaspadaan, terutama bagi warga yang bermukim di sepanjang sungai maupun kawasan rawan longsor.

"Keselamatan warga di sekitar aliran lahar Gunung Semeru menjadi perhatian Pemkab Lumajang setelah banjir lahar menerjang kawasan Besuk Kobokan dan kami memastikan kondisi masyarakat di sekitar lokasi terpantau aman. Saya meminta warga tetap meningkatkan kewaspadaan karena curah hujan masih tinggi," tuturnya.

Baca juga: Warga Lumajang Was-was, Tanggul Sungai Glidik Jebol Diterjang Lahar Semeru

Sementara itu, adanya tragedi longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang menewaskan seorang ayah dan anaknya, menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca. Selain itu, bencana hidrometeorologi akibat hujan deras terjadi di enam kecamatan yakni Kecamatan Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, dan Candipuro.

"Seperti di Kecamatan Tempursari terdapat sebanyak 117 kepala keluarga (KK) terisolasi akibat akses jalan terputus di Desa Purorejo akibat diterjang banjir lahar Semeru, tiga teras rumah roboh dan 10 rumah berisiko ambruk. Saat ini sudah tidak terisolasi belasan KK tersebut," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Isnugroho.

Baca juga: Jaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok, Pemkab Lumajang Siapkan Program Prioritas 2027

Sehingga, kewaspadaan bersama menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana sekaligus melindungi keselamatan keluarga dan masyarakat di tengah meningkatnya potensi cuaca ekstrem. lj-01/dsy

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru