SURABAYAPAGI.com, Batu - Sebagai upaya dalam menjaga daya tarik sekaligus nilai profitabilitas bagi para petani, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu perkuat ekosistem Smart Integrated Farming dengan mengandalkan sentuhan teknologi presisi, kepastian rantai pasok pasar, hingga skema kemitraan strategis menjadi pilar krusial di sektor pertanian.
Hal itu diwujudkan Wali Kota Batu, Nurochman, bersama jajaran pengurus Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) bahkan turun langsung melakukan studi lapangan untuk mempelajari praktik pertanian modern di sejumlah sentra hortikultura Jawa Tengah, diantaranya fasilitas rumah kaca (greenhouse) sayuran hidroponik dan melon premium milik Diah di Kota Salatiga, serta Kebun Keraton di Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Menurut Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, terdapat satu substansi utama yang menjadi oleh-oleh berharga dari agenda studi banding tersebut, yakni formulasi membangun pertanian sebagai satu ekosistem utuh, bukan sekadar aktivitas bercocok tanam.
”Yang kami pelajari bukan hanya bagaimana cara menanam dengan teknologi modern, melainkan bagaimana membangun sebuah ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari penyediaan benih bermutu, proses budidaya, pendampingan teknis, hingga jaminan pemasaran hasil panen,” ujar Nurochman, Kamis (08/10/2026).
Cak Nur berharap CooSAE nantinya mampu mengambil peran kunci sebagai agregator lokal. Lembaga ini bertugas memperkuat posisi tawar petani Kota Batu dalam rantai pasok modern, membuka akses pembiayaan, serta mempertemukan kelompok tani secara langsung dengan offtaker.
Sistem pertanian tersebut selanjutnya dipadukan dengan budidaya ikan nila dan peternakan ayam petelur. Pendekatan yang diusung adalah pertanian berkelanjutan dengan prinsip minim limbah (zero waste). Pembangunannya tidak dilaksanakan secara mendadak, melainkan dirancang sistematis melalui peta jalan (roadmap) hingga tahun 2030. bt-01/dsy
Editor : Redaksi