Takut juga Denda Rp 250 ribu, Tapi tak Ada Razia....

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Keramaian di warung kopi di Ngagel Madya, Rabu (16/9/2020). Meski ada banner himbauan Prokes, tetapi masih ditemukan warga tak patuh Prokes. Sp/Aditya
Keramaian di warung kopi di Ngagel Madya, Rabu (16/9/2020). Meski ada banner himbauan Prokes, tetapi masih ditemukan warga tak patuh Prokes. Sp/Aditya

i

 

 

Melongok Kerumunan Warga Kota Hari Pertama Pembentukan Tim Pemburu Pelanggar Covid-19

 

Gubernur Khofifah, sudah membentuk tim pemburu pelanggar Covid-19. Tapi bagaimana warga kota Surabaya, menyikapinya. Tim wartawan Surabaya Pagi Aditya Putra, Patrik Cahyo dan Septyan Ardianto, memantau Kerumunan di beberapa warung kopi daerah Ngagel Madya, Surabaya, Kebun Bibit dan Manyar Surabaya hingga Posko Operasi Yustisi di daerah Kenjeran hari pertama pembentukan tim pemburu pelanggar Covid-19. Hasilnya, kerumunan ini masih belum tersentuh tim pemburu pelanggar Covid-19.

 

Rabu (16/9/2020) sore, Surabaya Pagi memantau sebuah warung kopi di Ngagel Madya. Ternyata, kondisi warkop ini masih ramai oleh pengunjung. Sebagian besar pengunjung warkop ini malah melepas maskernya, karena memang sedang merokok dan menikmati minuman dan makanan. Namun ada beberapa dari mereka yang tetap memakai maskernya sambil ngobrol dengan pengunjung lainnya.

Salah satu pengunjung bernama Andri, yang sehari-hari memang berada di warkop ini mengaku selalu melepas maskernya saat nongkrong. "Iya ini lepas masker soalnya lagi ngerokok sambil ngopi. Nanti kalau sudah nggak ngerokok pasti dipakai," ujarnya sore itu.

 

Takut dengan Penertiban

Andri yang pekerjaan sehari-harinya sebagai driver ojek online ini mengaku takut jika ada penertiban protokol kesehatan yang sekarang sedang gencar dilakukan oleh tim gugus tugas Covid-19. "Ya takut mas, soalnya kan katanya ada denda 250 ribu kalau nggak pakai masker. Tapi saya ya cek sekitar ada enggak Razia. Kalau ada masker tak pasang lagi," ungkapnya.

Saat ditanya mengenai mengapa nongkrong di warkop yang ramai, dirinya mengaku dirinya memutuskan untuk nongkrong di warkop, karena banyak rekan sesama driver ojol yang berada di tempat yang sama.

Namun dirinya juga mengatakan sebisa mungkin untuk mematuhi protokol kesehatan. Meskipun dalam pantauan Surabaya Pagi, dirinya sedang tidak menggunakan masker saat itu.

"Kalau protokol kesehatan saya ya sebisa mungkin mematuhi. Saya juga bawa hand sanitizer di tas, tadi waktu baru masuk sini ya saya pakai," katanya.

Sementara itu, salah satu penjaga warkop yang tidak mau menyebutkan namanya mengaku hingga saat ini belum ada sidak yang dilakukan oleh aparat keamanan / gugus tugas Covid-19 di warkop yang dijaganya itu.

"Kalau sidak yang masalah denda itu belum pernah, yang kapan hari itu ada tapi bagi-bagi masker sama himbauan buat pakai masker saja," ungkapnya

Namun dirinya menjelaskan jika pihak warkop sudah menyediakan fasilitas untuk cuci tangan, memberi tanda di bangku warkop untuk menjaga jarak antar pengunjung serta poster - poster berisi himbauan untuk wajib memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan lainnya.

 

Tak Dipatuhi

Dari pengamatan Surabaya Pagi, sore kemarin memang benar apa yang dikatakan oleh penjaga warkop tersebut. Namun para pengunjung masih belum bisa mematuhi protokol kesehatan sesuai apa yang tertera dalam poster-poster himbauan tersebut.

Sedangkan, Trotoar di wilayah Kebun Bibit Bratang, ternyata masih terpantau ramai meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19.

Dan di kawasan itu, masih ada beberapa pedagang serta orang yang sedang beristirahat di tempat tersebut. Protokol kesehatan yang diterapkan di wilayah ini juga tidak begitu dipatuhi  oleh masyarakat yang berada disana. Apalagi, minimnya himbauan baik lisan maupun tertulis untuk mematuhi protokol kesehatan membuat masyarakat abai.

Salah satu pembeli es ketan hitam bernama Dedi, mengaku dirinya jarang mampir ke trotoar di wilayah Kebun Bibit Bratang ini. Dirinya tampak menurunkan maskernya saat berada disana.

"Iya ini saya turunkan karena sedang makan. Nanti kalau sudah selesai makan dan ngerokok akan saya pasang lagi," ujarnya kepada Surabaya Pagi, Rabu (16/9/2020).

Warga Manyar Kertoarjo ini mengaku takut jika nantinya tiba-tiba ada petugas atau aparat keamanan yang menertibkan protokol kesehatan. Apalagi saat ini ada sanksi yang diberlakukan oleh gugus tugas Covid-19. "Kalau takut ya takut, tapi kan saya lagi makan. Kalau pakai masker mana bisa masuk makanannya?," bantahnya.

Saat ditanya mengapa dirinya memilih tempat yang lumayan ramai dan memakan makanan itu di tempat dan tidak dibawa pulang, dirinya beralasan karena di wilayah trotoar Kebun Bibit Bratang tersebut lokasinya lumayan sejuk.

Sementara itu, Penjual lontong kupang yang berjualan di lokasi tersebut bernama, Sutoyo mengaku tidak pernah mengingatkan para pengunjung dan pembelinya untuk mematuhi protokol kesehatan. "Mereka seharusnya bisa menjaga dirinya sendiri. Yang penting saya menjaga diri saya sendiri dan mematuhi protokol kesehatan. Dagangan saya juga higienis," ungkapnya.

Saat ditanya mengenai penertiban protokol kesehatan, Sutoyo mengaku dulu sempat ada beberapa kali. Hukuman yang diberikan petugas berupa push up di tempat. "Dulu awal-awal Covid-19 sempat ada, tapi hukumannya push up. Bukan denda," pungkasnya. adt/pat/tyn/cr4/rmc

Berita Terbaru

Lewat Bantuan Beasiswa, Pemkab Dorong Anak Tetap Sekolah di Lumajang

Lewat Bantuan Beasiswa, Pemkab Dorong Anak Tetap Sekolah di Lumajang

Sabtu, 26 Sep 2026 08:35 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 08:35 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Melalui bantuan pendidikan berupa beasiswa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)…

ULTIMA II Hadir di Surabaya, Perkenalkan Inovasi Teknologi CollaSence™ melalui Beauty Exhibition 

ULTIMA II Hadir di Surabaya, Perkenalkan Inovasi Teknologi CollaSence™ melalui Beauty Exhibition 

Sabtu, 26 Sep 2026 08:23 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 08:23 WIB

SURABAYA PAGI, Surabaya – Memahami kebutuhan kulit menjadi salah satu langkah penting dalam menentukan ritual perawatan yang sesuai kebutuhan. Berangkat dari k…

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengungkapkan pembahasan biaya penyelenggaraan ibadah haji 2027 masih berlangsung. S…

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

SurabayaPagi, Bandung — Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta merebut gelar juara beregu Campus League Badminton 2026 - The Nationals setelah m…

Beredar Beras Bantuan Pangan Berubah Warna, Bulog Pastikan Tidak ada Beras Oplosan Seperti yang Diisukan

Beredar Beras Bantuan Pangan Berubah Warna, Bulog Pastikan Tidak ada Beras Oplosan Seperti yang Diisukan

Jumat, 25 Sep 2026 21:08 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:08 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Adanya peredaran beras bantuan pangan yang berubah warna di wilayah Semanding Tuban, langsung ditanggapi oleh Bulog Cabang B…

Pupuk Bersubsidi Jatim Masih Tersisa 557 Ribu Ton, Fraksi PDIP Dorong Pengawasan Ketat

Pupuk Bersubsidi Jatim Masih Tersisa 557 Ribu Ton, Fraksi PDIP Dorong Pengawasan Ketat

Jumat, 25 Sep 2026 20:44 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 20:44 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA - Penyaluran pupuk bersubsidi di Jawa Timur hingga 21 September 2026 baru mencapai 73,64 persen. Dari total alokasi 2.115.951 ton,…