SURABAYAPAGI.com, Malang - Sejak Januari hingga November, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 11 kali di tujuh kecamatan mengintai berpotensi banjir jelang musim penghujan 2026. Oleh karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang harus menyiapkan sejumlah antisipasi.
Potensi banjir di sejumlah titik kali tersebut disebabkan terdapat anomali cuaca yang mempercepat turunnya hujan dengan intensitas cukup tinggi. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Kabupaten Malang, tetapi juga melanda wilayah pesisir selatan Jawa Timur. Mulai Pacitan hingga Lumajang.
”Dalam waktu dekat, kami akan mengadakan rakor persiapan kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi bencana hidrometeorologi. Ada anomali yang mempercepat terjadinya hujan dengan intensitas cukup tinggi,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, Rabu (04/11/2026).
Berdasarkan sebaran kejadian, Kecamatan Pakis menjadi wilayah dengan jumlah banjir tinggi sepanjang 2026, yakni tiga kali kejadian. Kemudian disusul Pujon dan Singosari, masing-masing dua kejadian. Sementara Ampelgading, Bantur, Sumbermanjing Wetan dan Kasembon masing-masing mencatat satu kejadian.
Selain faktor alam, perilaku masyarakat juga turut andil terhadap potensi banjir. Sadono menyoroti kebiasaan masyarakat yang membuang sampah dan material ke sungai, terutama di kawasan perkotaan atau urban seperti Kepanjen, Pakis, dan Singosari. Hal itu karena wilayah tersebut memiliki potensi banjir yang relatif kecil, tetapi penyumbatan aliran sungai akibat sampah dapat memicu luapan air.
Menyikapi potensi tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta melakukan penilaian mandiri terhadap kondisi lingkungan dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda potensi bencana. ml-02/dsy
Editor : Redaksi