SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Prediksi yang saya lakukan saat itu, berdasarkan hasil kajian terhadap catatan 13 ribu kejadian gempa yang terjadi di wilayah selatan Jatim. Data dari BMKG yang saya analisa, dari sana terdeteksi adanya periodesasi gempa besar antara 20-30 tahun.
Baca juga: Daop 8 Layani 9,78 Juta Pelanggan Hingga Triwulan III 2026
Saat itu, pernah saya publikasikan pada tahun 2006 lalu hasil penelitian tersebut.
Jadi, selama ini lempeng benua yang ia sebut lempeng eurasia tersebut mendorong terus menerus lempeng samudera atau lempeng indo-australia.
Pergerakan dari lempengan tersebut diperkirakan mencapai 6-7 centimeter per tahun.
Kami tidak membantah bahwa potensi gempa dan tsunami itu akan terjadi. Sebenarnya, tujuan itu ialah bentuk kewaspadaan saja kepada masyarakat
Yakni, jika material yang ada di kerak bumi itu bentuknya elastis. Apabila lempeng itu bergeser, maka akan terjadi gempa tektonik.
Baca juga: Dewi Pertiwi Jatim Bergerak Lawan Stunting, Bantu Balita di Lakarsantri
Material ini bukan yang gampang patah, itu sifatnya elastis. Nanti pelan-pelan lempeng eurasia itu akan menekan terus lempeng indo-australia karena berat jenisnya lebih besar lempeng Eurasia.
Pergerakan ini diakibatkan oleh mantel konveksi yang ada di dalam perut bumi. Mantel konveksi itulah yang menggerakkan area yang berada di atasnya.
Dan pergerakan itu akan terus menerus terjadi, karena material yang berada di atas mantel bumi sifatnya elastis.
Baca juga: Sedang Isi BBM, Buronan Kasus Fidusia Oktavanus Katili Diciduk Tim Tabur Kejari Surabaya
Kapan gempa dan di mana tempatnya tidak akan ada yang tahu, hanya orang-orang itu memperkirakan berdasakan sejarahnya saja.
Sebab Lempeng bumi yang ada di selatan Jatim, merupakan lempeng tua.
Maka dari itu, saya berharap, masyarakat tidak paranoid dengan kejadian ini, namun lebih meningkatkan kewaspadaan, sehingga ketika terjadi gempa bisa meminimalisir jatuhnya korban. sem
Editor : Moch Ilham