SURABAYAPAGI.com, Madiun - Menindaklanjuti kapasitas TPA Winongo yang semakin terbatas (overload), membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun mulai mencari jalan baru, yakni memperluas lahan tempat pembuangan akhir atau menggunakan teknologi incinerator.
Adanya dua opsi tersebut muncul dari hasil kajian yang telah dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga. Sehingga, saat ini kedua opsi tersebut masih ditelaah untuk menentukan skema yang paling memungkinkan diterapkan di TPA Winongo. “Sudah dilakukan kajian. Ada dua plan. Pertama kaitannya dengan perluasan, yang kedua pola penyelesaian menggunakan insinerator yang sudah direstui kementerian,” jelas Ketua Komisi III DPRD Kota Madiun Nur Salim, Senin (12/10/2026).
Sementara itu, berdasarkan hasil program pengurangan sampah yang saat ini dijalankan DLH turut menjadi bahan pertimbangan. Volume sampah yang dibuang ke TPA Winongo diklaim mulai berkurang. Namun, dinilai belum optimal. Karena itu, pihakya meminta berbagai kendala teknis di lapangan dievaluasi.
Sedangkan salah satu yang menjadi perhatian adalah efektivitas pengurangan sampah dari tingkat lingkungan. RDP tersebut turut mengupas target zero waste 2027. Namun, legislatif meminta program yang telah disusun benar-benar direalisasikan dan tidak berhenti pada perencanaan.
Komisi III juga menyoroti program bantuan Rp 10 juta per RT yang salah satunya diarahkan untuk mendukung pengelolaan lingkungan. Pelaksanaan program tersebut disebut masih berjalan secara bertahap. Dan berharap dukungan pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan dapat dioptimalkan untuk menekan volume sampah yang berakhir di TPA Winongo.
“Secara prinsip sudah terkawal. DLH juga mendorong agar pada 2027 program ini tetap ditindaklanjuti untuk optimalisasi capaian,” pungkas Nur Salim. md-01/dsy
Editor : Redaksi