SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kondisi lingkungan yang dipenuhi debu dan asap kotor hingga emisi kendaraan bermotor di puncak kemarau mengakibatkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan di tengah masyarakat Kota Pahlawan. Lonjakan kasus ini terjadi selama puncak musim kemarau (terpantau hingga Oktober 2026), Minggu (04/10/2026).
Berdasarkan data pemantauan real-time dari platform IQAir serta data resmi DLH Surabaya, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) / Indeks Kualitas Udara (AQI) Surabaya tercatat konsisten berada di angka 107 hingga 150. Angka ini menempatkan udara Surabaya dalam kategori "Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif" hingga "Tidak Sehat" yang dipicu oleh emisi kendaraan bermotor dan debu jalanan
Pasalnya, dari sudut pandang sains dan meteorologi, cuaca yang sangat kering serta kelembapan udara yang rendah menyebabkan partikel polutan super kecil, yaitu PM2.5, beserta debu jalanan bertahan melayang lebih lama di atmosfer tanpa terbilas air hujan. Partikel PM2.5 yang berukuran mikro ini sangat mudah terhirup masuk dan mengendap hingga ke bagian terdalam saluran pernapasan manusia.
Menanggapi situasi yang seperti ini, Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan rilis dan edaran resmi agar warga memperketat protokol kesehatan pernapasan, diantaranya, selalu mengenakan masker medis atau N95 saat beraktivitas di luar ruangan, mengecek indikator AQI/ISPU secara berkala sebelum beraktivitas outdoor, membatasi kegiatan fisik di luar rumah saat tingkat polusi tinggi, terutama untuk anak-anak dan lansia, serta rutin minum air putih untuk menjaga kelembapan tenggorokan dari iritasi debu. sb-02/dsy
Editor : Redaksi