SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Pesantren tak cukup hanya kuat dalam dakwah dan pendidikan. Kemandirian ekonomi juga dinilai menjadi fondasi penting agar pesantren mampu berdiri kokoh, meningkatkan kesejahteraan guru dan santri, sekaligus memperluas kemaslahatan bagi masyarakat.
Semangat itulah yang digaungkan Perekonomian Sunan Drajat (Perkom) melalui Forum Bisnis Pesantren Nusantara yang mempertemukan sekitar 200 pesantren, baik dari jaringan Sunan Drajat maupun pesantren umum.
Forum tersebut digelar di Hall Toserba Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus membuka jejaring bisnis antarpesantren. Keberhasilan Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam mengembangkan berbagai unit usaha perekonomian diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pesantren lain untuk membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan misi utama pesantren dalam dakwah dan mencetak sumber daya manusia yang unggul serta berakhlak.
Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, KH Abdul Ghofur, dalam kesempatan tersebut mengajak para kiai dan bu nyai untuk belajar membangun kemandirian ekonomi dari Sunan Drajat.
Menurutnya, semangat membangun ekonomi umat merupakan bagian penting dari perjuangan para wali.
"Sudah selayaknya para Kiai dan Bu Nyai belajar kemandirian ekonomi dari Sunan Drajat. Beliau adalah wali yang bertugas menata ekonomi umat," ujar KH Abdul Ghofur.
Ia menegaskan, pesantren harus memiliki kemampuan ekonomi sendiri, agar tidak selalu bergantung pada bantuan pihak lain.
"Dengan ekonomi yang mandiri, pesantren tidak akan menjadi wong sing jalukan (yang suka meminta-minta)," tegasnya.
Pesantren Jangan Hanya Kirim Proposal
Direktur Utama Perekonomian Sunan Drajat, Gus Anas Alhifni, juga menekankan pentingnya pesantren memiliki sumber-sumber ekonomi produktif.
Menurutnya, kemandirian ekonomi bukan semata-mata bertujuan mendapatkan keuntungan.
Lebih dari itu, ekonomi pesantren harus mampu menghadirkan kemaslahatan bagi umat, dan meningkatkan kesejahteraan seluruh ekosistem pesantren.
"Pesantren wajib mandiri. Sebab dari kemandirian itulah akan muncul kemaslahatan untuk umat dan kesejahteraan untuk para ustaz, guru hingga para santri," ujarnya.
Gus Anas mengingatkan agar pesantren tidak membangun pola ketergantungan terhadap bantuan."Jangan jadi pesantren yang hobinya hanya kirim proposal ke kanan dan ke kiri," tandasnya.
Ia mendorong pesantren mulai memetakan potensi yang dimiliki, baik berupa sumber daya manusia, aset, jaringan alumni maupun potensi usaha di lingkungan pesantren.
Dengan pengelolaan yang profesional, kata dia, pesantren bukan hanya mampu membiayai kebutuhan internal, tetapi juga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Budaya Spiritual dan Profesionalitas
Menariknya, kemandirian ekonomi yang dikembangkan Perekonomian Sunan Drajat tidak dilepaskan dari budaya spiritual.Dalam aktivitas keseharian, para karyawan Perekonomian Sunan Drajat dibiasakan mengawali aktivitas dengan membaca Surat Al-Waqiah. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keseimbangan antara ikhtiar ekonomi, profesionalitas kerja dan nilai-nilai spiritual.
Sementara itu, Deputi Ekonomi dan Keuangan Syariah Kantor Pusat Bank Indonesia, Dwi Putra Indrawan, turut hadir dalam forum yang digelar Perekonomian Sunan Drajat tersebut.
Kehadiran Bank Indonesia semakin memperkuat pesan bahwa pengembangan ekonomi pesantren membutuhkan kolaborasi, penguatan kapasitas usaha, serta jejaring ekonomi syariah yang lebih luas.
Forum Bisnis Pesantren Nusantara pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertemuan semata. Pertemuan ratusan pesantren tersebut, menjadi momentum untuk membangun ekosistem bisnis pesantren yang saling terhubung, saling menguatkan dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu tampil sebagai kekuatan ekonomi umat yang mandiri, profesional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.jir
Editor : Redaksi