Data Korban PHK Serikat Pekerja dengan Kemenaker Berbeda 12 Ribu

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi menilai angka PHK yang sebenarnya dapat lebih besar dibandingkan data yang tercatat. Ia mengatakan data yang dimiliki organisasinya hingga akhir Agustus berada di kisaran 41.200 pekerja. "Kalau soal data PHK ya, kami data PHK-nya kalau sampai Agustus ya, akhir Agustus itu memang lebih sedikit. Yaitu sekitar 41.200-an kalau nggak salah," kata Ristadi.

Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan angka PHK sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 53 ribu orang. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut lonjakan PHK tidak semata-mata disebabkan melemahnya daya beli.

Menurut Said, setidaknya terdapat empat faktor yang mendorong PHK. Pertama, salah satu penyebab besarnya adalah berkurangnya pesanan dari pembeli atau buyer internasional akibat kondisi global yang kurang baik.

"Beberapa perusahaan yang saya datang itu penyebab daripada PHK karena si buyer yang memberi pekerjaan ke perusahaan tekstil, itu menghentikan ordernya. Karena apa? Karena situasi global yang kurang baik," kata Said saat dihubungi detikcom, Sabtu (26/9/2026).

"Ada perang, kemudian permintaan di pasar internasional menurun, dan juga daya beli masyarakat internasional menurun. Kalau penyebab seperti ini, yaitu menurunnya daya beli internasional dan adanya perang, kan nggak bisa dihindari. Karena order itu berasal dari internasional," sambung dia.

Kondisi tersebut terutama dirasakan industri garmen, tekstil, dan alas kaki yang memproduksi barang untuk merek-merek global. PHK banyak terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, kemudian sebagian di Banten.

Faktor kedua, yang menekan perusahaan adalah kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga energi dan bahan baku. Pelemahan rupiah juga menjadi tekanan bagi industri yang masih menggunakan bahan baku impor.

Perusahaan harus membeli bahan baku menggunakan dolar AS, sementara sebagian produknya dijual dalam rupiah di pasar domestik. Kondisi ini membuat ongkos produksi naik sehingga berujung pada efisiensi.

"Jadi begitu mereka beli pakai dolar, menjualnya pakai rupiah untuk pasar domestik. Itu memukul juga. Akhirnya cost produksi naik, cost produksi naik, kost produksi naik, maka mereka melakukan efisiensi," jelasnya.

Faktor ketiga adalah melemahnya daya beli masyarakat di dalam negeri yang terjadi bersamaan dengan masuknya produk impor, terutama dari China. Menurut Said, kondisi tersebut membuat produk dalam negeri semakin tertekan karena konsumen cenderung memilih barang dengan harga lebih murah.

"Akhirnya perusahaan-perusahaan di Indonesia yang pasarnya untuk domestik kepukul. Akhirnya melakukan efisiensi PHK. Itulah faktor-faktor PHK," ujarnya.

PHK Kisaran 41.200 Pekerja

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi menilai angka PHK yang sebenarnya dapat lebih besar dibandingkan data yang tercatat. Ia mengatakan data yang dimiliki organisasinya hingga akhir Agustus berada di kisaran 41.200 pekerja. "Kalau soal data PHK ya, kami data PHK-nya kalau sampai Agustus ya, akhir Agustus itu memang lebih sedikit. Yaitu sekitar 41.200-an kalau nggak salah," kata Ristadi.

Menurutnya, angka tersebut lebih rendah karena jangkauan pendataan serikat pekerja terbatas pada perusahaan anggota dan sebagian kecil perusahaan nonanggota. Sementara Kemenaker memiliki jangkauan pendataan lebih luas hingga kabupaten/kota.

Ristadi mengatakan penyebab PHK yang banyak ditemukan tidak jauh berbeda, yakni penurunan pesanan dan semakin ketatnya persaingan dengan produk impor. Ia secara khusus menyoroti produk asal China yang memiliki harga lebih murah.

"Penyebab utamanya, sepanjang yang kami ketahui dari data yang masuk kami itu, terutama karena menurunnya order pesanan atau kemudian produk yang dibikin itu kurang laku karena kalah dengan barang dari luar itu, terutama dari China," katanya. ec/he

Berita Terbaru

Kasih Karunia : Yesus sebagai Hakim

Kasih Karunia : Yesus sebagai Hakim

Senin, 28 Sep 2026 08:28 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:28 WIB

​Mazmur 94:2: “Bangunlah, ya Hakim bumi, balaslah kepada orang-orang congkak apa yang hak!” ​Melalui perumpamaan-Nya (seperti kisah Hakim yang Lalim dalam …

Kerangka Manusia di Tengah Lahan Tebu, Bikin Geger Warga Lamongan

Kerangka Manusia di Tengah Lahan Tebu, Bikin Geger Warga Lamongan

Senin, 28 Sep 2026 08:23 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan — Misteri menyelimuti kawasan Hutan Petak 23 A, Desa Tenggerejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Kerangka manusia d…

4 Wakil ke Semifinal Bulu Tangkis Perorangan

4 Wakil ke Semifinal Bulu Tangkis Perorangan

Senin, 28 Sep 2026 08:20 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Indonesia meloloskan empat wakil ke babak semifinal bulu tangkis perorangan Asian Games 2026 setelah melalui babak perempat final…

KPK Sita Uang Ratusan Juta Rupiah

KPK Sita Uang Ratusan Juta Rupiah

Senin, 28 Sep 2026 08:17 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:17 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang ratusan juta rupiah saat menggeledah kantor wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan…

Diduga, Sejumlah Kantor Pertanahan di Jatim Setor ke Oknum BPN Jatim

Diduga, Sejumlah Kantor Pertanahan di Jatim Setor ke Oknum BPN Jatim

Senin, 28 Sep 2026 08:15 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga sejumlah Kantor Pertanahan (Kantah) di wilayah Jawa Timur melakukan setoran ke oknum…

15 Ijin BPR Dicabut OJK

15 Ijin BPR Dicabut OJK

Senin, 28 Sep 2026 08:10 WIB

Senin, 28 Sep 2026 08:10 WIB

​SURABAYAPAGI.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencabut izin usaha 15 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) maupun BPR Syariah hingga September 20…