SurabayaPagi, Surabaya – Ratusan umat Katolik memadati Rumah Duka Grand Heaven Surabaya untuk mengikuti Misa Arwah dalam rangka memperingati Hari Arwah Sedunia, Senin (2/11/2026) malam.
Tidak hanya menjadi ruang bagi keluarga untuk mendoakan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia, kegiatan tahunan ini juga memperlihatkan kuatnya hubungan lintas agama di tengah masyarakat.
Misa yang digelar setiap 2 November tersebut berlangsung khidmat dan dipimpin RD. Benediktus Prima Novianto serta RD. Antonius Padua Dwi Joko. Mengusung tema “Bagi Keselamatan Jiwa-Jiwa Orang Beriman”, ibadah ini terbuka bagi seluruh umat, tidak terbatas pada keluarga yang menyimpan abu jenazah di kolumbarium Grand Heaven.
Pimpinan Grand Heaven, Tung Tung, mengatakan penyelenggaraan tahun ini merupakan Misa Arwah yang kelima. Ia bersyukur karena jumlah peserta meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus mendapat kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.
"Misa arwah kali ini adalah misa arwah kelima dan saya sungguh bersyukur hari ini dihadiri oleh tokoh lintas agama—baik Buddha, Muslim, Klenteng, Kristen—semuanya hadir di hari ini, dan peserta tahun ini juga jauh lebih banyak daripada tahun yang kemarin," ujar Tung Tung.
Menurut dia, jumlah peserta tahun ini mencapai sekitar satu setengah kali lipat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya antusiasme masyarakat untuk mengikuti kegiatan doa bersama yang diselenggarakan Grand Heaven.
Tung Tung menjelaskan, Misa Arwah tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga dimakamkan atau disemayamkan di Grand Heaven.
Masyarakat Surabaya dan sekitarnya juga dipersilakan mengikuti ibadah tersebut.
“Kami memfasilitasi keluarga duka yang abunya disimpan di kolumbarium Grand Heaven, namun juga terbuka untuk umum. Warga Surabaya dan sekitarnya yang ingin mengikuti misa arwah kami persilakan hadir. Setiap tahun pesertanya meningkat,” ujarnya.
Pemilihan waktu malam hari juga menjadi pertimbangan agar lebih banyak keluarga dapat mengikuti ibadah. Dengan begitu, mereka yang memiliki kesibukan pada siang hari tetap mempunyai kesempatan untuk berdoa bersama.
“Kami ingin menciptakan suasana yang tenang dan nyaman agar keluarga bisa berdoa dengan khusyuk,” tambahnya.
Selain menjadi ruang untuk mengenang anggota keluarga yang telah berpulang, kegiatan tersebut juga menghadirkan perjumpaan antarumat beragama.
Kehadiran tokoh lintas iman dalam Misa Arwah tahun ini mendapat perhatian tersendiri karena memperlihatkan ruang kebersamaan yang dapat tumbuh di tengah perbedaan keyakinan.
Pembimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Ketut Panji Budiawan, menilai Grand Heaven menjadi salah satu contoh praktik moderasi beragama.
Menurut dia, fungsi tempat tersebut tidak hanya terbatas pada pelayanan bagi umat Katolik, tetapi juga membuka ruang bagi kegiatan yang melibatkan masyarakat lintas agama.
“Tempat ini tidak hanya melayani umat Katolik, tapi juga menjadi ruang kegiatan lintas agama. Grand Heaven bukan sekadar rumah duka, melainkan miniatur toleransi beragama,” ujar Ketut.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat keharmonisan, kepedulian, dan empati antarumat beragama di Jawa Timur.
Tung Tung juga berharap Misa Arwah pada tahun mendatang dapat kembali mempertemukan lebih banyak umat.
Ia menyampaikan doa agar para peserta senantiasa diberi kesehatan dan perlindungan Tuhan sehingga dapat kembali mengikuti kegiatan serupa pada 2027.
"Pesan Misa Arwah tahun ini, semoga jemaat yang hadir diberikan umur yang panjang, sehat, dan selalu dalam lindungan Tuhan, supaya tahun depan beliau semua, teman-teman semua boleh hadir kembali di Misa Arwah Grand Heaven tahun 2027. Harapan saya, ke depannya supaya tahun depan kami bisa menyelenggarakan dengan dekor yang lebih cantik lagi dan peserta yang hadir juga berlipat daripada tahun ini," ungkapnya.
Melalui kegiatan yang telah memasuki penyelenggaraan kelima ini, Misa Arwah Grand Heaven tidak hanya menjadi bagian dari tradisi peringatan Hari Arwah Sedunia.
Kehadiran tokoh dan umat dari berbagai latar belakang juga menunjukkan bahwa penghormatan terhadap keluarga yang telah berpulang dapat menjadi ruang untuk merawat persaudaraan dan saling menghargai di tengah keberagaman.
Editor : Redaksi