Minim Bantuan Pemerintah, Ayah Miskin Di Ponorogo Kehilangan Nyawa Anak, Gadai KTP Untuk Biaya RS

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Agung Setiawan saat menunjukkan kondisi anaknya Rangga sebelum meninggal akibat minimnya bantuan pemerintah. 
Agung Setiawan saat menunjukkan kondisi anaknya Rangga sebelum meninggal akibat minimnya bantuan pemerintah. 

i

SURABAYA PAGI,Ponorogo— Kisah pilu dialami Agung Setiawan seorang pengumpul rosok warga Dukuh Tempuran, Desa Gandu Kepuh, Ponorogo. Ia kehilangan putranya, Rangga Rizki Setiawan (16), setelah hampir setahun sakit dan berulang kali menjalani perawatan.

Putra pertamanya itu meninggal pada Sabtu (12/09/2026) lalu akibat penyakit pernapasan akut atau TBC. 

Sebelumnya, ditengah keterbatasan ekonomi, Agung mengaku harus terpaksa menggadaikan motor dan meninggalkan KTP sebagai jaminan karena tak mampu melunasi biaya rumah sakit. Pasalnya sudah lebih dari 2 bulan ia tidak bisa bekerja karena menjaga anaknya yang masih duduk di bangku kelas VII SMA Bakti Ponorogo tersebut. 

“Di Muhammadiyah kurang sekitar Rp2,9 juta kalau enggak salah, tak tinggali KTP-ku. Terus dua minggu kemudian anak saya masuk rumah sakit lagi, pindah ke Rumah Sakit Umum. Biaya perawatannya hampir Rp10 juta, KTP istri saya yang ditinggal,” kata Agung, Selasa (22/09/2026). 

Agung mengatakan, uang Rp2 juta untuk biaya pengobatan sebelumnya diperoleh dengan menggadaikan motor. Ia juga mengaku hampir dua bulan tidak bekerja karena harus merawat anaknya.

“Saya memang benar-benar kondisi enggak ada,” ujarnya.

Menurut Agung, Rangga mengalami infeksi paru dan asam lambung. Ia terakhir menjalani perawatan di RSUD dr Harjono Ponorogo. Namun, bantuan yang diharapkan keluarga belum diterima hingga Rangga meninggal.

Agung mengaku telah meminta bantuan Dinas Sosial dan petugas sempat melakukan survei ke rumahnya.

“Dari Dinsos sudah survei ke sini, lihat kondisi anak. Kenapa kok enggak dijadikan prioritas? Dengan kondisi saya yang tidak mampu, kenapa enggak dijadikan prioritas?” katanya.

Ia juga mengaku pernah mencoba mengurus jaminan kesehatan bagi keluarganya. Namun, menurut dia, proses tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Agung mengatakan BPJS miliknya sebelumnya tidak lagi aktif karena tidak mampu membayar iuran akibat kebutuhan keluarga.

“Sebenarnya sudah kemarin sama perangkat desa. Tapi jawabannya, katanya bukan urusan perangkat desa,” kata Agung.

Sementara itu, Sekretaris Desa Gandu Kepuh Kecamatan Sukorejo, Budi Utomo, mengatakan pihak desa sebenarnya telah menyarankan keluarga mengurus BPJS Mandiri terlebih dahulu karena pengajuan bantuan pemerintah membutuhkan proses perubahan data.

“Karena itu urgen, daftar BPJS Mandiri dulu, yang penting bisa berobat,” kata Budi.

Menurut Budi, keluarga juga diarahkan berkonsultasi ke Dinas Sosial untuk mencari kemungkinan kebijakan bantuan. Namun, setelah satu kali datang ke desa, keluarga disebut tidak kembali melaporkan perkembangan pengurusan.

“Setelah satu kali datang ke desa itu enggak datang lagi kembali. Jadi saya juga enggak tahu pergerakannya, tahu-tahu terakhir meninggal itu,” ujarnya.

Budi mengatakan pengajuan bantuan juga terkendala data desil yang belum masuk kriteria penerima. Ia menyebut perubahan data tersebut tidak dapat dilakukan secara cepat.

“Kalau enggak masuk desil, itu harus mengubah desil. Itu kan tidak serta-merta cepat. Jadi saya mengingatkan karena itu urgen, daftar BPJS Mandiri dulu, yang penting bisa berobat,” kata Budi.

Sementara itu, Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Ponorogo, Erni Prasetianingsih, mengatakan keluarga memang telah menjalani proses asesmen.

Setelah menerima surat pengantar dari desa dan melakukan pengecekan ke lokasi, Dinsos menerbitkan rekomendasi bantuan untuk diteruskan kepada Baznas.

“Anggarannya sudah ada dan persetujuannya sudah ada untuk memberikan bantuan. Namun, putranya sudah meninggal sebelum bantuan itu tersampaikan,” kata Erni.

Erni mengatakan Dinsos tidak memiliki anggaran langsung untuk bantuan tersebut sehingga bekerja sama dengan Baznas.

“ Yang bersangkutan itu sudah siap, anggarannya sudah ada dan persetujuannya sudah ada untuk memberikan bantuan. Namun, kita tidak tahu takdirnya. Ternyata putranya sudah meninggal sebelum bantuan itu tersampaikan,” kata Erni.

Erni menyayangkan keluarga baru datang ketika kondisi Rangga sudah kritis. Menurut dia, pengurusan jaminan kesehatan seharusnya dilakukan sejak awal ketika diketahui anak membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang.

“Sebenarnya kalau jauh-jauh hari dia datang ke sini, insyaallah BPJS bisa membantu dalam pengobatan,” katanya.roh

Tag :

Berita Terbaru

Persela Hajar Persijap 2-0, Yudo Persembahkan Dua Gol bagi Fans dan Istri yang Baru Melahirkan

Persela Hajar Persijap 2-0, Yudo Persembahkan Dua Gol bagi Fans dan Istri yang Baru Melahirkan

Selasa, 03 Nov 2026 22:23 WIB

Selasa, 03 Nov 2026 22:23 WIB

SURABAYA PAGI.COM, Lamongan – Persela Lamongan tampil impresif dengan menaklukkan Persijap Jepara 2-0 dalam pertandingan J League 2026 yang berlangsung di S…

Penuh Optimisme Kontingen POPDA Lamongan Siap Borong Medali

Penuh Optimisme Kontingen POPDA Lamongan Siap Borong Medali

Selasa, 03 Nov 2026 21:28 WIB

Selasa, 03 Nov 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Semangat dan optimisme mewarnai pemberangkatan Kontingen Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kabupaten Lamongan ke-XV Tahun…

Gugatan Rp21,4 Miliar Mentah! Nany Widjaja Menang, Dalil PT Java Fortis Tak Terbukti di PN Surabaya

Gugatan Rp21,4 Miliar Mentah! Nany Widjaja Menang, Dalil PT Java Fortis Tak Terbukti di PN Surabaya

Selasa, 03 Nov 2026 21:25 WIB

Selasa, 03 Nov 2026 21:25 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) senilai Rp21,43 miliar yang dilayangkan PT Java Fortis Corporindo terhadap mantan d…

Diduga Peras Pengusaha, Admin Medsos Ponorogo Jadi Tersangka

Diduga Peras Pengusaha, Admin Medsos Ponorogo Jadi Tersangka

Selasa, 03 Nov 2026 18:45 WIB

Selasa, 03 Nov 2026 18:45 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo– Seorang admin media sosial di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, berinisial NR ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan ancaman …

Untuk Hasil Yang Lebih Maksimal, Petani dan Pembudidaya Konvensional di Lamongan Beralih ke AIoT

Untuk Hasil Yang Lebih Maksimal, Petani dan Pembudidaya Konvensional di Lamongan Beralih ke AIoT

Selasa, 03 Nov 2026 18:43 WIB

Selasa, 03 Nov 2026 18:43 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Untuk mencapai hasil yang maksimal di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan secara menyeluruh berhasil, diperlukan inovasi…

Tanjung Perak Jadi Pilot Project Zero ODOL, Pemerintah Perketat Pengawasan Kendaraan dan Muatan Kapal

Tanjung Perak Jadi Pilot Project Zero ODOL, Pemerintah Perketat Pengawasan Kendaraan dan Muatan Kapal

Selasa, 03 Nov 2026 15:45 WIB

Selasa, 03 Nov 2026 15:45 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Pemerintah mulai memperketat pengawasan kendaraan dan barang yang diangkut melalui jalur laut. Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, d…