SURABAYAPAGI.com, New York - Selain perang, masa depan PBB sendiri menjadi perhatian dalam pertemuan tahun ini. Sejumlah diplomat dan pejabat yang berbicara kepada Associated Press menggambarkan kondisi dunia sebagai semakin tidak stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Mantan Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood mengatakan organisasi tersebut berada pada titik penting. “PBB benar-benar berada pada titik balik. Tidak diragukan lagi. Tahun lalu kondisinya buruk. Tahun ini tidak jauh lebih baik,” katanya.
Salah satu persoalan yang kembali muncul adalah reformasi Dewan Keamanan PBB. Rusia mengatakan jumlah anggota tetap harus diperluas, tetapi hak veto yang dimiliki lima anggota tetap saat ini harus dipertahankan.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia mendukung reformasi Dewan Keamanan sekaligus perluasan keanggotaan permanen.
“Pada saat yang sama, kami percaya bahwa institusi anggota tetap Dewan Keamanan, serta hak veto, merupakan elemen yang sangat penting dari keseluruhan struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Peskov.
Pernyataan itu berbeda dengan seruan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menginginkan penghapusan keanggotaan permanen dan hak veto. Erdogan telah lama mengkritik struktur Dewan Keamanan karena dinilai tidak mencerminkan komunitas internasional dan tidak mampu mengambil keputusan secara cepat.
Di tengah berbagai perbedaan tersebut, para pemimpin dunia juga menghadapi persoalan lain, mulai dari dampak akal imitasi (AI), krisis iklim, hingga ketidakpastian ekonomi global. Menteri Luar Negeri Slovenia Tone Kajzer mengatakan perubahan hubungan dan aliansi membuat kepentingan negara-negara semakin sulit diselaraskan.
“Dalam hubungan internasional, semuanya berubah: persahabatan berubah dan aliansi berubah. Namun yang tetap adalah kepentingan dan bagaimana menyelaraskan kepentingan tersebut agar kita hidup dalam damai dan bukan dalam konflik permanen,” kata Kajzer. ap, bh,rtr
Editor : Redaksi