SURABAYAPAGI.com, Madiun – Martha, istri sah Dwi Bagus Martono, membantah mengetahui maupun terlibat dalam kasus pembunuhan disertai mutilasi terhadap Dini Hardiyanti (30) dan anaknya, AGF (4). Dia mengaku tidak mengetahui tindakan yang dilakukan suaminya karena saat itu sedang menjalankan aktivitas mengajar di sekolah.
Bantahan tersebut disampaikan Martha saat menggelar konferensi pers bersama tim kuasa hukumnya, Senin (2/11/2026). Dia menegaskan tidak pernah mengetahui apa yang dilakukan Bagus di rumah, termasuk aktivitas di area halaman belakang yang menjadi lokasi terjadinya peristiwa tersebut.
Martha menjelaskan, dirinya memiliki rutinitas bekerja sebagai guru dengan jam kerja mulai pukul 07.00 hingga 15.30 WIB. Setiap pagi, dia sudah harus berada di sekolah untuk melakukan absensi dan baru pulang setelah menyelesaikan pekerjaan.
"Jadi pada saat peristiwa itu terjadi, saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi dan apa yang suami saya lakukan. Karena saya full sedang mengajar di sekolah," ungkap Martha.
Dia juga membantah anggapan bahwa dirinya memiliki motif sakit hati akibat hubungan Bagus dengan perempuan lain, kemudian bekerja sama dengan suaminya dalam melakukan kejahatan tersebut.
Menurut Martha, dirinya justru baru mengetahui Bagus memiliki hubungan dengan perempuan lain hingga menikah siri selama dua tahun pada 10 Oktober 2026. Pengakuan itu disampaikan langsung oleh suaminya sebelum kasus tersebut terungkap.
"Saya masih mencerna dan menerima fakta bahwasanya ternyata ada hubungan lain yang dia bangun di atas rumah tangga kami. Jadi, kalau dinilai saya sakit hati kemudian bekerja sama dengan suami saya seperti itu, semua itu tidak benar," tegasnya.
Selain bekerja sebagai guru, Martha menyebut rumah yang ditempatinya bersama Bagus juga digunakan sebagai tempat usaha bimbingan belajar. Kegiatan pembelajaran berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 20.00 WIB.
Dia mengaku tidak menaruh kecurigaan terhadap aktivitas suaminya di bagian belakang rumah. Termasuk ketika Bagus memiliki sejumlah peralatan yang digunakan untuk aktivitas pribadinya.
Martha mengakui mengetahui keberadaan mesin pencacah yang dibawa masuk ke rumah dengan bantuan dua orang. Namun, dia mengaku tidak mengetahui fungsi maupun tujuan penggunaan mesin tersebut.
"Saya mengetahui mesin pencacah itu ada, tapi saya tidak tahu apa penggunaannya dan untuk apa," jelasnya.
Begitu pula dengan pembangunan cerobong di bagian belakang rumah. Martha mengaku mengetahui adanya tukang yang mengerjakan bangunan tersebut, tetapi tidak mengetahui secara detail tujuan pembuatannya.
Meski demikian, Martha menyatakan siap bersikap kooperatif apabila dibutuhkan penyidik dalam proses penanganan perkara tersebut.
Dia juga meminta agar proses hukum terhadap suaminya berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, saat bertemu Bagus dalam kegiatan prarekonstruksi, Martha mengaku meminta suaminya berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Saya pengin suami saya itu berani bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan," pungkasnya. waf
Editor : Redaksi