SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Perjuangan seorang perempuan untuk bangkit dari hubungan rumah tangga yang tidak sehat, menghadapi trauma, hingga melawan stigma sosial menjadi sorotan dalam film drama keluarga Beautiful Pain. Kisah getir yang dialami tokoh Niken ini diperkenalkan melalui acara special screening di XXI Royal Plaza Surabaya, Sabtu (10/10).
Penayangan terbatas produksi Dapur Film tersebut dihadiri sutradara Dmaz Brodjonegoro serta dua pemeran, Baim Wong dan Dimas Aditya. Dalam sesi diskusi seusai pemutaran, mereka mengulas pesan emosional film sekaligus perjuangan perempuan dalam merebut kembali harga diri dan masa depannya.
Film Beautiful Pain menempatkan Niken, yang diperankan Raihaanun, sebagai tokoh utama yang berani keluar dari hubungan rumah tangga penuh konflik bersama suaminya, Dirga, yang diperankan Baim Wong.
Baca juga: Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Hutan Mangrove Seperti TPA
Namun, keputusan meninggalkan hubungan yang tidak sehat bukanlah akhir dari persoalan. Niken justru harus menghadapi kenyataan pahit ketika kehilangan kemapanan ekonomi dan terpaksa memulai hidup dari nol di rumah ibunya.
Sebagai ibu tunggal, Niken harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membesarkan kedua anaknya. Di tengah keterbatasan tersebut, ia juga menghadapi tekanan sosial, penghakiman dari lingkungan sekitar, hingga pelecehan dan fitnah saat berusaha membangun kembali kariernya.
Alih-alih memilih diam, Niken berusaha bangkit dan memperjuangkan hak serta martabatnya. Perjalanan itu menjadi gambaran bahwa luka akibat hubungan yang tidak sehat tidak hanya meninggalkan trauma, tetapi juga menghadirkan perjuangan panjang untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri dan kemandirian.
Sutradara Dmaz Brodjonegoro mengatakan, Beautiful Pain tidak dibuat semata-mata untuk menghadirkan kesedihan. Film ini juga ingin menunjukkan proses seorang perempuan dalam menghadapi trauma dan menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan hidup.
“Realitanya kita ingin memperlihatkan perjuangan seorang perempuan, terutama ibu tunggal. Banyak ketidakadilan yang dialami perempuan di masyarakat kita, mereka disakiti, tapi justru mereka yang paling sulit untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan karena takut dihakimi,” ungkap Dmaz dalam sesi diskusi di XXI Royal Plaza Surabaya.
Baca juga: Daop 8 Layani 9,78 Juta Pelanggan Hingga Triwulan III 2026
Menurutnya, karakter Niken dihadirkan untuk memperlihatkan bahwa pengalaman traumatis dan luka batin merupakan persoalan nyata yang perlu mendapat perhatian. Melalui kisah tersebut, film ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi perempuan yang tengah menghadapi situasi sulit agar merasa didengar dan dikuatkan.
Bagi Baim Wong, memerankan Dirga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus membangun karakter suami yang tindakannya memicu keretakan rumah tangga, tanpa membuat sosok tersebut kehilangan dimensi kemanusiaannya.
“Tantangannya adalah bagaimana menghidupkan karakter Dirga senatural mungkin. Walaupun perbuatannya menyakitkan bagi Niken, harus ada sebab-akibat yang jelas, manusiawi, dan bisa dirasakan oleh penonton,” papar Baim.
Ia juga mengapresiasi arahan Dmaz yang dinilai detail dan terarah. Pendekatan tersebut membantu para pemain membangun dinamika hubungan antarkarakter secara lebih natural di depan kamera.
Apresiasi serupa disampaikan Dimas Aditya. Ia menilai visi penyutradaraan Dmaz telah terlihat sejak tahap lokakarya atau workshop sebelum proses syuting dimulai.
Baca juga: Dewi Pertiwi Jatim Bergerak Lawan Stunting, Bantu Balita di Lakarsantri
“Dari tahap workshop awal, saya tidak pernah melihat Dmaz sebagai sutradara baru karena dia punya visi yang sangat matang. Dia tahu persis apa yang ingin dicapai, pesan apa yang mau disampaikan, dan bagaimana mengeksekusinya,” ujar Dimas.
Didukung Deretan Aktor Lintas Generasi
Film Beautiful Pain diproduseri bersama oleh Hanung Bramantyo dan menandai debut Nikita Mirzani sebagai executive producer. Film ini juga menghadirkan deretan pemain lintas generasi, di antaranya Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Tarra Budiman, Nikita Mirzani, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Sha Ine Febriyanti, Anantya Kirana, dan Evano Zyan.
Mengusung pesan “Fight the Trauma”, Beautiful Pain tidak hanya mengangkat persoalan rumah tangga, tetapi juga menyoroti keberanian untuk bersuara, menghadapi stigma, dan membangun kembali kehidupan setelah mengalami pengalaman traumatis.
Film drama keluarga ini dijadwalkan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai film tersebut dapat diikuti melalui akun media sosial @filmbeautifulpain dan @dapurfilm. Alq
Editor : Redaksi