SURABAYAPAGI.com - Lembaga keuangan yang berbasis di Washington mencatat negara-negara maju membayar bunga lebih dari US$ 3,3 triliun atas obligasi pemerintah yang diperdagangkan secara internasional sepanjang tahun lalu. Angka tersebut lebih besar dibandingkan pengeluaran global untuk AI yang mencapai US$ 2,6 triliun, belanja pertahanan US$ 3,1 triliun, maupun investasi energi bersih sebesar US$ 2,3 triliun.
IIF memperingatkan, rasio utang telah menjadi isu politik yang akan disorot dalam pemilihan umum (pemilu) dan solusi cepat jangka pendek dalam memitigasi risiko tersebut."Siklus setan antara pemilihan umum dan solusi cepat jangka pendek, serta kerentanan jangka panjang karena utilitas marginal dari utang yang lebih tinggi menurun," ungkap riset IIF dikutip dari CNBC, Sabtu (26/9/2026).
"Seiring kenaikan suku bunga acuan, beban bunga diperkirakan akan melonjak, sementara tekanan struktural dari pengeluaran perawatan kesehatan dan pensiun publik sebagian besar masih belum ditangani," tambahnya.
Sementara itu, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menilai kenaikan imbal hasil obligasi menunjukkan perlunya upaya yang lebih besar untuk mengendalikan dan mengalokasikan kembali pengeluaran pemerintah seiring dengan meningkatkan efisiensi sektor publik dan memperkuat pendapatan.
Reformasi diperlukan untuk menjaga keberlanjutan utang dalam jangka panjang sekaligus memastikan pemerintah memiliki ruang untuk merespons berbagai guncangan ekonomi di masa depan
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan kepada BBC dalam wawancara pekan ini bahwa berbagai guncangan terhadap ekonomi global membuat tingkat utang terus meningkat. Ia menggambarkannya seperti naik tangga dan menyoroti minimnya langkah pemerintah dalam mengatasi persoalan tersebut.
"Ada dua hal yang harus dilakukan: menurunkan tingkat utang, memprioritaskan konsolidasi fiskal, dan memastikan bank sentral memenuhi mandat mereka untuk stabilitas harga," katanya. "Tidak mungkin cukup menekankan betapa pentingnya untuk memiliki keberanian mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Ini adalah langkah-langkah yang sulit secara politis, tetapi langkah-langkah yang perlu diambil," pungkasnya. ec/afp
Editor : Redaksi