SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Sejak beberapa pekan ini, sejumlah petani di Kabupaten Bojonegoro mengeluhkan harga tembakau mengalami penurunan yang dinilai tidak lagi sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Penurunan harga dirasakan petani tembakau di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.
Meski harga terus turun, petani masih melakukan pemetikan daun tembakau karena tanaman tersebut sudah memasuki masa panen. Kondisi itu membuat petani harus menerima harga jual yang semakin rendah di tengah biaya produksi yang tetap harus dikeluarkan. Tak hanya tembakau basah, harga tembakau rajang kering juga mengalami penurunan.
Salah satu petani tembakau, Muh Taufiq, mengatakan harga tembakau basah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp3.500 per kilogram. Harga tersebut turun dibandingkan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp4.200 per kilogram. “Sekarang tembakau basah sekitar Rp3.500 per kilogram. Sebelumnya masih Rp4.000 sampai Rp4.200,” kata Muh Taufiq, Senin (28/09/2026).
Saat ini, harga tembakau rajang kering berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga tembakau rajang kering masih bisa mencapai Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Petani menyebut salah satu faktor yang memengaruhi turunnya harga tembakau basah adalah harga pembelian di tingkat tengkulak. Kondisi tersebut membuat petani harus kembali menghitung potensi pendapatan dari hasil panen mereka. Di sisi lain, biaya produksi masih terus berjalan. Salah satunya adalah biaya tenaga kerja untuk proses pemetikan daun tembakau.
Saat harga jual turun, sementara biaya buruh panen tetap, keuntungan yang diterima petani otomatis semakin tertekan. Bahkan, petani harus memastikan hasil penjualan tembakau setidaknya mampu menutup biaya produksi dan upah tenaga kerja.
Oleh karenanya, petani berharap harga tembakau kembali membaik sehingga hasil panen yang diperoleh masih mampu memberikan keuntungan sekaligus menutup seluruh biaya produksi. Terlebih, sebagian petani saat ini masih harus menyelesaikan proses panen di tengah harga komoditas yang belum stabil. bj-01/dsy
Editor : Redaksi