SURABAYAPAGI.com, Batu - Menindaklanjuti permasalahan sampah di Kota Batu tidak melulu berupa limbah fisik yang berserakan di jalanan mulai dari baliho dan spanduk (banner) usang, tata letak iklan yang semrawut, hingga corat-coret liar (vandalisme) di tembok fasilitas umum menjadi persoalan yang merusak estetika wajah kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu kini menangani persoalan tersebut secara berimbang dari dua sisi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, mengatakan bahwa penataan tersebut menjadi bagian dari momentum Hari Kebersihan Sedunia (World Cleanup Day/WCD) di Kota Batu. Gerakan kebersihan tidak hanya menyasar sampah fisik, melainkan juga sampah visual yang selama ini masih marak ditemui di jalan-jalan protokol.
Sebanyak delapan titik telah ditetapkan sebagai ruang kreatif yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku seni, termasuk seniman mural, meliputi Hutan Kota Bondas, Alun-Alun Kota Batu, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM, Pasar Induk Among Tani, Galeri Raos, Panggung Sendratari Arjuno Wiwaha, Batu Tourism Center (BTC), serta Lippo Plaza Batu.
“Selain bersih-bersih sampah fisik, kami juga menyasar sampah visual dan sampah periklanan (advertising). Kadang ada spanduk yang sudah lapuk masih menempel. Kemudian, sampah visual juga mencakup aksi vandalisme yang sering kita temui di beberapa titik jalan protokol. Ini sekaligus menjadi penanda bahwa Pasar Induk Among Tani menjadi ruang kreatif yang menggandeng kawan-kawan pemilik potensi di industri kreatif seni rupa,” ujar Dian, Minggu (27/09/2026).
Namun, keberadaan ruang kreatif tersebut bukan berarti bebas digunakan tanpa aturan baku. Dian menegaskan bahwa pemerintah tetap melakukan pengawasan ketat, terutama karena sebagian besar lokasi tersebut merupakan aset milik Pemkot Batu.
Ruang kreatif yang disiapkan juga tidak seluruhnya diperuntukkan bagi seni mural. Setiap lokasi memiliki peruntukan karakter seni yang berbeda. Salah satunya Panggung Sendratari Arjuno Wiwaha yang khusus diarahkan sebagai wadah pertunjukkan seni dan budaya. bt-01/dsy
Editor : Redaksi