SurabayaPagi, Surabaya – Rak-rak di Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy Surabaya tidak hanya berisi makanan ringan, sambal, kerupuk, minuman, atau kerajinan tangan. Di balik produk yang tersusun, ada cerita tentang usaha rumahan yang sedang mencari pembeli, pelaku usaha yang berusaha menjaga kualitas, hingga produsen kecil yang mencoba memperbesar kapasitas produksinya.
Pada April 2026, Kementerian Perdagangan mencatat sekitar 10.000 produk dari 800 UMKM dipasarkan melalui Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy. Produk tersebut berasal dari berbagai kategori, mulai makanan, minuman hingga kerajinan. Sebagian di antaranya bahkan disebut telah menjangkau pasar ekspor.
Angka itu memberi gambaran bahwa sebuah ruang penjualan bisa menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah usaha.
Akan tetapi, keberadaan produk di rak bukan akhir dari perjalanan. Bagi UMKM, persoalan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kualitas, mengelola modal, membaca perubahan pasar, dan membuat usaha tetap berjalan ketika biaya produksi berubah.
Provinsi Jawa Timur sendiri memiliki basis UMKM yang besar. Berdasarkan data BPS yang menggunakan Sensus Ekonomi 2016 dan SUTAS 2018, jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai sekitar 9,78 juta unit. Sementara data lengkap Kementerian Koperasi dan UKM periode 2022–2024 mencatat sekitar 2,58 juta unit usaha.
Kedua angka tersebut berasal dari sumber dan metode pendataan yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung. Namun, keduanya menunjukkan satu hal: Jawa Timur memiliki basis usaha masyarakat yang sangat besar.
Tantangannya kemudian bukan sekadar menambah jumlah pelaku usaha.
Ketika Jumlah Besar Harus Diikuti Kualitas
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa mengatakan persoalan yang dihadapi pelaku UMKM cukup beragam.
“Tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh pelaku UMKM di Jawa Timur memang sangat kompleks dan bervariasi seiring dengan upaya mendorong jutaan pelaku usaha nonpertanian di wilayah tersebut untuk bisa naik kelas," ujarnya.
Berdasarkan perhitungan nilai tambah KUMKM 2025, permodalan menjadi hambatan terbesar dengan porsi 26,4 persen.
Setelah itu terdapat persoalan daya saing 21 persen, bahan baku 17,1 persen, pemasaran 7,3 persen, tenaga kerja 5,9 persen, teknologi 5 persen, serta sejumlah persoalan lain seperti distribusi, perizinan dan kapasitas usaha.
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan UMKM tidak berdiri sendiri. Produk yang bagus belum tentu cukup jika modal terbatas. Modal juga tidak otomatis membuat usaha berkembang jika pelaku usaha belum mampu menjaga kualitas, menguasai teknologi, atau menemukan pasar yang sesuai.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Atik Purmiyati melihat persoalan UMKM Jawa Timur juga perlu dilihat dari sisi produktivitas dan nilai tambah.
“Persoalannya bukan lagi pada jumlah UMKM, tetapi pada kemampuan mereka meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan daya saing,” katanya.
Atik menjelaskan bahwa pelaku usaha masih menghadapi persoalan pembiayaan, digitalisasi, standardisasi produk, pengembangan pasar hingga keterhubungan dengan rantai pasok yang lebih luas.
“Jumlah UMKM yang besar belum otomatis menunjukkan bahwa seluruhnya telah memiliki kapasitas untuk berkembang dan naik kelas,” ujarnya.
Di titik inilah kisah Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy menjadi menarik. Bukan karena satu toko dapat menyelesaikan seluruh persoalan UMKM, melainkan karena dari sebuah tempat penjualan dapat terlihat bagaimana kualitas sebuah produk menentukan apakah usaha bisa bertahan lebih lama.
Bu Rudy dan Ujian Sebuah Produk
Lanny Siswandi, yang lebih dikenal masyarkat sebagai Bu Rudy, mengatakan produk yang masuk ke tempatnya tidak bisa dilepaskan dari persoalan kualitas dan legalitas.
Produk harus memenuhi ketentuan yang berlaku. Untuk usaha kecil terdapat kebutuhan perizinan seperti PIRT, sementara produk tertentu membutuhkan izin BPOM. Produk yang dijual juga harus memiliki sertifikasi halal.
“Sebagai pusat oleh-oleh yang menampung produk dari ratusan UMKM Jawa Timur, saya menerapkan standardisasi ketat untuk memastikan kenyamanan konsumen Muslim dan Non Muslim,” Kata Lanny.
Bagi Lanny, menjaga kualitas bukan pekerjaan yang telah usai ketika produk sudah diterima dan dipajang.
“Selama ini kita selalu berkomuniksai kepada pelaku UMKM agar terus menjaga standart produk mereka, hal ini dilakukan agar nantinya konsumen tidak komplain kepada kami tentang kualitas produk,” ujarnya.
Ia bahkan mengingatkan pelaku usaha agar tidak mengejar keuntungan dengan mengorbankan konsumen.
“Saya bilang, ‘Ayo kita jaga bersama-sama. Jangan mencari hanya keuntungan sendiri sampai konsumen dirugikan.’ Itu menurut saya tidak etis. Jadi UMKM harus menjaga produk masing-masing,” katanya.
Prinsip tersebut tidak selalu mudah diterapkan. Terutama ketika harga bahan baku naik.
Lanny mencontohkan harga cabai yang dalam kondisi tertentu bisa mencapai Rp150.000 hingga Rp200.000 per kilogram. Bagi pelaku usaha kuliner, kenaikan harga bahan baku memunculkan pilihan sulit: menaikkan harga, mengurangi porsi atau kualitas, atau menanggung penurunan keuntungan.
“Dalam dunia kuliner, rasa adalah fondasi utama. Ketika harga bahan baku seperti cabai melonjak tajam, banyak pelaku usaha menghadapi dilema besar: menaikkan harga, mengurangi porsi/kualitas, atau menanggung penurunan keuntungan sementara agar tidak mengurangi cita rasa,” ujarnya.
Lanny mengungkapkan bahwa mengganti bahan baku berkualitas dengan bahan yang lebih murah hanya demi menekan biaya produksi justru dapat menjadi masalah.
“Mengganti bahan baku berkualitas tinggi dengan alternatif yang lebih murah demi menekan biaya produksi adalah salah satu kesalahan paling fatal dalam bisnis kuliner,” katanya.
Pengalaman hampir 33 tahun membuat Lanny melihat bahwa mempertahankan usaha membutuhkan kemauan untuk terus belajar.
“Selama hampir 33 tahun, saya tetap terus berinovasi, belajar dari produk lain yang lebih bagus dan mengembangkan produk saya agar terus meningkat. Dan saya tularkan ke para pelaku UMKM yang ada disini, agar mereka juga turut berkembang,” ujarnya.
Ketika Usaha Mulai Maju
Masalah UMKM tidak berhenti pada kualitas produk. Setelah produk mampu diterima pasar, kebutuhan berikutnya adalah memperbesar usaha.
Permodalan menjadi salah satu persoalan yang paling sering muncul. Data Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur menempatkan modal sebagai hambatan terbesar dengan porsi 26,4 persen.
Lanny melihat pembiayaan dapat menjadi salah satu jalan bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas.
“UMKM kan ingin membesarkan usahanya. Produk UMKM yang berhasil masuk ke jaringan retail Depot & Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy mendapatkan nilai tambah berupa creditworthiness (kelayakan kredit) yang lebih baik di mata perbankan,” katanya.
Di luar pembiayaan, digitalisasi juga membuka ruang baru. Lanny mengakui dirinya tidak terlalu menguasai teknologi digital. Namun, ia melihat platform digital dapat membantu produk dikenal lebih luas.
Disamping itu, Atik menjelaskan bahwa digitalisasi memang perlu berjalan bersama dengan penguatan kemampuan produksi, standardisasi dan pengembangan pasar. Kebijakan UMKM, menurutnya, tidak cukup hanya membuat pelaku usaha bertahan.
“Kebijakan pemberdayaan perlu diarahkan tidak hanya agar UMKM mampu bertahan, tetapi juga mendorong mereka menjadi lebih produktif, kompetitif, dan mandiri,” katanya.
Artinya, ukuran kemajuan bukan sekadar apakah sebuah produk berhasil dijual. Ada pertanyaan berikutnya: apakah produksinya bertambah, apakah kualitasnya konsisten, apakah pengelolaannya semakin baik, dan apakah pasar yang dilayani semakin luas.
Belajar Agar Tidak Berhenti
Meski bisnisnya telah berkembang, Lanny mengaku hingga saat ini dirinya tetap memilih untuk turun langsung ke lapangan guna memantau bahan yang berkualitas.
“Meskipun Bu Rudy memiliki banyak karyawan, saya memilih untuk tetap turun langsung ke lapangan setiap hari demi memastikan standar benar-benar dijalankan,” ujar Lanny.
Ia juga masih melakukan pengamatan terhadap perubahan selera konsumen.
“Saya kadang memanggil teman, ‘Ayo, Tri, nang pasar yo, ndelok-ndelok, barang opo sing iso didol?’ Itu perlu. Makanya di Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy kadang mengalami perubahan menu,” ungkapnya.
Pada usia 73 tahun, ia masih datang ke pasar tradisional untuk memilih bahan baku.
“Di usia saya yang sudah 73 tahun ini, saat sebagian besar orang memilih untuk pensiun, saya tetap memilih untuk turun langsung ke pasar tradisional guna menyeleksi bahan baku sendiri,” ujarnya.
Cara belajar seperti itu juga berlaku ketika melihat pesaing.
“Meskipun sudah besar seperti saat ini, saya tidak gengsi untuk belajar dari kompetitor untuk meniru hal baik,” katanya.
Bagi UMKM, kemampuan membaca perubahan menjadi bagian penting dari keberlanjutan. Pasar berubah, biaya berubah, selera konsumen berubah. Usaha yang tidak ikut belajar akan lebih sulit mempertahankan pelanggan.
Namun, keberlanjutan juga berarti tidak bergantung pada satu sumber penjualan.
Lanny mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya mengandalkan Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy.
“UMKM jangan hanya mengandalkan Pusat Oleh-Oleh Bu Rudi saja, mereka harus jeli melihat setiap peluang yang ada disekitar agar pelaku UMKM dapat terus bertahan,” ujarnya.
Ketika Koperasi Menjadi Jalan Bersama
Persoalan modal, bahan baku, distribusi dan pemasaran juga menunjukkan bahwa tidak semua UMKM dapat menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri.
Di sinilah koperasi memiliki ruang untuk memainkan peran yang lebih luas. Koperasi tidak hanya dapat dipahami sebagai tempat simpan pinjam, tetapi juga sebagai wadah usaha bersama untuk memperkuat posisi pelaku usaha.
Jika kebutuhan bahan baku dapat dibeli secara kolektif, misalnya, pelaku usaha memiliki peluang memperoleh harga dan pasokan yang lebih terukur. Hal serupa dapat dilakukan dalam pembiayaan, distribusi, pemasaran, hingga pengembangan produk.
Model kolektif semacam itu penting terutama bagi UMKM yang secara individual memiliki skala kecil. Ketika kebutuhan dan kepentingan mereka dihimpun, posisi tawar terhadap pemasok maupun pasar dapat menjadi lebih kuat.
Dengan begitu, koperasi dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari perjalanan UMKM: membantu usaha kecil bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang.
Atik menilai penguatan UMKM memang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Yang paling mendesak adalah membangun ekosistem usaha yang memungkinkan UMKM berkembang secara berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi, dunia usaha, koperasi, lembaga keuangan, dan komunitas juga harus mengambil peran yang lebih nyata dalam memperkuat kapasitas dan membuka akses pasar bagi UMKM.
Dari Produk ke Perputaran Ekonomi
Ketika satu produk UMKM terjual, perputaran uang tidak berhenti pada pemilik usaha.
Ada bahan baku yang harus dibeli. Ada pekerja yang menerima upah. Ada kemasan yang diproduksi. Ada pengiriman yang harus dibayar. Ada pedagang atau tempat penjualan yang menjadi penghubung dengan konsumen.
Rangkaian tersebut membuat UMKM memiliki posisi penting dalam perekonomian daerah.
Pemerintah Jawa Timur menargetkan kontribusi UMKM terhadap PDRB Jawa Timur mencapai 60,11 persen pada 2026 dan 60,23 persen pada 2029. Target tersebut menunjukkan besarnya harapan terhadap sektor usaha masyarakat dalam menopang perekonomian daerah.
Akan tetapi, angka kontribusi ekonomi pada akhirnya kembali pada kemampuan usaha di tingkat paling bawah untuk terus hidup.
Karena itu, menjadi unggul tidak cukup hanya dengan memiliki produk. Ada kualitas yang harus dijaga, legalitas yang harus dipenuhi dan menjaga kepercayaan dari konsumen.
Menjadi maju berarti usaha memiliki kemampuan untuk tumbuh: memperoleh modal, memperbaiki pengelolaan, menggunakan teknologi, meningkatkan produksi dan mencari pasar baru.
Sedangkan berkelanjutan berarti mampu melewati perubahan tanpa kehilangan fondasi usaha. Harga bahan baku boleh berubah. Selera konsumen bisa bergeser. Persaingan semakin terbuka. Tetapi usaha tetap memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri.
Lanny menyebut prinsip itu dengan sederhana.
“Misalnya hari ini rugi satu, tidak masalah. Besok jangan diulang lagi. Pasti ada keuntungan lagi. Jangan hari ini sudah tahu kualitas jelek tetap dijual, itu malah membuat perusahaan semakin hancur,” ujarnya.
Dan ketika berbicara tentang UMKM yang tumbuh bersama, ia tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya pihak yang harus berhasil.
“Saya tidak pelit menebarkan ilmu supaya mereka juga bisa hidup seperti Bu Rudi. Saya selalu ngomong, ‘Ayo, Bu, maju bersama Bu Rudi. Jangan Bu Rudi saja yang sukses, Ibu harus sukses.’ Itu misi saya,” ungkapnya.
Pada akhirnya, cerita tentang UMKM Jawa Timur tidak hanya berada pada angka jutaan pelaku usaha atau ribuan produk yang memenuhi rak.
Ia terlihat dari produk yang tetap diproduksi ketika harga bahan baku naik. Dari pelaku usaha yang belajar memperbaiki kemasan. Pemilik usaha yang mencari pembiayaan untuk menambah kapasitas. Peran koperasi yang bisa menghimpun kebutuhan anggotanya. Dan dari konsumen yang kembali membeli karena percaya pada kualitas.
Dari sebuah rak, sebuah produk mungkin hanya terlihat sebagai barang yang menunggu dibeli.
Tetapi di belakangnya ada usaha, pekerja, bahan baku, modal, pembelajaran dan perputaran ekonomi yang terus bergerak.
Di sanalah perjalanan UMKM dari sekadar bertahan menuju usaha yang unggul, maju dan berkelanjutan benar-benar diuji. ARL
Editor : Redaksi